http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/08/10/NAS/mbm.20090810.NAS131096.id.html

25/XXXVIII 10 Agustus 2009

Berebut Jadi Sopir Mercy
Empat kader berebut posisi Ketua Umum Partai Golkar. Fulus tetap nomor satu.

SUARANYA parau, matanya merah. Telepon genggamnya tak henti berdering: kadang 
menerima panggilan, sebentar kemudian ganti menelepon. "Hingga larut malam saya 
tak bisa tidur," kata Ridwan Hisjam, bekas Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai 
Golkar Jawa Timur, Jumat pekan lalu. "Saya gelisah setelah mendeklarasikan diri 
sebagai kandidat Ketua Umum Golkar." 

Nama Hisjam nyaris tak mencuat sebagai kandidat ketua menjelang pelaksanaan 
Rapat Pimpinan Nasional Partai Golkar, yang digelar pertengahan pekan ini. 
Denyut pertarungan lebih terasa di antara tiga sosok elite Golkar: Surya Paloh 
(Ketua Dewan Penasihat), Aburizal Bakrie (anggota Dewan Penasihat), dan Yuddy 
Chrisnandi (salah satu ketua). Ia mungkin kandidat penggembira, meski bukan tak 
bisa menjelaskan apa yang terjadi di tubuh Beringin. "Kultur yang dibangun 
dalam pemilihan ketua Golkar adalah mobilisasi," katanya. 

Untuk bisa menggalang dukungan, seorang kandidat harus punya uang. "Ibarat 
mobil, Golkar ini sedan Mercy." Harganya mahal, bensinnya boros. "Saat ini yang 
punya bensin memang Pak Aburizal Bakrie," kata Hisjam lagi. 

Sumber Tempo menjelaskan, sejatinya tak ada lagi pertarungan di tubuh Golkar. 
Semua pengurus Golkar tingkat provinsi dan kabupaten/kota lebar membuka pintu 
buat Ical, demikian Aburizal Bakrie biasa disapa. "Ical sudah pasti jadi," kata 
sumber itu. 

Aburizal sejak akhir bulan lalu intensif mengunjungi daerah, termasuk ke sarang 
pendukung Jusuf Kalla-ketua umum saat ini yang disinyalir tak mendukung 
pencalonan Aburizal. Keduanya memang berseberangan: Ical ingin membawa Golkar 
ke haribaan presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono, sedangkan Kalla tidak. 
Bagaimanapun, Yudhoyono adalah pesaing Kalla dalam pemilu presiden lalu. 

Di Makassar Ical menemui delapan pengurus Golkar provinsi dan 68 pengurus 
kabupaten di wilayah Sulawesi dan Maluku. Dalam pemilu presiden, Kalla-Wiranto 
yang diusung Golkar menang mutlak di Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi 
Tenggara, dan Maluku Utara. "Jika saya terpilih, Pak JK akan kita beri 
singgasana terhormat," kata Ical kepada hadirin. 

Manuver Ical menggalang dukungan tak menciutkan hati Surya Paloh. Dia tak 
menampik ada persaingan merebut jabatan. "Dia (Ical) kan anak buah saya di 
Dewan Penasihat," katanya. "Sebagai pimpinan, saya harus memberikan kesempatan 
anak buah maju." Namun, sebagai salah satu kandidat, Surya melakukan gerilya ke 
daerah-daerah juga. "Bukan penggalangan. Sebagai Ketua Dewan Penasihat, saya 
wajib mengunjungi daerah." 

Soal fulus, Surya sadar harus mengorek kocek lebih dalam. Gizi bagi Golkar, 
kata Surya, adalah romantisme yang terus berlaku. "Justru saya heran jika ada 
kandidat mengatakan tak perlu biaya politik." 

Untuk menjaring dukungan, misalnya, kandidat mesti memberikan sangu rata-rata 
Rp 5 juta bagi tiap orang yang hadir dalam pertemuan kandidat dan pengurus 
daerah. Duit itu resminya untuk biaya operasional partai, "Tapi bisa juga masuk 
kantong pribadi," kata seorang pengurus partai. 

Soal kebutuhan fulus dalam tubuh Golkar bisa dipotret melalui Jawa Timur. Di 
provinsi ini Ical dan Surya Paloh aktif berkeliling. "Mereka menggalang ke 
semua kabupaten dan kota," kata Sekretaris Partai Golkar Jawa Timur, Muhammad 
Muchtar. Keduanya lebih bisa diterima ketimbang kandidat lain yang berkantong 
tipis. Menjadi ketua Golkar, "Tak cukup otak saja," kata Muchtar. 

