Refleksi: Pagar makan tanaman adalah hal biasa di kebun NKRI.

http://waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=52834:buaya-pun-memangsa-cicak&catid=25:artikel&Itemid=44

            Thursday, 17 September 2009 06:32         
     
      Buaya pun memangsa cicak  
     
      ARFANDA SIREGAR

      Perseteruan antara cicak melawan buaya ternyata tidak hanya isapan jempol 
belaka, sungguh sungguh terjadi,dan menguras banyak enerji. Kemarin dua 
pimpinan KPK Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Riyanto sudah ''dimakan'' buaya.

      Walaupun di alam nyata tidak akan mungkin cicak melawan buaya. Bukan saja 
habitat keduanya berbeda, namun jelas tidak imbang kalau sempat cicak yang 
mungil bertempur melawan si raksasa buaya.

      Kabareskrim Mabes Polri Komjen Polisi Susno Duadji dalam wawancara 
majalah Tempo Edisi 6-12 Juli yang mempopulerkan istilah itu. Susno 
mengistilahkan bahwa KPK adalah cicak,dan kepolisian merupakan buaya. "...kok 
cicak mau melawan buaya" demikian katanya mengomentari sepak terjang KPK 
akhir-akhir ini.

      Pernyataan itulah lantas dituding sebagai upaya kepolisian untuk 
melumpuhkan KPK. Muncullah kemudian Cicak, singkatan Cintai Indonesia Cintai 
KPK. Gerakan ini dideklarasikan di Tugu Poklamasi 12 Juli silam diprakarsai 
sejumlah tokoh dan aktivis antikorupsi termasuk Teten Masduki, Erie Riana Harja 
Pamengkas, dan Taufiqurrahman Ruki.

      Dua nama terakhir adalah mantan petinggi "cicak" periode pertama yang 
merasa rongrongan terhadap "cicak" kian kental akhir-akhir ini.

      Polisi sewot
      Polisi pantas sewot dengan gebrakan KPK akhir-akhir ini. KPK bagai ibarat 
 akan tanaman. Sudah dilatih oleh kepolisian dengan berbagai keterampilan yang 
mampu mengejar koruptor sampai ke ujung dunia, ternyata setelah ahli malah 
tanpa perasaan risih membidik gurunya. kehadiran KPK kian hari menjadi ancaman 
serius bagi pejabat publik, elite partai politik, termasuk para petinggi 
kepolisian yang korup.

      Di tangan KPK, tidak ada lagi lembaga yang kebal dari proses hukum karena 
di sanalah korupsi dimulai dan menjamur. Adalah Susno yang terkena getahnya. 
Telefon genggamnya tanpa disadari telah disadap oleh petugas KPK ketika akan 
menyelidiki kasus korupsi di bank Century.

      Dalam kasus tersebut terindikasi sang Komjen terlibat. Mungkin emosi atas 
kelancangan KPK maka keluarlah  kecaman yang kontroversi itu. Dan ternyata 
bukan hanya Komjen saja yang gerah atas sepak terjang KPK, seluruh petinggi 
kepolisian juga sewot dan merasa dimata-matai KPK. Bukan rahasia umum lagi  
bahwa sepanjang tahun 2007 sampai sekarang kepolisian bersama-sama kejaksaan 
menduduki peringkat atas sebagai lembaga negara terkorup di Indonesia .

      Jika KPK dibiarkan merdeka dengan berbagai kewenangannya yang luar biasa 
bukan tidak mungkin dalam waktu dekat ini akan mengincar satu per satu petinggi 
kepolisian. Perseteruan pun tidak dapat dihindari antara ke dua lembaga hukum 
itu. Seperti diberitakan berbagai media bahwa mereka kini saling serang, saling 
ancam, dan saling memerlihatkan taringnya.

      Beratnya bagi KPK, kian hari perseteruan itu kian melemahkan kekuatannya. 
Semakin banyak saja lembaga yang kemudian turut berbaris di belakang kepolisian 
untuk mengeroyok KPK. Lembaga- lembaga negara yang sudah pernah menikmati 
pahitnya hasil kerja KPK tanpa diperintah menyatukan barisan dengan buaya. 
Pertarungan itu bisa disaksiakan sejak Antasari Azhar ditangkap dan diperiksa 
kepolisian.

      Betapa kompaknya kepolisian dengan kejaksaan dalam menindaklanjuti 
perkara tersebut. Bahkan, Kejaksaan Agung sudah berani mengeluarkan statemen 
Antasari Azhar sebagai tersangka sebelum Mabes Polri menetapkan status 
tersebut. Pimpinan KPK pun tidak ada upaya ''menolong'' Antasari.

      Padahal, jauh sebelum Antasari tertangkap, lembaga KPK terus digembosi 
oleh berbagai pihak. Seperti Ahmad Fauzi- anggota DPR dari Partai Demokrat 
sampai meminta KPK dibubarkan, juga Nursyahbani Katjasungkana, anggota DPR dari 
fraksi PKB meminta KPK tidak mengambil keputusan alias tidak usah kerja lagi 
untuk proses penyelidikan korupsi yang membutuhkan keputusan terkait kasus 
Antasari.
       
      Bahkan beberapa minggu lalu SBY dengan teganya menyerang KPK dengan 
mengatakan KPK telah menjadi lembaga superbody sehingga wewenangnya butuh 
diwanti (dikurangi wewenangnya).

      Babak akhir KPK
      Sekarang konflik antara cicak dengan buaya sedang berada pada episode 
penutup. Setelah Ketua KPK terjerembab dalam kasus pembunuhan Direktur Rajawali 
Banjaran Nasrudin Zulkarnaen yang dicurigai sebagai scenario pembunuhan awal 
KPK. Hantaman selanjutnya justru datang dari Antasari yang membuat testimony 
bahwa sejumlah pejabat komisi itu menerima uang dari Anggoro Widjojo, Direktur 
PT Masaro. Akibatnya, empat pimpinan KPK yang tersisa harus diperiksa polisi 
beberapa hari lalu dan dua di antaranya ditetapkan sebagai tersangka.

      Besar kemungkinan, sebentar lagi keduanya bakal dijebloskan dalam 
tahanan. Walau keduanya membantah keras tudingan yang dialamatkan kepada 
dirinya. Sayangnya,Chandra dan Bibit mungkin lupa bahwa 80% penyidik KPK adalah 
anggota Polri berpangkat AKP atau komisaris yang tergabung dalam kelompok 
buaya! Seandainya nasib buruk menimpa keempat pimpinan KPK, menyusul ketuanya 
ke terali besi, lantas bagaimana nasib lembaga yang lahir dari rahim   eformasi 
itu ?

      Sementara itu,di DPR, RUU tentang Pengadilan Tipikor tinggal ketok palu. 
Salah satu pasal pembunuhan kepada KPK yang sudah disepakati oleh DPR dan 
pemerintah adalah dihapuskannya kewenangan penuntutan dari KPK. Banyak pihak 
berteriak supaya SBY mengakhiri perseteruan ini.

      Namun sepertinya teriakan itu berada di dalam gua, memantul-mantul 
menerpa dinding goa sebelum akhirnya hilang entah ke mana. Presiden kita 
terlalu sibuk mematut-matut baju baru paling pas untuk para pembantunya 
sehingga tidak mau ikut campur atas pertikaian buaya dengan cicak.

      Seharusnya presiden tidak boleh angkat tangan, sebab pada pemilu dan 
pilpres kemarin menggunakan keberhasilan cicak sebagai bahan kampanye.Jangan 
biarkan buaya memangsa cicak,Pak SBY !
     

Kirim email ke