http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=40205:saya-mengagumi-china-&catid=78:umum&Itemid=131


      Saya Mengagumi China      
      Oleh : Hidayat Banjar



      Jujur saja, saya kagum dengan China, tidak saja sekarang, bahkan ketika 
masih kanak. Sekitar 35-40 tahun yang lalu, rumah kami di Desa Kampung Baru 
Kecamatan Medan Baru (ketika itu - sekarang kecamatan Medan Maimoon) 
bersebelahan dengan warga keturunan China

      yang masa itu di depan rumahnya terpajang pamlet kecil: warga RRT 
(Republik Rakjat Tjina).

      Dengan pamlet RRT tersebut, teman, sahabat, bahkan seperti saudara itu, 
harus merasakan demikian banyak pungutan. Tapi mereka sekeluarga menjalani 
hidup dengan optimis dan penuh keceriaan.

      Mereka benar-benar melakoni hidup dengan kerja keras agar bisa survival. 
Setiap anak, begitu mulai besar, dilatih untuk mencari duit: membuat kantongan 
beras dari kertas semen, membuat sampul buku, berjualan sate kerang, agar-agar 
dan lain sebagainya. Jadi, kalau pagi sekolah, siangnya bekerja di rumah atau 
di pabrik. Pokoknya hidup mereka memang 'dipaksa' keadaan untuk pragmatis.

      Saudara-saudara teman tersebut yang begitu banyak, tidak menjadi beban, 
justru jadi kekuatan ekonomi keluarga. Bayangkan, kalau di rumah mereka ada 13 
orang. Setidaknya 8 sampai 9 orang mencari duit. Akhirnya secara ekonomi, 
mereka tidak masalah.

      Waktu bergulir, pamlet RRT di depan rumah mereka pun tidak dipasang lagi, 
tetapi perlakukan diskriminasi masih saja diterima ketika itu. Tapi semua itu 
tak pernah terdengar dikeluhkan, mereka tetap bekerja keras untuk hidup.

      Sekarang, rata-rata teman-teman saya tersebut sudah sukses secara 
ekonomi. Ada yang jadi toke dari bengkel sepeda motor, buka usaha asinan 
buah-buahan, spare part mobil, ada yang bekerja di Taiwan, dan macam-macam 
usaha lainnya. Cara berpikir pragmatis dasar dari enterpreneur dan 
kegotongroyongan mereka kerap jadi acuan kami dalam keluarga untuk bertahan 
hidup dalam kondisi sesusah apa pun.

      Saya tak tahu persis, apakah falsafah hidup warga keturunan di Indonesia 
(khususnya teman-teman saya) punya benang merah dengan China? Yang saya tahu, 
kemajuan ekonomi China rata-rata tumbuh 10 persen sejak 1980-an hingga kini. 
China menjadi super power baru yang secara geopolitik berpotensi menjadi 
"ancaman" negara-negara industri maju. 

      Ada tiga hal mendasar dan penting yang ditanamkan dan diterapkan China 
hingga mencapai kemajuan seperti sekarang. Pertama soal kepercayaan diri, kedua 
prioritas pendidikan, dan ketiga peta jalan ke depan. Ketiga hal mendasar ini 
secara konsisten dan simultan terus diimplementasikan China dalam kehidupan 
berbangsa dan bernegara.

      Kepercayaan diri adalah satu sifat yang dibangun dan dikembangkan Mao 
Zedong sejak awal 1930-an hingga 1970-an. Percaya diri itu dibangun sebagai 
jawaban atas "penghinaan seratus tahun" (bainian guochi) sebelumnya oleh 
bangsa-bangsa Barat dan Jepang sejak Perang Candu 1840-1949. 

      Dasar pendidikan, dijalankan para pemimpin China sejak Mao. Menurut Gang 
Guo (2007), selama Revolusi Kebudayaan, jumlah siswa masuk sekolah dasar 
meningkat separuh, sekolah menengah pertama naik empat kali lipat, dan sekolah 
menengah meningkat 14 kali lipat. Memang ada perdebatan terkait kualitas 
pendidikan. Namun Mao memberi dasar distribusi yang lebih merata sumber daya 
manusia. 

      Pendidikan Karakter

      Deng Zioping pada 1978 mengatakan, "Bila China ingin memodernisasi 
pertanian, industri, dan pertahanan, yang harus dimodernisasi lebih dulu adalah 
sains dan teknologi serta menjadikannya kekuatan produktif." Pada 1985, Deng 
menegaskan pentingnya pendidikan karakter, dan orientasi hapalan dianggap 
"membunuh" karakter anak. Setelah itu, guru dan kaum profesional amat dihargai.

      Presiden Jiang Zemin pada 2000 mengumpulkan semua pemimpin China untuk 
membahas bagaimana mengurangi beban pelajaran siswa melalui adopsi sistem 
pendidikan yang patut secara umur dan menyenangkan, serta mengembangkan semua 
aspek dimensi manusia, kognitif, karakter, estetika, dan fisik.

      Pada 2005, Pusat Penelitian Modernisasi China menerbitkan peta jalan 
Modernisasi China untuk abad ke-21. Isinya: tahun 2025 produk domestik bruto 
(GDP) China menyamai Jepang. Tahun 2050 China jadi negara maju secara moderen. 
Tahun 2080 China menjadi negara maju, sama dengan AS. Tahun 2100 China menjadi 
negara paling maju di dunia, melampaui AS. Atas dasar peta jalan itu, China 
bergerak menuju masyarakat yang lebih baik secara bersama (xiaokang).

