http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009091706130555
Kamis, 17 September 2009
RAGAM
PERATURAN: Pemerintah Tarik RUU Rahasia Negara
JAKARTA (Lampost): Pemerintah akhirnya menarik draf Rancangan
Undang-Undang (RUU) Rahasia Negara yang sudah dibahas bersama DPR sejak
pertengahan 2008. Penarikan itu nyaris memicu aksi baku pukul antaranggota
dewan.
Adalah Menhan Juwono Sudarsono yang menyampaikan sikap pemerintah untuk
menarik RUU Rahasia Negara itu. "Atas nama jajaran pemerintah, baik itu Dephan,
BIN, Menko Polhukam dan instansi lainnya, kami menarik RUU Rahasia Negara dari
pembahasan," kata Juwono dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR di Jakarta, Rabu
(16-9).
Penarikan draf RUU Rahasia Negara oleh pemerintah itu kemudian menjadi
keputusan rapat Komisi I. "Pemerintah menarik RUU Rahasia Negara dan Komisi I
DPR menghentikan pembahasan," kata pemimpin rapat yang juga Ketua Komisi I DPR,
Theo L. Sambuaga.
RUU Rahasia Negara dibahas DPR bersama pemerintah sejak Mei 2008.
Jauh-jauh hari sebelumnya, pada 2006, elemen masyarakat menolak rencana
pemerintah membuat RUU Rahasia Negara yang dinilai represif itu. Akan tetapi
pada saat itu pemerintah tetap ngotot dan mengabaikan protes.
Menjelang disahkan pekan ini, sekitar 70 tokoh masyarakat mengirim petisi
penolakan RUU Rahasia Negara kepada Presiden. Kemarin, Presiden menggelar rapat
terbatas terkait petisi tersebut. Presiden memberi arahan agar RUU itu tidak
dipaksakan untuk disahkan.
Setelah menghadiri rapat di Kantor Presiden, Juwono langsung menghadiri
rapat di Komisi I DPR. Dalam rapat itulah ia secara resmi menarik RUU Rahasia
Negara. Reaksi anggota Dewan beragam. Anggota DPR Ali Mocthar Ngabalin menilai
pemerintah tidak konsisten dan Presiden cenderung mencla-mencle.
Anggota Komisi I dari Fraksi Partai Demokrat Syarif Hasan kemudian
menanggapi, "Saya menyesali dan tidak menerima ada kata-kata yang tidak sopan
dalam rapat yang seperti ini, apalagi ditujukan kepada Presiden. Ini sungguh
tidak beradab."
Ngabalin pun bereaksi. Dia berdiri dan berteriak. Dia meminta pemimpin
rapat menghentikan pemaparan Syarif. Akan tetapi Syarif tetap bicara. Kemudian
Ngabalin mendatangi tempat duduk Syarif. Ia mencoba menarik kerah jas Syarif,
dan Syarif pun mengambil ancang-ancang. Setelah dilerai koleganya, Ngabalin
melunak lalu kembali ke mejanya. Menhan membisu menyaksikan adegan tidak
terpuji itu. n MI/R-1
<<bening.gif>>