Menurut purnawirawan TNI Angkatan Darat itu, kebutuhan operasional kantornya 
sekitar Rp 30 juta per bulan. Bantuan pusat, iuran anggota DPR dan DPRD jelas 
tak cukup. Kekurangan itu biasanya ditambal ketua-baik di level daerah maupun 
pusat. "Memang itu fungsi ketua," kata Muchtar. 

Soal kebutuhan dana operasional, Ical berjanji akan mengadakan dana abadi. 
"Tahun 2014 Golkar sudah punya dana abadi, sehingga pemimpin Golkar tak perlu 
orang mampu (kaya), melainkan orang pintar," kata Ical. 

Strategi pengucuran dana Ical untuk menggaet daerah, kata Ridwan Hisjam, adalah 
dengan mengkader 10 juta warga Jawa Timur lewat program kader penggerak 
teritorial desa. Jika biaya tiap kader Rp 100 ribu saja, dibutuhkan dana Rp 1 
triliun untuk program itu. "Makanya, meski mencalonkan, saya sadar pasti akan 
terlibas Pak Ical," kata Hisjam. 

Di Jawa Timur, menurut Muchtar, 22 dari 38 pengurus kabupaten/kota mendukung 
Ical. Daerah itu antara lain adalah Malang, Madiun, dan Jombang. Sedangkan yang 
mendukung Paloh 16, di antaranya Kediri, Nganjuk, dan Banyuwangi. Di tingkat 
nasional Ical juga disokong Akbar Tandjung dan Agung Laksono. Ketiganya kini 
dikenal sebagai "trio alfa"-Aburizal-Agung-Akbar. Trio itu punya konsensus 
saling mendukung. Jika Ical ketua umum, Agung Laksono menjadi sekretaris 
jenderal dan Akbar jadi Ketua Dewan Penasihat. 

Menghadapi Goliat, kandidat di luar Ical jelas kedodoran. Anggota Dewan 
Penasihat Fahmi Idris, yang menyokong Yuddy Chrisnandi, mengakali soal duit ini 
dengan melempar isu generation gap. "Ketua zaman sekarang umurnya harus di 
bawah 50 tahun," kata Fahmi. "Kalau Ical dan Surya itu kakek-kakek." Yuddy saat 
ini 41 tahun. 

Fahmi memetakan tiga kutub di Golkar. Pertama, yang menginginkan Golkar sebagai 
oposisi dan menyokong Surya Paloh. Kelompok ini hanya disokong 25 persen 
pengurus. Kedua, yang ingin merapat ke pemerintahan dengan menyokong Ical, 
dengan kekuatan 70 persen. Ketiga, golongan kaum muda yang tak mau terjebak 
arah angin Surya dan Ical. Golongan terakhir hanya didukung 5 persen anggota. 

Soal duit, Fahmi mengeluh. "Kebutuhan operasional partai Rp 4 miliar per bulan. 
Anak muda jelas tak punya duit sebanyak itu." Kaum muda Golkar mampu mengatasi 
problem pendanaan jika biaya dihemat. Misalnya rapat tak perlu di hotel 
berbintang tapi cukup di kantor. "Kalau yang memimpin tetap kaum tua, Golkar 
akan terpenjara," kata Fahmi. 

Yuddy mengklaim didukung Jusuf Kalla. "Jadi, sebenarnya saya ini kandidat 
incumbent," katanya. Ia juga didukung sejumlah tokoh muda Golkar, di antaranya 
Sius Paur, Indra J. Pilliang, Christina Aryani, Emil Abeng, dan Arlan 
Sumarsono. Total tim sukses inti 65 orang. "Sementara kapal lain sudah penuh, 
kapal kami adalah kapal induk. Masih bisa menampung banyak orang," kata 
Pilliang. 

Sama dengan Ical yang akan memberikan tempat terbaik bagi Kalla, Yuddy juga 
berjanji akan mendudukkan Kalla di kursi Ketua Dewan Penasihat. Soal pemilu 
2014 Yuddy sesumbar akan menetapkan kandidat presiden tiga tahun lebih awal. 
"Jadi, pada 2011, kandidat presiden sudah ditetapkan," kata Yuddy. "Kandidat 
itu pun tak harus ketua umum." 

Dwidjo U. Maksum, Akbar Tri Kurniawan (Jakarta

Kirim email ke