http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=40204:revolusi-pemikiran-melalui-marketing-outlook-2010-&catid=78:umum&Itemid=131
Revolusi Pemikiran Melalui Marketing Outlook 2010
Oleh : Drs. John Foster Marpaung MA
Masa depan suatu bangsa selalu ditentukan oleh SDM bangsa tersebut.
Istilah ini sudah tidak bisa terbantahkan lagi.
Sebenarnya kalau kita mau jujur, perang yang paling dasyat sebenarnya
adalah perang Sumber Daya Manusia. Segala sesuatu selalu diawali dengan SDM.
Maka tidak mengherankan bangsa yang menguasai perkembangan IPTEK dan Ilmu
Manajemen modern selalu menjadi pemenang.
Metode dan style dari negara yang SDM maju dalam menghadapi krisis global
selalu berbeda dengan metode negara yang SDM nya biasa-biasa. Memang, SDM yang
handal dengang menggunakan manajemen modern selalu bisa menjadi pemenang,
minimal mampu bertahan di era krisis yang paling parah sekalipun.
Ketika kita dihadapkan pada sebuah pemikiran tentang ketidakpastian dalam
menghadapi pasang surut gelombang kehidupan tahun 2010, maka upaya dan berbagai
metode yang dalam ilmu manajemen disebut strategi akan kita upayakan.
Mengingat sesuatu dalam manajemen praktis selalu dinamis, maka rangkaian
strategi yang akan kita pilih selalu merupakan yang terbaik. Perencanaan yang
matang, inovasi yang handal, optimalisasi kerja, evaluasi dan pengawasan yang
objektif akan selalu mendasari strategi kedepan. Muaranya semua selalu sama,
bagaimana supaya bisa survive. Bagaimana menjadikan sesuatu itu bisa survive
adalah out put dari pada sebuah manajemen dengan segala konsekuensi logis yang
ditimbulkannya.
Penulis sangat tertarik ketika membaca sebuah tulisan di dunia maya yang
ditulis oleh Anshar Daud, (Dosen MM STIE Nitro Fajar Makasar, Fajar Online)
tentang pola berpikir Marketing Outlook 2010. Dalam hal ini semua elemen bangsa
ini saatnya berbenah dengan pembenahan kualitas yang dimilikinya.
Persaingan Sangat Ketat
Mengingat era persaingan yang sangat ketat yang ditandai dengan
perkembangan teknologi yang tiada mempunyai tepian telah memaksa kita melakukan
revolusi pemikiran dalam hal managerial. Bagaimana menangkap dan menciptakan
peluang adalah sesuatu keharusan kalau kita masih ingin menjadi pemain utama,
dan bukan pemain pinggiran.
Untuk itu, tidak ada yang bisa menggantikan sebuah cetak biru pemikiran
brilian. Konsep berpikir dengan strategi yang jitu adalah keharusan dalam
menghadapi gelombang persaingan pada tahun 2010 ini.
Coba kita lihat dan analisa dulu, dalam cerah langit ekonomi 2010,
terselip "uncertainty" sebagai sebuah normalitas baru. Butuh kejelian dan
eksekusi marketing yang jitu pada setiap signal perubahan di pasar. Kejujuran
dan transparansi menjadi daya saing baru dan langka dalam era Marketing 3.0.
Dalam tahun 2010, semua pihak sepakat bahwa ekonomi Indonesia akan lebih
baik dibanding 2009 dengan estimasi pertumbuhan 5,4-5,9 persen dan inflasi
4,5-5,5 persen.
Untuk mendukung dan menguatkan keyakinan kita terhadap membaiknya iklim
usaha 2010, mari simak temuan survey Markplus Insight yang dilaksanakan bulan
Juli dan November 2009. Dalam laporannya disebutkan bahwa 76,8 persen responden
setuju bahwa kondisi ekonomi 2010 lebih cerah, 3 persen sangat baik, 14,9
persen menyatakan kondisinya sama saja dan hanya 1,8 persen menganggapnya lebih
buruk.
