http://batampos.co.id/Kolom/Kamisan/Kecelaka%27an_Pemimpin.html


Kecelaka'an Pemimpin 

Kamis, 15 Oktober 2009 
Manajemen, kata Lee Iaococca, tak lain adalah urusan memotivasi orang lain. Ini 
terdengar seperti omongan sembarangan yang menyederhanakan urusan. Tapi, yang 
bicara bukan orang sembarangan. Dia legenda industri otomotif dunia yang 
membesarkan Ford, lalu Chrysler. 

Dia orang yang pernah membatalkan pencalonan dirinya sebagai presiden Amerika 
Serikat. Dia orang yang mendukung kemudian kecewa dan habis-habisan memaki 
George W. Bush. Dan dialah yang jauh-jauh hari sudah menyebutkan bahwa Barack 
Obama layak jadi Presiden Amerika.   

Jadi, Anda mau membantah atau setuju? Saya setuju saja, tanpa kondisi apa-apa.  
Saya kira Iacocca memang benar. Semua bagian dan tahapan menajemen itu: 
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan, tak akan sampai 
membawa sebuah organisasi ke tujuan atau ke hasil yang diinginkan, tanpa ada 
orang-orang yang mengerjakan semua itu, dan tanpa pemimpin handal yang menjaga 
semangat orang-orang yang bekerja itu. 

Saya kira, Iacocca tak lagi bicara soal manajemen di sini, tapi ia sudah 
menyentuh pada hal yang lebih penting: Kepemimpinan.  Ya, perihal kepemimpinan 
itu, memang menjadi kerisauan Iacocca, terutama saat ia mencemaskan George W. 
Bush, yang dia sebut sebagai kecelakaan paling tragis dalam sejarah 
kepemimpinan Amerika. 

Bush, juga menjadi contoh dalam buku terbaru John C. Maxwell Leadership Gold 
(Immanuel Publishing House, Jakarta, Cet. 1, 2009) bagaimana pemimpin bisa 
mengembangkan kepemimpinan dengan benar di satu momentum, tapi di momentum lain 
bisa amat salah.   

Di mata Maxwell, Bush benar ketika tampil sebagai pemimpin setelah peristiwa  
11 September. Tetapi, nama yang sama memberikan tanggap yang buruk ketika badai 
besar Katrina menghantam negeri itu. Dan Maxwell menulis, ..Hanya perlu 
beberapa hari bagi orang di Amerika Serikat untuk merasakan kekosongan 
kepemimpinan - dan bahkan banyak pendukung presiden itu mencela 
kepemimpinannya!   

Bush, atau siapapun presiden yang memimpin saat bencana itu datang, tentu tak 
harus berbasah-basah terjun menyelematkan rakyatnya yang rumahnya tenggelam. 
Ada tim yang cepat dan tanggap untuk itu. Yang diperlukan adalah tindakan 
besar, pernyataan resmi dan cepat yang mampu menyemangati mental orang umum 
yang jatuh, dan membesarkan hati, dengan kata lain ya memotivasi juga. 

Jika harapan itu tak tercukupi? Jika rakyat tak tersemangati? Kejatuhan 
reputasi menunggu, kecelakaan kepemimpinan tinggal menunggu waktu. Mereka yang 
dipimpin itu, rakyat itu, mereka yang menyumbangkan suara untuk dia yang 
memimpin itu, mudah sekali kecewa, menjauh dan mencela. Dan di sinilah 
berakhirnya  kepemimpinan seseorang, jauh mendahului pemilihan umum yang resmi. 
   

Kita sesegera mungkin seharusnya lebih banyak memberi perhatian pada hal 
kepemimpinan ini. Maxwell tidak percaya bahwa bakat kepemimpinan itu adalah 
bakat yang dibawa sejak lahir. Kepemimpinan bisa diajarkan. Dan saya kira 
memang harus diajarkan. Maxwell sendiri, sejak karirnya yang dini, telah 
menyadari bahwa segala sesuatu bisa jatuh dan bangun karena kepemimpinan.  
Sejak itu, 40 tahun sebelum buku Leadership Gold itu dia tulis - melengkapi 
rangkaian buku-buku tentang kepemimpinan lain karyanya - Maxwell meyakini bahwa 
menyusun ajaran kepemimpinan yang sesuai dengan perubahan zaman adalah bidang 
yang ia dalami. 

