http://www.harianterbit.com/artikel/info/artikel.php?aid=82400
Fenomena 2012 Siklus 11 Tahunan
Tanggal : 12 Dec 2009
Sumber : Harian Terbit
JAKARTA - Seorang peneliti dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional
(Lapan) menyatakan fenomena meningkatnya aktivitas matahari yang menurut
ramalan suku Maya terjadi pada 2012 tidak perlu dikhawatirkan apalagi
dihubungkan dengan hari kiamat.
Peneliti astronomi dan astrofisik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional
(Lapan) yang baru saja dikukuhkan sebagai profesor riset Indonesia Dr Thomas
Djamaluddin Msc,menyatakan tidak ada yang istimewa dari fenomena alam 2012 itu
karena hanya siklus 11 tahunan meningkatnya aktivitas matahari.
"Fenomena 2012 yang menghebohkan masyarakat lebih banyak berawal dari ramalan
suku Maya, bukan berasal dari alasan ilmiah. Kalau kemudian memang ada fenomena
2012 alasan ilmiahnya apa? Tapi yang lebih banyak diungkapkan justru bukan
sainsnya," kata Thomas usai dikukuhkan sebagai profesor riset di kantor Lapan
Jakarta.
Menurut Thomas, fenomena aktivitas puncak matahari sebelumnya diperkirakan
terjadi pada 2011, namun titik minimumnya bergeser sehingga diperkirakan
terjadi pada 2012. Namun, sekarang pun ada pergeseran lagi sehingga kemungkinan
terjadi pada 2013.
Secara alamiah, tegas Thomas, tidak ada yang istimewa karena itu merupakan
siklus 11 tahunan. "Terakhir terjadi pada 1989 kemudian pada 2000, dan nanti
2012 atau 2013 akan terjadi lagi."
Orang kemudian mengkhawatirkan terjadi badai matahari, padahal tidak akan ada
badai matahari dahyat yang menimbulkan dampak parah.
Badai matahari pada dasarnya adalah fenomena bumi yang sering terjadi bukan
saja saat aktivitas matahari mencapai puncak, tetapi saat aktivitas mulai naik
hingga turun lagi tetap ada badai matahari.
Artinya memang frekuensi kejadiannya lebih banyak pada saat puncak. Tetapi,
menurut Thomas, kekuatan terbesarnya belum tentu pada saat puncak. Sering kali
yang paling kuat justru setelah puncak.
"Katakan puncak yang lalu terjadi di 2000, tetapi aktivitas matahari yang
paling besar, yang paling kuat justru terjadi pada 2003," katanya.
Perbincangan fenomena aktivitas matahari ini juga berkembang, yang kemudian
dikaitkan lagi dengan seolah-olah akan ada tumbukan komet.
"Itu juga secara astronomi tidak ada buktinya. Tidak ada informasi atau
perkiraan akan ada komet besar yang menabrak bumi pada 2012. Kemudian ada lagi
yang memperkirakan ada planet Nibiru, padahal planet Nibiru tidak dikenal dalam
astronomi," jelas Thomas.
Berbagai perbincangan mengenai fenomena 2012, seperti seolah-olah berdasarkan
teori astronomi ada asteroit besar yang akan menghantam bumi, sama sekali tidak
punya dasar atau tidak ada alasan astronominya.
"Jadi pada dasarnya kekhawatiran 2012 lebih banyak terkait dengan penafsiran
ramalan suku Maya, dan oleh ketua suku Maya sendiri sudah menyatakan bahwa 2012
bukan akhir dan itu hanyalah pergantian item kalender yang biasa," kata dia.
Menurut Thomas, dampak dari badai matahari yang ditimbulkan dari percikan
partikel matahari dan menimbulkan medan magnit itu selama ini hanya berdampak
pada keberadaan satelit di orbit dan terhadap transformer fasilitas jaringan
listrik.
Badai matahari dapat menimbulkan induksi ke fasilitas jaringan listrik sehingga
terjadi kelebihan beban dan bisa menyebabkan trafo meledak atau terbakar.
Dalam orasi ilmiahnya pada pengukuhannya sebagai profesor riset bersama Dr Ir
Chunaeni Latief Msc, Thomas juga menyatakan bahwa wilayah Indonesia yang
dilalui garis ekuator cukup panjang rentan menjadi tempat jatuhnya sampah
antariksa yang sekarang kian banyak.
"Sampah antariksa semakin lama semakin banyak. Yang terpantau oleh sistem
jaringan pemantau internasional ada sekitar 13 ribu lebih dan ancamannya bisa
mengganggu satelit aktif. Dan salah satunya pernah, sampah antariksa bekas
satelit Rusia menabrak satelit aktif karena semakin banyak satelit di antariksa
kemungkinan bertabrakan semakin besar," katanya.
Indonesia yang berada di garis ekuator memiliki kemungkinan lebih besar untuk
terkena risiko jatuhnya sampah antariksa dibanding kawasan lain. Oleh karena
itu Indonesia harus selalu waspada karena berada pada wilayah yang sering
dilalui orbit satelit.
Hal itu harus menjadi perhatian Lapan dalam memberikan pelayanan informasi
potensi bahaya benda jatuh dari antariksa sehingga kemungkinan terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan dapat dinetraliskan, demikian Thomas Djamaluddin.
Bersama Thomas, peneliti Lapan Dr Ir Chunaeni Latief Msc juga dikukuhkan
sebagai profesor riset dalam bidang Opto Elektronika dan Aplikasi Laser. Dalam
orasinya ia lebih mencermati kandungan dan efek emisi gas rumah kaca (CO2) dan
pemanfaatan instumensi Satklim LPN-1A untuk penelitiannya yang bermanfaat bagi
dunia penerbangan, dan kajian pemanasan global.(tbt/ant