http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009110406213161

      Rabu, 4 November 2009 
     
      OPINI 
     
     
     
TAJUK: Tsunami Ketidakpercayaan 

      DUKUNGAN publik bagi Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto mengalir 
deras. Ada yang menyebut dukungan itu seperti tsunami yang menggulung. 
Celakanya, semakin deras tsunami dukungan, semakin deras pula tsunami 
ketidakpercayaan terhadap kinerja lembaga penegak hukum.

      Itulah yang sedang terjadi hari-hari belakangan ini. Chandra dan Bibit, 
dua pemimpin nonaktif KPK, yang ditahan polisi karena diduga menyalahgunakan 
wewenang, justru mendapat simpati besar dari publik. Kepercayaan terhadap 
pemerintah, khususnya kepada kepolisian dan kejaksaan, menukik tajam. Ini tentu 
pukulan yang berbahaya bagi pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang 
semestinya sedang menikmati bulan madu dengan pendukungnya.

      Simpati bagi Chandra dan Bibit dari para facebooker yang dalam tiga hari 
sudah mencapai 400 ribu--dan akhir pekan ini ditargetkan menjadi 1 juta--adalah 
petunjuk kasatmata tentang tsunami ketidakpercayaan.

      Penjelasan pers baik oleh SBY maupun Kapolri Jenderal Bambang Hendarso 
Danuri tentang kasus yang menimpa Chandra dan Bibit tidak serta-merta 
menimbulkan kepercayaan. Terbukti, setelah keterangan SBY bahwa dia tidak akan 
mengintervensi proses hukum dan keterangan panjang lebar Kapolri tentang kasus 
yang sama, dukungan di Facebook justru semakin melonjak. Aksi lain berupa 
demonstrasi di berbagai kota meluas, termasuk gerakan pita hitam bagi yang 
mendukung Chandra dan Bibit.

      Karena penjelasan Presiden bahwa ia akan berada di garis paling depan 
melawan setiap upaya untuk melemahkan KPK tidak juga meredakan arus dukungan 
terhadap Bibit dan Chandra, terpaksa dibentuklah tim independen pencari fakta 
untuk kasus ini.

      Tetapi, belum lagi bekerja, tim independen ini mulai dipertanyakan karena 
beberapa di antaranya adalah orang-orang yang dekat dengan SBY. Sebut saja 
Denny Indrayana yang menjadi staf khusus presiden bidang hukum serta Amir 
Syamsuddin yang menjadi pengurus Partai Demokrat.

      Jadi, mengapa ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah, terutama 
kepada lembaga penegak hukum, menggelora bagai tsunami akhir-akhir ini?

      Pertama, penegak hukum bekerja semata mendewakan prosedur, sedangkan 
publik mempersoalkan rasa ketidakadilan dari kasus Bibit dan Chandra. Keadilan 
dan kebenaran yang semata memenuhi tuntutan prosedur tidak bertemu dengan 
keadilan yang mengganggu nurani dan akal sehat publik.

      Kedua, KPK yang sedang dikriminalisasi adalah lembaga yang oleh publik 
dianggap lebih baik daripada lembaga polisi dan kejaksaan.

      Terhadap rekaman yang bocor, polisi hanya berkutat pada siapa yang 
merekam dan membocorkan, tetapi tidak mengusut tegas dan tuntas orang-orang 
yang disebut dalam rekaman itu.

      Lembaga penegak hukum di Indonesia bercitra amat jelek. Untuk 
mengembalikan citra agar memperoleh kepercayaan publik, dibutuhkan kinerja luar 
biasa.

      Selama ini polisi dan kejaksaan tidak memperlihatkan reformasi perilaku 
penegakan hukum. Karena itu, kerja KPK yang sesungguhnya biasa saja dipuja 
publik sebagai prestasi luar biasa.

      Di negara lain, skandal yang memalukan biasanya diobati dengan kesadaran 
mengundurkan diri para pejabat yang bertanggung jawab.
     

<<bening.gif>>

Kirim email ke