Anak Saya Bukan Terorist.......!!!
                                                    
Sewaktu berdakwah Abu Jibril sering mencaci maki HAM, "persetan dengan HAM ini 
alat kafir untuk menindas umat Islam."

Begitulah kata2 pak Abu Jibril dalam dakwahnya se-hari2 dimanapun dia berada.  
Dia tidak bosan2nya menekankan pentingnya berjihad, mempertaruhkan nyawa dan 
harta benda hanya untuk Allah saja dijalan Allah.

Mendadak, anak pak Jibril yang bernama Muhamad Jibril ditangkap polisi karena 
terlibat membiayai teror maut di Hotel Marriott baru2 ini.  Meskipun Abu Jibril 
tahu anaknya ditangkap Densus 88 dari kepolisian, tetapi dia tetap menyebarkan 
berita ke-koran2 dan melapor ke KomNas Ham bahwa anaknya diculik orang2 yang 
tak dikenal. Dia sengaja memplesetkan kenyataan dengan kata2 ekstreem ini 
dengan tujuan mendiskreditkan badan kepolisian sehingga melepaskan anaknya dari 
tahanan.

Sayang, pak Abu Jibril ini buta akan arti HAM, dia sejak bayi hanya mengerti 
Syariah Islam.  Dia tidak mengerti bahwa HAM itu adalah perlindungan akan hak2 
seseorang yang tidak bersalah, karena kalo seseorang yang bersalah, diduga 
bersalah, dicurigai bersalah dan kemudian ditangkap polisi, maka diberlakukan 
UU tentang hak tersangka diamana ada prosedurnya yang tidak tercantum dalam HAM 
melainkan dicantumkan dalam UU kriminal atau UU pidana.

Muhammad Jibril dituduh telah membiayai operasi teror terhadap hotel Marriott 
sehingga jatuh korban2 orang2 yang sama sekali tidak bersalah kepada keluarga 
Jibril, bahkan mengenalpun tidak pernah.  Naaah....  korban2 inilah yang 
memiliki HAM yang justru dilanggar, di-injak2 dan didholimi oleh keluarga 
Jibril.  Muhammad Jibril ini adalah pelanggar HAM dari korban2nya yang sama 
sekali belum pernah dikenal atau diketahuinya.

Apalah artinya bagi Komnas HAM sewaktu menerima laporan Abu Jibril tentang HAM 
anaknya yang diculik Densus 88.  Sejak lahir belum pernah mau menghormati HAM, 
baru sekarang beliau merasa perlunya memanfaatkan HAM untuk menyelamatkan 
puteranya dari penjara.  Se-hari2 beliau mencemohkan HAM dan men-dewa2kan 
Syariah Islam, namun dalam kasus sekarang ini justru beliau mau memanfaatkan 
HAM untuk menyelamatkan puteranya karena Syariah Islam justru telah 
mencelakakan puteranya dengan jihad teror yang dilakukannya sebagai pelanggaran 
HAM dari manusia2 yang sama sekali tidak bersalah dan belum pernah dikenalnya.

Jihad tidak selalu berarti perang mengorbankan jiwa, karena "Jihad" juga bisa 
diartikan atau dijalankan dengan membiayai operasi teror seperti yang dilakukan 
Muhammad Jibril ini, meskipun tidak perlu resiko mati mengorbankan jiwa tetapi 
pahalanya sebagai mujahidin sama sekali tidak dikurangi.

Pelanggar HAM tidak bisa memperalat menyalah gunakan HAM untuk membebaskan diri 
dari penjara karena HAM adalah murni merupakan nilai2 universal yang melindungi 
semua manusia tanpa mem-beda2kan agama atau kepercayaannya ataupun mem-beda2kan 
cara2 menjalankan ibadahnya.

Jadi Abu Jibril salah alamat kalo mau menyelamatkan anaknya dengan cara akal2an 
melaporkannya ke Komnas HAM, karena institusi ini justru lebih memahami arti 
HAM katimbang yang dipahami oleh Abu Jibril.  Namun tindakan Abu Jibril ini 
juga bisa dimengerti karena banyak teman2 keluarga Jibril yang juga menjadi 
anggauta Komnas HAM, bahkan ketua Komnas HAM juga dulunya adalah Muawarman dari 
FPI yang rajin membela Syariah Islam.  Memang, Komnas HAM sudah berhasil 
disusupi oleh anggauta2 pendukung Syariah teror ini, namun pusatnya di United 
Nation telah memonitornya sehingga laporan2 yang diputer balik itu tak pernah 
digubris oleh pusat.

Sampai sekarang, tindakan Abu Jibril mencari simpati masyarakat untuk 
membebaskan puteranya dari tuduhan terorist ternyata sama sekali belum 
memperlihatkan hasilnya, bahkan cercaan masyarakat makin bertambah dan banyak 
dari masyarakat yang tinggal diseputar tempat tinggal beliau juga menceritakan 
bahwa keluarga Jibril sangat eksklusif, tidak bisa beradaptasi dengan 
masyarakat banyak terutama dari kalangan bawah.  Sikapnya sangat agressive, 
sering menghina orang2 diseputarnya sebagai orang kafir, sebagai orang murtad, 
dan tak lupa dia juga mencaci maki mereka sebagai budak dan anjing Amerika atau 
Yahudi.  Bahkan dari surat2 pembaca yang saya baca, semua tulisan ternyata 
mencerca keluarga Jibril dan menyukuri ditangkapnya Muhammad Jibril sekarang 
ini.

Abu Jibril hingga detik ini tetap dimusuhi dan dibenci masyarakat, lebih2 
setelah kepolisian mengumumkan bahwa Muhammad Jibril adalah penyandang dana 
utama dalam operasi teror maut di Hotel Marriott baru2 ini.

Semoga apa yang dialami keluarga Pak Jibril ini bisa menjadi pelajaran bagi 
kita semua, lebih2 dalam mendidik anak untuk tetap menjauhi sikap teror maupun 
jihad meskipun merupakan kewajiban umat Islam dulunya bukan berarti harus kita 
lakukan dizaman sekarang ini.  Penyesalan akan terlambat, korban sudah jatuh, 
dan tidak akan ada yang bersedia memaafkannya.

Ny. Muslim binti Muskitawati.





Kirim email ke