Survey juga dilakukan untuk mengidentifikasi daya beli konsumen 2010.
Hasilnya adalah 9,1 persen berpendapat sangat tinggi, 60 persen tinggi, 21,8
persen biasa saja, 7,3 persen rendah dan 1,2 persen rendah sekali.
Temuan survei yang lain adalah mayoritas pelaku usaha sepakat untuk
meningkatkan aktivitas marketing-nya dalam enam bulan ke depan, baik yang
terkait dengan penjualan, biaya pemasaran, intensitas promosi maupun proses
distribusi produk.
Bidang-bidang usaha yang dipandang prospektif dan memiliki tren
pertumbuhan yang tinggi sepanjang 2010 adalah telekomunikasi, consumer goods,
property, otomotif dan retail. Secara makro dan mikro situasi bisnis cukup
kondusif (the sky looks brighter) sehingga dapat menjadi bekal dan pijakan awal
bagi semua pelaku usaha dalam menyusun action plan tahun 2010. Salah satu unit
dalam perusahaan yang men-drive cashflow adalah bidang marketing.
Substansi yang urgent dan perlu menjadi fokus perhatian adalah sejauh
mana personel marketing mampu menangkap dinamika pasar dan merespons secara
cepat dan akurat. Kompleksitas pasar dipengaruhi oleh variabel regulasi dan
supply-demand, serta faktor ekspektasi, asumsi-asumsi, spekulasi para pelaku
pasar dan intervensi penguasa. Interaksinya bisa memicu ketidakpastian dan
krisis.
Mengingat dinamika pemasaran identik dengan medan perang, maka siapapun
Anda dan apapun jenis bisnis yang digeluti, patut memahami tren pemasaran yang
tengah berlangsung dan bakal terjadi di tahun 2010. Pemasaran sebagai sebuah
disiplin ilmu mengalami transformasi menyesuaikan diri dengan perubahan yang
berlangsung dalam kehidupan sosial masyarakat. Kita mengenal zaman, begitu pula
dengan marketing.
Dulu orang membeli barang berdasarkan azas manfaat (rational benefit),
pertimbangan utamanya adalah harga dan kualitas. Ini dinamakan zaman rational
marketing atau orde marketing 1.0. Seiring perjalanan waktu dan perubahan life
style konsumen, maka harga dan kualitas sudah dianggap given dan merupakan
entitas yang mutlak melekat pada produk/jasa.
Atribut yang menjadi fokus perhatian adalah kemampuan produk dalam
meningkatkan citra dan harga diri, memenangkan hati dan ego konsumen. Ini
adalah eranya emotional marketing atau orde marketing 2.0.
Timbulnya beragam krisis ekonomi dan kemajuan teknologi khususnya
telekomunikasi memicu kesadaran baru bagi masyarakat dunia akan pentingnya
nilai kejujuran dan transparansi. Keduanya adalah resource yang langka dan
mampu menjadi daya saing perusahaan dalam jangka panjang dan sulit ditiru.
Kejujuran inilah yang menjadi spirit lahirnya orde baru marketing, yaitu
spiritual marketing (human-spirit marketing) atau marketing 3.0.
Legacy Marketing
Era pemasaran rasional (marketing 1.0) dan emosional (marketing 2.0)
dapat disebut sebagai pemasaran orde lama (legacy marketing). Perselisihan
antara RS Omni dan Prita Mulyasari adalah contoh yang gamblang tentang praktik
legacy marketing. Dalam konteks ini aktivitas pemasaran bersifat vertikal,
birokratis, satu arah, produsen adalah subjek dan konsumen diperlakukan sebagai
objek pemasaran.
Instrumen utamanya adalah marketing mix dan hanya sedikit perusahaan yang
memanfaatkan unsur strategi (segmentasi, targeting & positioning) dan value
(branding, process & service) pemasaran.