      Kekaguman saya bertambah-tambah lagi ketika 17 September 2008 Zhang 
Xinyang, Anak Ajaib dari Tiongkok diberitakan telah kuliah master dalam usia 13 
tahun. Zhang Xinyang benar-benar fenomenal di dunia pendidikan. 

      Dalam usia yang sangat belia, 8 Juli (2008) genap berusia 13 tahun, dia 
sudah terdaftar sebagai mahasiswa pascasarjana Universitas Teknologi Beijing. 
Jurusan yang diambil pun bukan sembarangan, matematika.

      Zhang memang tertarik dan berbakat dalam disiplin ilmu yang oleh 
kebanyakan anak seumurnya justru menjadi momok. Gelar S-1 nya pun dia dapatkan 
dari bidang Matematika di Universitas Teknik Tianjin.

      Perjalanan akademik Zhang memang membuat banyak orang terkesima. Masuk SD 
umur lima tahun, Zhang kecil hanya dua tahun duduk di SD, SMP dan SMA juga 
dijalaninya dengan ekspres. Ketika teman-teman sebayanya masih asyik bermain, 
pada usia 10 tahun Zhang justru terdaftar sebagai mahasiswa matematika di 
Universitas Teknik Tianjin.

      Zhang memang benar-benar menggandrungi matematika. Demi mewujudkan 
mimpinya sebagai pakar matematika, dia benar-benar menggembleng diri. Ia juga 
menyiapkan betul ujian masuk perguruan tinggi (NCEE) sedari awal. Usahanya 
tidak sia-sia. Zhang lulus ujian NCEE dengan skor 505, atau 47 poin di atas 
skor rata-rata, tapi nilai bahasa Tiongkok dan Matematikanya tidak begitu 
memuaskan.

      Menyandang status mahasiswa di usia 10 tahun, Zhang dengan segera menarik 
perhatian publik karena menjadi mahasiswa termuda di Tiongkok. Rekor mahasiswa 
termuda sebelumnya dipegang Feng Hao dari provinsi Hunan yang masuk Universitas 
Hunan pada tahun 2002 ketika usianya 12 tahun.

      Yang menarik, dosen Zhang di Tianjin, Profesor Zhang Yuehui, mengatakan 
bahwa IQ Zhang sebenarnya hanya superior, dua tingkat di bawah jenius. Namun, 
Zhang dinilai memiliki tingkat logika yang tinggi dan pandai mengatur jadwal 
studinya.

      Kecintaannya membaca buku termasuk buku di luar studinya, membuat Zhang 
hanya butuh kurang dari tiga tahun - dari jatah empat tahun - untuk menuntaskan 
skripsi. Karena dianggap masih kecil, ketika di Tianjin, mahasiswa cilik ini ke 
kampus bersama dengan ayahnya yang setia menunggu selama dia kuliahnya. Meski 
begitu Zhang juga memulai belajar mandiri dengan menjadi tutor matematika paruh 
waktu.

      Atas serentetan prestasi ini, ketika berumur sepuluh tahun, terbitlah 
buku "The Magic Study" yang merekam perjalanan hidupnya. Sang penulis, Xiao 
Chuan, dari Universitas Normal Beijing, mengatakan sukses Zhang Xinyang 
merupakan sukses orang tuanya dalam mengeluarkan potensi sang anak.

      Stefano Chiesa 

      Sebenarnya anak-anak Indonesia pun tidak kalah hebat, tapi apakah mungkin 
sistem pendidikan kita yang berjenjang dari SD hingga PT dapat diretas, hingga 
dalam usia yang masih sangat belia seseorang sudah jadi sarjana seperti Zhang? 

      7 April 2009 lalu diberitakan tentang bocah-bocah jago matematika. Salah 
seorang di antara bocah-bocah itu adalah Stefano Chiesa Suryanto. 

      Bocah 12 tahun itu banyak menorehkan prestasi internasional di bidang 
matematika sejak duduk di kelas V SD St Theresia, Menteng, Jakarta Pusat. 
Belasan prestasi internasional telah dia raih pada usia yang masih sangat 
belia. Lantaran prestasinya yang cukup prestisius itu, Stefano yang dijuluki 
the Golden Boy mendapat penghargaan dari Muri (Museum Rekor Indonesia). 

      Penghargaan itu diberikan karena anak pasangan Ary Suryanto dan Widya itu 
berhasil mengantongi medali emas di kancah International Mathematics Olympiad 
and Science (IMSO) selama dua tahun berturut-turut. Pada 2007, dalam perhelatan 
kompetisi itu, dia sukses menggenggam dua gelar sekaligus. Tak hanya berhasil 
mengantongi medali emas, bocah yang kini duduk di kelas VI itu menyabet gelar 
the best theory. "Itu adalah kali pertama siswa bisa meraih dua gelar sekaligus 
dalam usia yang begitu muda. Karena itu, Muri memberi dia penghargaan," tutur 
sang ayah, Ary, dengan bangga.

      Tapi Stefano tetap saja seorang siswa SD, tidak melompat ke jenjang 
pendidikan yang lebih tinggi.*** 

      Penulis adalah peminat masalah sosial budaya. Menetap di Medan. 
     

Kirim email ke