http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009091907264141
Sabtu, 19 September 2009
Menjadi Fitri, Meninggalkan Korupsi
Muhammadun A.S.
Peneliti Center for Pesantren and Democracy Studies (Cepdes) Jakarta
Momentum Idulfitri 1430 H menjadi catatan penting bagi bangsa Indonesia
untuk berbenah di tengah lilitan krisis yang tak kunjung usai. Kembali kepada
fitrah adalah manifestasi terbangunnya basis spiritualitas yang memancarkan
cahaya kebenaran dan kesucian dalam menjalani lelaku kehidupan. Sosok yang
fitri menjadi cahaya penerang kehidupan karena Tuhan akan selalu menyertainya
dalam setiap gerak napas dalam memperjuangkan nilai ketuhanan dan nilai
kemanusiaan. Sosok yang fitri mampu menjalani takwa yang profetik. Dalam arti,
selalu kreatif menjalankan prinsip, proaktif menggerakkan perubahan, dan tulus
dalam memperjuangkan harapan masa depan.
Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa fitrah adalah ketetapan
yang telah dicapkan oleh Allah atas sebuah agama yang hanif (millah Ibrahim).
Kehanifan Ibrahim adalah fitrah yang total dalam pengabdian ketuhanan
(al-fitrah, al-salimah). Allah menciptakan makhluknya secara fitri berdasarkan
makrifat-Nya dan untuk mentauhidkan-Nya. Dan ciptaan Allah yang fitri akan
selalu patuh karena persaksiannya yang tunduk-total kepada Allah. Dalam sebuah
perjanjian suci (al-muahadah, al-fithriyyah), manusia menyatakan diri
ketundukkannya untuk mentauhidkan-Nya.
Fitrah yang diciptakan Allah tidak mungkin bisa tergantikan. Fitrah Allah
sudah masuk-sublim dalam hati nurani manusia. Kalau terjadi pergeseran fitrah,
itu adalah ulah manusia sendiri yang merubah kefitrian yang telah diberikan
Allah kepadanya. Bukankah Nabi Muhammad saw. telah bersabda bahwa setiap yang
dilahirkan selalu lahir dalam fitrah Islam: total pasrah mengabdi kepada Tuhan.
(kullu mauludin yuladu ala fitrati al-islam). Setiap bayi yang lahir menyimpan
energi fitrah yang suci, yang akan memandu gerak kehidupan manusia di setiap
saat dan setiap waktu.
Sayang, energi fitrah kadang kala "ditelantarkan" dan tidak dioptimalkan
oleh manusia sendiri. Justru manusia melalaikannya, sehingga kefitrian yang
sudah menancap kerap bergeser, tidak memandu gerak langkah kehidupan manusia.
Akhirnya, tidak sedikit manusia yang terjerumus dalam berbagai kubangan
kenistaan, manusia teralienasi dari basis spiritualitasnya sendiri, dan manusia
akhirnya "jatuh" dari titik autentisitas yang suci dan bersih. Jadilah gerak
hidup yang dijalani penuh kebimbangan (al-syak) dan keraguan (al-roib).
Idulfitri adalah kembali kepada fitrah (awal) yang telah ditancapkan
Allah dalam perjanjian suci (al-muahadah, al-fithriyyah). Tidak salah kalau
ulama memaknai Idulfitri sebagai makin meningkatnya ketakwaan, bukan dengan
konsumerisme yang melonjak. Hari Raya bukanlah mereka yang baru pakaiannya,
melainkan Hari Raya adalah mereka yang ketaatannya bertambah (laisa al-idu
liman libasuhu al-jadid, walakinna al-idu liman tha'atuhu tazidu).
Meninggalkan Korupsi
Jiwa fitri bagi bangsa Indonesia saat ini sangat tepat bila
dioperasionalisasikan dalam upaya meninggalkan korupsi. Dengan demikian, yang
patut berhari raya, dalam konteks bangsa Indonesia, adalah mereka yang tangguh
dengan tegar meninggalkan korupsi. Kefitrian yang dihasilkan dari tapabrata
puasa sebulan penuh adalah dengan wujud makin runtuhnya kantong-kantong korupsi
birokrasi. Kalau masih bercokol sebiji hasrat korupsi, layak diragukan puasanya
dan kefitrian dalam Idulfitri kali ini.
Penegasan untuk meninggalkan korupsi sangat penting disuarakan umat Islam
dalam rangka makin mempercepat bangsa Indonesia menuju autentisitas diri yang
bersih, kreatif, dan progresif. Perjanjian suci dengan Tuhan akan kefitrian
akan sangat ternoda autentisitasnya bila manusia terjebak dalam jerat korupsi.
Sebab, korupsi telah membutakan hati nurani yang menjadi poros perputaran nilai
Ilahi. Kalau poros nilai Ilahi sudah tak berfungsi, mati fungsinya, sekujur
tubuh manusia hanya dihinggapi nalar dan hasrat despotik dalam merengkuh gerak
hidup yang sebenarnya sia-sia. Despotisme nafsu manusia selalu membuka jalan
keruntuhan diri. Despotisme nafsu juga selalu mengajak manusia untuk keluar
dari orbit Ilahi, menuju orbit syaithoni, sehingga gerak langkah hidup hanya
memburu kepuasan nafsu.
Nalar koruptif adalah tamsil bahwa gerak nafsu manusia selalu dijejali
kuasa despotik. Nalar koruptif selalu menginginkan kuasa dirinya untuk mengeruk
uang negara, tak peduli apakah rakyat miskin sedang dililit ketertinggalan dan
kelaparan, dan tak peduli akan kesejahteraan kaum marginal yang selalu kandas
di tengah jalan. Yang terjejal dalam kuasa nafsu adalah menumpuk harta
sebanyak-banyaknya demi kepuasan hegemoni nafsu yang bersorak ria dengan
berbagai penindasan dan keserahan.
Kefitrian sudah tergantikan dengan nalar koruptif. Perjanjian suci
manusia dengan Tuhannya sudah dikhianati sendiri.
Perjanjian suci sudah ditinggalkan karena manusia membuat perjanjian baru
dengan kuasa nafsu untuk selalu berbuat despotik. Kesucian perkataan dan
tindakan tidak berlaku bagi kaum koruptif. Kesucian sudah dibuang jauh-jauh
karena hanya mempersulit laju korupsi di berbagai lini kehidupan.
Momentum Idulfitri 1430 H harus menjadi koreksi total bangsa Indonesia,
khususnya kaum elitenya, untuk menata harapan bangsa yang cerah tanpa tragedi
korupsi. Kefitrian yang kembali setelah puasa sebulan penuh harus menjadi
starting point dalam membabat habis praktek koruptif. Jadilah Idulfitri sebagai
monumen besar dalam menggagalkan kejahatan koruptif, sehingga hati nurani yang
telah melakukan perjanjian suci dengan Tuhan selalu menyertai dalam setiap
perwujudan gerak hidup.
<<bening.gif>>
