http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2010011301394715
Rabu, 13 Januari 2010
BURAS
Lepat Singkong Vs Istana di Penjara!
H. Bambang Eka Wijaya
MBAH Siyem, yang rumahnya berhampiran dengan afdeling--perumahan buruh
perkebunan--setiap hari membuat lepat singkong. Sebaskom lepat, begitu masak
diletakkan di meja teras rumahnya, ia pun langsung salat zuhur dan melepas
lelahnya membuat lepat dengan tidur siang. Saat asar dia bangun, baskomnya
sudah kosong! Di hari gajian, warga afdeling berdatangan membayar lepat yang
mereka ambil, menyebut sendiri berapa jumlah lepat yang harus dibayarnya.
"Apa Mbah tak pernah dibohongi orang, dia ambil banyak diakui sedikit?"
tanya tetangga.
"Tentu saja pernah!" jawab mbah.
"Mbah tahu orangnya?" kejar tetangga.
"Tahu!" jawab mbah, bernada pasti.
"Bagaimana bisa tahu, saat mereka mengambil lepat kan Mbah sedang tidur?"
timpal tetangga.
"Orangnya mengaku sendiri!" jelas mbah. "Waktu pulang dari penjara
didakwa mencuri karet milik perkebunan, dia langsung mampir dan meminta maaf!
Katanya, dia masuk bui gara-gara kualat berbohong pada mbah, cuma membayar
sebagian lepat yang dia ambil! Ia yakin begitu, karena orang lain mencuri karet
tak masuk penjara!"
"Kualat gara-gara membayar cuma sebagian lepat Mbah?" tetangga tersentak.
"Bagaimana pula dengan koruptor miliaran atau triliunan dengan mengencundangi
hak banyak rakyat jelata?"
"Kualat itu menurut perasaan orangnya!" ujar mbah. "Dia cerita, setiap
malam di penjara tak bisa tidur! Sebenarnya karena penjara sempit, ruangan yang
seharusnya untuk 10 orang, diisi 40 orang! Tapi akibat tak bisa tidur,
pikirannya melayang mencari penyebab penderitaan itu, yang selalu muncul
perasaan kualat berbohong padaku!"
"Berarti kalau penjaranya nyaman, ruang 8 X 8 meter untuk sendirian,
berpendingin, berfasilitas hotel bintang, televisi layar datar dan karaoke,
termasuk peralatan bermain anak-cucu yang boleh datang kapan saja, seperti yang
bisa diperoleh koruptor sesuai temuan Satgas Mafia Hukum, meski dipenjara tak
menderita seperti pencuri karet itu, jadi tak ada tekanan untuk merasa kualat!"
tukas tetangga. "Bisa jadi itu penyebab korupsi sukar diberantas, karena
terbongkar pun korupsinya orang tetap bisa mendapat istana dalam penjara!"
"Mestinya bagaimana?" tanya mbah.
"Bangun penjara khusus buat koruptor! Ada rupa ada harga, uangnya resmi
masuk kas negara!" tegas tetangga. "Ada bangsal untuk kelas teri yang tak mampu
bayar! Lalu ada kelas satu dan dua, tarifnya hotel melati untuk para tumbal
yang dikorbankan demi menyelamatkan tindak korupsi bosnya! Untuk koruptor
sejati tersedia VIP, super-VIP, VVIP, super-VVIP, dan super-VVIP plus, tarif
dan fasilitas hotel bintang satu sampai lima!"
"Kalau dibuat semewah itu lepat singkongku kalah!" keluh mbah. "Karena
orang tak lagi takut kualat korupsi, mengambil lepat lima diakui satu!" ***
<<bening.gif>>
<<buras.jpg>>
