http://www.jambiekspres.co.id/index.php/radar-jambi/8897-harga-sembako-kembali-naik.html


      Senin, 14 Desember 2009 10:40  

      Harga Sembako Kembali Naik

        
      JAMBI - Harga sejumlah barang sembako yang dijual di pasaran merangsek 
naik memasuki musim paceklik 2010 ini. Harga beras naik Rp 5.000 per karung, 
harga sagu naik Rp 1.000 per Kg, harga gula naik Rp 500-1000 per Kg.

      Hal ini berdasarkan pantauan wartawan Jambi Ekspres di sejumlah pemilik 
kios yang berjualan di pasar Angsoduo Kota Jambi, Sabtu (12/13).

                  "Seminggu ini harga sembako pada naik mas, terutama harga 
beras yang sangat melambung tinggi harganya," ungkap Abu Bakar, salah seorang 
pemilik kios.

      Menurut Abu, kenaikan ini dikarenakan musim paceklik di Indonesia di 
akhir tahun 2009. Dan juga karena varietas beras Jambi yang tidak tahan lama.

                  "Paling cuma 3 bulan beras Jambi ini bertahan, lewat dari itu 
langsung busuk," ungkap Abu.

                  Penjual beras yang telah bertahun-tahun berdagang di pasar 
Angsoduo ini juga mengaku, semua beras yang dijual dipasaran bukan beras dari 
Jambi melainkan semuanya dari Palembang.

                  "Jambi tidak ada stok beras mas, kalau tanpa Palembang kita 
mungkin mau makan apa di Jambi ini," jelasnya sambil menimbang beras untuk 
pembeli.

                  Penjual ini juga mengungkapkan, kualitas gabah Jambi kurang 
kering atau masih mengandung kadar air . Dan ditambah lagi mesin pengeringan 
yang belum ada.

                  "Kita sangat berharap pemerintah memiliki alat pengeringan 
(open) modern dan sekaligus menyimpan beras dalam gudang ketika musim panen 
dengan tingkat kekeringan maksimal sehingga tidak busuk walaupun sudah 
berbulan-bulan," tandasnya.

      Gani, penjual lainnya juga mengaku bahwa harga beras, gula dan sagu 
memang naik dipasaran.

      "Dengan kenaikan harga ini sangat berpengaruh dengan pembeli sekitar 
separuhnya," ungkap Dani penjual sembako yang tinggal dikios pasar Angso Duo.

      Kata Dani, Kalau biasanya mereka (pembeli, red) membeli 2 karung beras 
atau 2 kilogram gula sekarang cuma mampu beli sekarung dan 1 kilogram gula, 
itupun jarang.

      Penjual sembako lainnya, Bani juga mengakui hal yang sama tentang 
kenaikan sembako ini.

      "Gula naik sekitar Rp 1.000 perkilogram dari dulunya Rp 8.500 sekarang 
naik menjadi Rp 9.500 perkilogram. Sedangkan harga sagu dari Rp 4.000 
perkilogram naik menjadi Rp 5.000 perkilogram," ujar Bani saat ditemui sedang 
melayani pembeli dikiosnya dibilangan pasar Angso Duo.

      Menurut Bani, kenaikan harga sagu ini juga dipacu permintaan 
Negara-Negara di Eropa yang sedang mengalami musim dingin. Sehingga mengurangi 
stok dalam negeri Indonesia.

      Sementara itu, dikonfirmasi ke pembeli dipasar tersebut, Nabil, mengaku 
sudah beberapa hari ini harga beberapa sembako naik.

      "Saya ini cuma masyrakat kecil mas, tidak tahu juga apa penyebab naiknya. 
Yang pasti kami sebagai pembeli cukup menderita akan mahalnya barang kebutuhan 
pokok ini," ungkap Nabil.

      Sementara itu saat dikonfirmasi ke Sekretaris Perhimpunan Petani Dan 
Nelayan Seluruh Indonesia (PPNSI) Provinsi Jambi, Hendri Yandri SP mengaku 
kenaikan ini membuktikan lambannya kinerja pemerintahan dalam menstabilkan 
harga sembako yang beredar dipasaran.

      "Kenaikan ini bukan menguntungkan petani melainkan menguntungkan para 
pedagang besar yang sengaja menaikkan harga," ungkap Hendri saat dihubungi via 
telpon seluler, Minggu (13/12).

      Lebih lanjut, pemerintah harus segera melakukan survei harga di pasaran 
dan mengendalikan harga yang sudah melambung tinggi ini.

      "Pemerintah juga harus berani menegur langsung para pedagang besar yang 
menyebabkan para petani dan konsumen menderita akibat kenaikan ini," tegas 
alumnus Fakultas Pertanian Unja ini.

      Tak hanya itu DPRD jangan tutup mata dengan kejadian ini, seharusnya 
mereka segera lakukan sidak terhadap kenaikan yang tidak rasional ini dan 
jangan sibuk dengan urusan politis saja.

      "Dampak kenaikan ini akan terasa langsung oleh masyarakat Jambi yang 
rata-rata para buruh, petani dan masyarakat biasa." tandasnya
     

Kirim email ke