Refleksi: Dilaparkan supaya orang Papua cepat habis?

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/09/04/17180713/waduh.yahukimo.dilanda.bencana.kelaparan.hebat.


Waduh, Yahukimo Dilanda Bencana Kelaparan Hebat 
Jumat, 4 September 2009 | 17:18 WIB
JAYAPURA, KOMPAS.com - Direktur Institute for Civil Strengthening (ICS) atau 
Lembaga Penguatan Masyarakat Sipil Papua, Budi Setyanto,SH menegaskan, bencana 
kelaparan yang menimpa masyarakat di tujuh distirik dalam wilayah Kabupaten 
Yahukimo, Provinsi Papua sangat kontradiktif dengan pemberitaan media massa. 

Selama ini media massa lokal di Papua selalu menampilkan keberhasilan geliat 
pembangunan di Kabupaten Yahukimo yang mencengangkan. 

"Kabar mengenai kelaparan yang menimpa masyarakat tujuh distrik di Yahukimo 
sangat kontradiktif dengan pemberitaan media massa selama ini yang mengatakan 
bahwa kabupaten ini berhasil dalam pembangunan di hampir segala bidang 
kehidupan termasuk pertanian, kehutanan, peternakan dan perikanan," kata Budi 
Setyanto di Jayapura, Jumat (4/8). 

Hampir seminggu sekali, media lokal di Jayapura yang sudah melakukan kontrak 
kerja sama dengan Pemkab Yahukimo memberitakan, betapa gencarnya proses 
pembangunan di kabupaten tersebut. 

Bupati Yahukimo, Ones Pahabol diberitakan sangat rajin melakukan kunjungan dari 
kampung ke kampung atau disebut Turun Kampung (Turkam) guna melihat dari dekat 
kemajuan pembangunan serta berdialog dari hati ke hati dengan rakyat di 
kampung. 

"Namun ternyata, realitas berbicara lain, apa yang diberitakan media massa 
selama ini dibantah sendiri oleh fakta bahwa telah terjadi bencana kelaparan 
yang menimpa masyarakat di tujuh distrik selama delapan bulan terakhir," 
katanya. 

Budi mempertanyakan, kebenaran dari informasi tentang kelaparan selama delapan 
bulan tersebut karena jika mengikuti pemberitaan media massa mengenai geliat 
pembangunan Yahukimo, rasa-rasanya, kelaparan seperti itu mustahil terjadi. 

"Di sinilah letak kontradiktifnya, pada satu pihak pejabat pemerintah dan media 
selama ini mengatakan pembangunan di Yahukimo berhasil dan menggembirakan 
tetapi pada sisi lain kasus kelaparan justru menimpa masyarakat di tujuh 
distrik dan hal ini sudah berlangsung selama delapan bulan. Apakah pemerintah 
tidak mendengar kejadian ini selama delapan bulan tersebut," kata Budi. 

Pada sisi lain, pemerintahan Gubernur Barnabas Suebu telah mencanangkan program 
pembangunan dari kampung ke kampung untuk menyejahterakan rakyat mulai dari 
kampung yang dikenal dengan sebutan Rencana Strategis Pembangunan Kampung 
(Respek). 

Media massa akhir-akhir ini pun memberitakan, program Respek sudah berhasil 
mengangkat rakyat di kampung-kampung keluar dari jurang kemiskinan, kebodohan, 
kelaparan dan keterbelakangan. 

"Tetapi nyatanya, masyarakat di tujuh distrik itu mengalami kelaparan hebat 
selama delapan bulan. Dimana kebenaran dari informasi keberhasilan program 
Respek itu," katanya. 

Menurut Budi, jika apa yang ditulis media massa itu benar adanya, maka 
pertanyaan cerdas adalah, mengapa sampai masyarakat di tujuh distrik di 
Kabupaten Yahukimo itu ditimpa bencana kelaparan selama delapan bulan terakhir 
ini dan selama delapan bulan juga pemerintah setempat tidak mengetahui 
persoalan kemanusiaan itu? 

Delapan distrik yang ditimpa bencana kelaparan antara lain Distrik Sutamon, 
Langda, Bomela, Seradala, Walma, Pronggoli dan Distrik Heryakpini. Kelaparan 
itu sudah berlangsung sejak Januari dan tercatat 92 orang telah meninggal 
dunia. 

"Padahal sudah terjadi sejak Januari, dan sudah dilaporkan, namun pemerintah 
belum ada yang turun langsung ke sini," kata Pendeta Isak Kipka, yang pertama 
kali mempublikasikan kelaparan ini kepada media. 

Sementara itu Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Yahukimo Roby Luntukoi yang 
dihubungi di Jayapura melalui telepon genggamnya membenarkan hal tersebut. 
"Sebuah tim Pemkab Yahukimo sedang mengunjungi tempat-tempat tersebut," 
ujarnya. 

"Setelah mendengar laporan dari pihak gereja, kami langsung melakukan 
pengecekan pada distrik-distrik tersebut dengan menggunakan pesawat terbang 
berbadan kecil, karena letaknya terpencil dan hanya bisa dijangkau dengan 
transportasi udara," kata Robi. 

Budi Setyanto mengingatkan pemerintah setempat agar tidak menjadikan kondisi 
geografis Papua yang sulit dan cuacanya yang sering tidak bersahabat sebagai 
alasan pembenaran diri. 

"Kita jangan jadikan kondisi geografis Papua yang sulit untuk membenarkan diri 
bahwa pemerintah sulit menjangkau wilayah-wilayah yang ditimpa bencana 
kelaparan itu sehingga berita tentang kelaparan selama delapan bulan baru 
diketahui pekan ini," katanya.

Kirim email ke