http://peduliburuhmigran.blogspot.com/2009/09/yatinem-pahlawan-devisa-yang-kini.html

Friday, September 4, 2009
Yatinem, Pahlawan Devisa Yang Kini Merana 


Tiga tahun lalu Yatinem berangkat bekerja ke Malaysia dalam kondisi 
segar-bugar. Selama di Malaysia, ia selalu berkirim kabar ke keluarga di rumah, 
lancar-lancar saja tanpa ada kendala. Dari hari ke hari, bulan ke bulan bahkan 
menginjak tahun kedua, komunikasi masih sering dilakukan. Namun setelah tahun 
kedua, Yatinem jarang berkomunikasi lagi dengan pihak keluarga.

Tiba-tiba pada bulan Juni 2009, tidak ingat persisnya tanggal berapa, pihak 
keluarga mendapat telepon dari Malaysia yang mengabarkan bahwa Yatinem sakit 
dan akan dipulangkan ke Cilacap. Rasa was-was dan khawatir datang menghinggapi 
seluruh anggota keluarga di kampung. Mereka memantau terus setiap berita yang 
ada lewat kawan-kawan Yatinem di Malaysia.

Ditunggu-tunggu sampai bulan Agustus, Yatinem tidak juga datang. Hingga 
puncaknya pada tanggal 26 Agustus 2009 keluarga mendapat telepon dari kawan 
Yatinem bahwa dia sudah berada di Jakarta dalam kondisi sakit parah.

Kami dari Peduli Buruh Migran menemukan Yatinem tergeletak di troli barang 
dengan beralaskan kardus di dermaga Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. 
Ternyata Yatinem didampingi seorang Satuan Tugas (Satgas) Tenaga Kerja 
Indonesia Bermasalah (TKIB) dari Tanjung Pinang. Namun satgas tersebut tidak 
begitu peduli dengan kondisi Yatinem yang sudah muntah darah. Seharusnya tugas 
satgas adalah melayani buruh migran yang sakit dan membutuhkan pertolongan, 
bukan menelantarkan. 

Kemudian Peduli Buruh Migran bersama petugas Kesehatan Pelabuhan langsung 
merujuk ke RSUD Koja, Jakarta Utara dan mendapat perawatan satu malam. Kami 
lalu menghubungi keluarga Yatinem di Cilacap. Bercampur kaget dan gelisah, 
keluarga langsung berangkat ke Jakarta untuk menjemput Yatinem.

Keluarga Yatinem sampai di Jakarta saar waktu sahur tiba, lalu singgah di 
shelter Peduli Buruh Migran. Kami lalu menuturkan kejadian mengenai Yatinem 
kepada pihak keluarga. Saat matahari terbit, kami bersama keluarga Yatinem 
berangkat menuju RSUD Koja. 

Melihat kondisi tubuh Yatinem yang sangat kurus dan tampak lekukan tulang, 
pihak keluarga bersikeras untuk membawa pulang Yatinem ke Cilacap supaya dekat 
dengan ibunya. Atas permintaan keluarga dengan segala resiko di perjalanan, 
Peduli Buruh Migran mendampingi Yatinem hingga ke Cilacap.

Melihat satu dari jutaan kasus seperti ini, seharusnya pemerintah lebih menaruh 
perhatian dan peduli terhadap buruh migran dengan meratifikasi konvensi migran.

(Lily Pujiati, Koordinator Peduli Buruh Migran)

Foto: Peduli Buruh Migran

<<yatinem+di+priok.JPG>>

Kirim email ke