http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/08/10/OPI/mbm.20090810.OPI131105.id.html

25/XXXVIII 10 Agustus 2009

Tamatkah Noordin?

PENGGEREBEKAN di Temanggung itu diyakini telah menewaskan buron kakap yang 
paling dicari polisi lebih dari tujuh tahun. Kuat diduga, yang tewas setelah 
serangan bom dan siraman peluru polisi itu adalah Noor Din M. Top, gembong 
teroris asal Malaysia. Kalau benar, ini prestasi besar: seorang yang 
bertanggung jawab atas serangkaian pengeboman di pelbagai tempat di Tanah Air, 
termasuk ledakan di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta pada 17 Juli 
lalu, telah dilenyapkan. 

Ada yang istimewa melengkapi kerja polisi sekali ini. Drama penyerbuan dibuat 
sangat "dekat" dengan pemirsa televisi, berkat kerja sama polisi dan pengasuh 
stasiun televisi swasta. Siaran langsung televisi itu sangat berbeda dengan 
penyergapan hampir empat tahun lalu, ketika tim detasemen antiteror menembaki 
pentolan Jamaah Islamiyah yang pakar perakit bom, Doktor Azahari, di sebuah 
perumahan di Batu, Jawa Timur. Bisa dibayangkan betapa hebat dampak lonjakan 
rating dua stasiun televisi swasta itu berkat tayangan langsung selama 
berjam-jam. 

Drama mengerikan itu seakan menjadi tontonan mengasyikkan. Detik-demi detik 
penyergapan bisa disaksikan sambil menyeduh kopi dan mengunyah keripik 
singkong. Tampak sejumlah polisi berseragam hitam-hitam menggunakan tameng, 
melemparkan tiga bom berdaya ledak rendah, serta memberondongkan tembakan lewat 
senapan laras panjang dan pistol. Ini liputan tanpa tipuan kamera dan tanpa 
sensor. 

Transparansi ini tak boleh berhenti sampai di sini. Liputan itu tentunya bukan 
untuk menyenangkan polisi semata, karena sukses melumpuhkan seorang pria yang 
dikabarkan ketika dikepung dan luka-luka di dalam rumah masih sempat menjawab 
pertanyaan polisi, "Ya, saya Noor Din Top." Pembuktian bahwa si lelaki 
benar-benar Noor Din semestinya dibuat segamblang tayangan luar biasa itu. 
Pengungkapan identitas korban kini justru menjadi pusat pertanyaan jutaan 
pemirsa. 

Banyak yang percaya kasus ini ujungnya adalah happy ending jika nanti polisi 
mengumumkan secara meyakinkan hasil uji DNA bahwa yang tewas benar Noor Din M. 
Top. Kalau hasil uji genetis kelak menunjukkan lain, kenyataan itu tak 
mengecilkan nilai kinerja polisi dalam menumpas terorisme. Penghargaan 
setinggi-tingginya patut kita berikan kepada polisi. 

Sudah tepat sikap Kepala Kepolisian RI Jenderal Bambang Hendarso Danuri, yang 
dalam konferensi pers beberapa jam setelah kejadian, tidak buru-buru memastikan 
bahwa jasad tewas adalah Noor Din. Kepala Polri mestinya juga memberikan 
penjelasan menyeluruh ketika menyebutkan bahwa beratus kilogram bom yang 
ditemukan di Bekasi akan dipakai teroris untuk meledakkan Istana Negara atau 
rumah pribadi Presiden Yudhoyono di Cikeas. Jika begitu adanya, ini berarti 
lahir motif baru bagi kelompok Noor Din, yang selama ini hanya menyerang 
properti atau warga Amerika Serikat dan negara yang dianggap bersekutu dengan 
AS. Motif baru itu sekaligus menimbulkan pertanyaan baru, karena selama ini 
bukanlah tipikal teroris itu untuk menyerang orang per orang. 

Temuan lebih jauh di lapangan nanti diharapkan memecahkan "misteri" ini. 
Sekarang biarlah perkara itu diselesaikan aparat penyidik. Bahwa kelak 
ditemukan benang merah antara penangkapan di Bekasi dan kekhawatiran Presiden 
Yudhoyono yang pernah menuduh bahwa ada pihak tertentu yang menjadikan dirinya 
sebagai sasaran tembak, itu perlu diungkapkan seterang-terangnya. Bekerja 
sekerasnya di lapangan mestinya menjadi prioritas utama polisi. Itu akan 
menghindarkan polisi dari tuduhan sekadar mencocok-cocokkan potongan puzzle 
yang masih hilang: hubungan antara teror bom dan hasil pemilu serta serangan 
terhadap Presiden. 

Sembari menunggu hasil kerja polisi, ada baiknya dipahami, seandainya pun Noor 
Din yang tewas di Temanggung, bukan berarti ancaman terorisme telah berakhir. 
Tewasnya "Noor Din", terbunuhnya dua orang di Jatiasih, dan identifikasi dugaan 
pelaku pengeboman Mega Kuningan bernama Dani dan Nana, boleh jadi akan 
menurunkan eskalasi teror itu dalam jangka pendek. 

Dalam jangka panjang, ancaman itu masih menganga. Harus diingat, jaringan Noor 
Din sudah tersebar ke seantero negeri ini, lewat sistem sel rahasia, dengan 
merekrut sejumlah kader-dikenal dengan "pengantin bunuh diri". Mereka siap 
"berjihad" dan mati "syahid" lewat modus bom bunuh diri. Bukan mustahil 
orang-orang yang seide dengan Azahari, Noor Din, Imam Samudra, dan lainnya 
masih banyak yang beroperasi. 

Ingat Dulmatin alias Amar Usmanan atawa Joko Pitono? Teroris yang dihargai US$ 
10 juta ini masih beredar entah di mana. Pria asal Pemalang, Jawa Tengah, ini 
sudah tiga kali diberitakan tewas tertembak militer Filipina, tetapi nihil 
hasilnya setelah dicek. Ia konon pernah belajar meracik bom di kamp-kamp 
Al-Qaidah di Afganistan dan berperan penting dalam bom Bali pada 2002. Umar 
Patek alias Abu Syeikh juga belum tertangkap. Artinya jelas, teror belum tamat.

Kirim email ke