Produk kategori komoditas seperti sembako, hasil pertanian, perkebunan,
perikanan, sebagian FMCG dan barang/jasa sejenis lainnya yang tidak
mengandalkan merek (brand) masih relevan menggunakan pola marketing 1.0.
Fokusnya adalah bagaimana menjaga kesesuaian antara harga, kualitas,
kemasan dan pasokan sehingga konsumen memperoleh manfaat yang setara dengan
nominal uang yang harus mereka bayar. Produk otomotif, properti, elektronik,
tekstil dan branded goods lainnya dapat tetap memanfaatkan era marketing 2.0
dengan lebih menekankan eksplorasi aspek strategi dan value marketing serta
memulai penjajakan untuk memasuki orde marketing 3.0.
New Wave Marketing
Orde baru pemasaran (new wave marketing) atau marketing 3.0 bukan berarti
era pendahulunya sama sekali ditinggalkan dan tidak berlaku lagi.
Marketing 3.0 justru merupakan penyempurnaan dari era sebelumnya,
sehingga khazanah marketing lebih kaya, lengkap dan mampu memanusiakan
konsumen. Produsen dan konsumen berada dalam posisi yang setara, memiliki
saling ketergantungan, komunikasi berlangsung dua arah sehingga dapat terbangun
kemitraan dan hubungan yang bersifat horizontal.
Masing-masing pihak (penjual dan pembeli) mempunyai akses terhadap
informasi yang berimbang sehingga dapat terjalin negosiasi yang fair, jujur dan
transparan serta win-win solution. Kemajuan teknologi wireless mobile dan
internet merupakan driver utama lahirnya konsep marketing 3.0.
Eksistensi telepon seluler membuat sebagian besar orang dapat terhubung
(connect) dengan siapapun, kapan dan dimanapun mereka berada. Fenomena mobile
and connect menjadi lebih bergairah dengan berkembangnya internet web 2.0 dan
memicu munculnya social media seperti Facebook, MySpace, Twitter, Kaskus dan
sejenisnya.
Ciri konsumen Indonesia adalah senang berkumpul dan curhat (sharing).
Gemar ngumpul dan curhat ini menjadi gayung bersambut melalui media sosial dan
piranti mobile. Dulu konsumen ngumpul di arisan, pengajian, pesta/hajatan,
organisasi sosial/profesi dan lain-lain.
Sekarang, tempat ngumpulnya migrasi ke dunia maya Facebook, Twitter,
Kaskus dan sebagainya. Di sana mereka membangun koloni dalam bentuk grup-grup
komunitas sesuai interest, hobby, icon, issue dan seterusnya.
Kedahsyatan online community terlihat jelas dalam kasus Cicak vs Buaya
dan Koin Prita, mereka sanggup memobilisasi opini, dukungan, sumber daya dan
massa dalam waktu yang sangat singkat. Fakta ini membuktikan bahwa era
marketing 3.0 sudah tiba dan mengharuskan para marketer untuk memahami dan
menggelutinya.
Untuk itu, Keywords marketing 3.0 adalah mobile and connect, mampu
melebur dalam offline dan online communities dan perusahaan mempunyai flatform
yang bisa mengakomodasi proses komunitisasi konsumen. Karakter Marketer 3.0
adalah mobile (gaul) sehingga mampu merekatkan diri dengan all stakeholders-nya
(konsumen, supplier, regulator, asosiasi, kompetitor, YLK/LSM) melalui
community offline dan online.
Potret ekonomi, temuan survey Markplus Insight, konsep dan analisis
marketing sebagaimana diuraikan di atas merupakan pra kondisi yang baik bagi
dunia usaha dalam menyongsong dan memasuki tahun 2010.
Mari satukan tekad, spirit dan optimisme yang tinggi dalam menjalankan
putaran roda ekonomi bangsa secara optimal sekecil apapun peran yang dilakoni
untuk Indonesia yang lebih maju dan kompetitif dalam kancah pasar global.***
Penulis adalah: Ketua Dewan Pembina Perguruan Tinggi Pelita Bangsa Medan.