Maxwell adalah seorang pendeta yang memulai karirnya di sebuah gereja kecil.  
Kebaktian pertama yang ia pimpin sukses? Tidak, karena gereja yang dia sebut 
beratap lengkung dan berdinding miring itu hanya berisi tiga jemaat. Dua adalah 
dia dan istrinya sendiri! 

Ia tidak menyalahkan kemalasan warga kota di mana gereja itu berdiri. Dia 
membenahi bagaimana caranya memimpin. Dia memotivasi warga kota yang adalah 
jemaat gerejanya itu agar rajin beribadat. Dengan gereja yang sama, dengan 
warga yang sama, Maxwell bisa mengubah sepinya gereja menjadi peribadatan yang 
ramai. Jadi, masalahnya adalah siapa yang memimpin, dan bagaimana dia memimpin, 
bukan? 

Maxwell adalah Guru kepemimpinan modern. Ajarannya mendunia dan universal. 
Melintasi sekat iman, etnis dan batas negara.  Ia menulis teori dengan amat 
praktikal. Ia selalu melengkapi bukunya dengan langkah-langkah praktis yang 
harus dilakukan jika pembaca ingin menguasai teori yang dia diajarkan. 

Saya ingin mengutipkan satu hal penting tentang apa yang dia sebut sebagai 
pemimpin yang efektif. Yaitu pemimpin membawa orang-orang ke puncak. Pemimpin 
yang mengangkat orang-orang ke tingkat baru. "Inilah persyaratan bagi pemimpin 
yang efektif," kata Maxwell. 

Lawannya adalah apa yang ia sebut sebagai 'pemimpin egois'. Yaitu pemimpin yang 
meninggalkan semua orang di belakang dan menempuh perjalanan sendirian. Oh, 
betapa banyak kita lihat mereka yang memimpin dengan cara ini. 
Saya sangat menyarankan siapa saja membaca buku Leadership Gold ini, terutama 
para pemimpin. Tapi, bukankah kata Rasulullah setiap dari kita adalah pemimpin? 
Dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban?   

Bukankah Rasulullah juga pernah bersabda bahwa apabila ada tiga orang yang 
berada dalam suatu perjalanan, maka hendaklah salah seorang di antaranya 
memimpin mereka.   

Jadi, kepemimpinan itu bukan perkara yang ada di awang-awang. Ini bukan urusan 
orang-orang besar saja. Ini adalah urusan kita semua, di sini, dan saat ini. 
Kita sedang dalam perjalanan yang tak bisa dihentikan. Banyak saudara kita yang 
merasa kepemimpinan itu kosong, dan mereka mengangkat dan memuja serta patuh 
pada pemimpin yang mereka akui sendiri. 

Kita harus menunjuk seseorang menjadi pemimpin di antara kita, resmi atau tak 
resmi. Dan  mungkin kita sendiri yang dipercaya untuk mengemban amanah itu. 

Hari-hari ini, kita melihat mantan Bupati dan Bupati Natuna ditahan, kelak 
menjalani serangkaian siding dan dijatuhi hukuman. Kenapa? Karena dia tak 
bertanggung jawab pada kepemimpinannya.  Dalam sekala kecil, tapi tak kalah 
memalukannya, ini adalah kecelakaan dalam sejarah kepemimpinan lokal kita. 

Anda yang menang pilkada, Anda yang dapat kursi DPRD, Anda yang diangkat jadi 
manajer, Anda yang ditinggikan sebenang  dan didahulukan selangkah, Anda pikir 
Anda sudah melewati ujian terhebat? Belum! Masa ujian panjang sedang Anda 
jalani.

Kirim email ke