Pak Ambon, mbok ya yang dihajar tuh yang bilang kata b* itu bukan semua anggota DPR.. Kalau masih kurang puas, ya man tereman se-fraksi si preman lah.. tapi bukan semua aleg DPR.. ngaco tuh..
-- Wassalam, Irwan.K "Better team works could lead us to better results" http://irwank.blogspot.com Pada 13 Januari 2010 06:24, sunny <[email protected]> menulis: > > > Refleksi : *Tentu saja di Dewan Penipu Rakyat (DPR) kata bangsat adalah > masalah biasa, bukan pelanggaran hukum apa pun, karena begitulah mutu > para penipu!* > > > http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/kata-bangsat-dari-dewan-terhormat/ > > Senin, 11 Januari 2010 13:30 Kata Bangsat dari Dewan Terhormat > > OLEH: ARDI WINANGUN > > *memanas, sampai-sampai antaranggota pansus terjadi saling debat kusir, > bSuasana Sidang Pansus Bank Century dari hari ke hari semakin ahkan salah > satu anggota pansus dari Partai Demokrat Ruhut Sitompul mengatakan kata > bangsat kepada pemimpin sidang dari Fraksi PDIP Gayus Lumbuun.* > > Nah, bila demikian di mana letak etika anggota DPR bila sudah mengatakan > umpatan yang termasuk dalam kategori kotor dan merendahkan itu? > > Menjadi anggota DPR di Indonesia syaratnya memang sangat mudah sehingga > setiap orang bisa mengajukan dirinya menjadi anggota DPR. Hal demikian di > satu sisi membuat adanya egaliter politik, siapa saja berhak dipilih dan > memilih. Namun di sisi lain, dengan adanya kebebasan maka tidak ada seleksi > sehingga orang yang berkualitas dan tidak beretika bisa terpilih. > > > Munculnya kata bangsat yang dilontarkan oleh Ruhut itu merupakan sebuah > bentuk politik yang menghalalkan segala cara. Bila ini dibiarkan tentu > dalam sidang-sidang anggota DPR akan terjadi tidak hanya umpatan, namun > perkelahian. Meski itu sudah pernah terjadi, tetapi tingkatnya akan lebih > tinggi dan lebih seru. Memang kalau kita melihat parlemen-parlemen di > negara lain, di Taiwan misalnya, dalam sidang-sidang parlemen mereka sering > adu fisik, namun hal yang demikian bukan budaya kita dan tidak > mencerminkan sikap memiliki kapasitas sebagai anggota DPR. > > > Kesalahan partai politik dalam merekrut calon anggota legislatif > (caleg)-nya inilah yang mencitrakan bahwa partai itu sekadar merekrut orang > tanpa melihat kemampuan dan etikanya. Tak heran bila ada partai politik yang > bercitrakan artis karena banyak merekrut artis. Untuk itu partai politik > dalam merekrut calegnya harus mempertimbangkan kapasitas, kualitas, dan > etika. Bisa saja secara kapasitas dan kualitas Ruhut memenuhi, namun kalau > secara etika itu perlu dipertanyakan karena dirinya sudah mengeluarkan kata > bangsat. > > > Selama ini partai politik merekrut caleg hanya berdasarkan pertimbangan > ketenaran, kekayaan, dan ketokohan semata. Ketenaran inilah yang membuat > banyak partai politik yang merekrut calegnya dari kalangan artis. Figur yang > ganteng, cakap, dan lucu ternyata merupakan penampilan yang menarik bagi > masyarakat, sehingga masyarakat pun berduyun-duyun mencentangnya. Namun, > sepertinya dunia artis belum bisa menjanjikan kemampuannya dalam dunia > politik. > > > Indikasinya adalah, berdasarkan pengalaman dari aktor Arnold > Schwarzenegger yang menjadi Gubernur California, USA, ternyata > Schwarzenegger setelah enam tahun menjadi gubenur gagal mewujudkan > pembaruan fiskal yang dijanjikannya pada awal jabatannya dan kesempatan > untuk memenuhi janjinya itu semakin menyusut. Kemudian, berdasarkan > umpatan bangsat tadi dengan mengacu apa yang diungkapkan Gayus Lumbuun > menghadapi Ruhut merupakan suatu yang sulit sebab yang dihadapi adalah > pemain sinetron. > > Hati-hati Pilih Caleg > Artis terjun dalam dunia sinetron tentu membuat mereka bingung, gugup, dan > kelihatan linglung dalam dunia yang selama ini baru baginya. Dunia politik > merupakan dunia yang sangat jauh dari dunia keartisan. Mereka yang > biasanya bekerja dalam dunia akting, glamor, sebagai presenter atau master > of ceremony (MC), tiba-tiba harus bersentuhan dengan dunia yang penuh > intrik, adu debat, lobi-lobi, menyerap aspirasi, dan mengawasi jalannya > pemerintahan. > > > Apabila mereka tidak sanggup, tentunya mereka akan lebih banyak > dikendalikan oleh partai politiknya, sebab mereka tidak menguasai masalah > atau bahan-bahan yang harus dikerjakan. Apabila demikian yang terjadi, > aspirasi dan perjuangan yang diamanatkan rakyat kepada mereka tidak akan > bisa dilakukan. > > Bila demikian, partai politik harus lebih hati-hati dalam memilih calegnya. > Menurut pengamat politik dari LSI Burhanuddin Muhtadi, jika tingkah laku > Ruhut ini keseringan dengan cara-cara yang kurang santun akan bisa merusak > citra Partai Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono. Tidak hati-hatinya > partai politik merekrut caleg juga dikhawatirkan oleh Ketua Mahkamah > Konstitusi Mahfud MD. > > > Mahfud MD mengeluhkan soal rendahnya kualitas dari hasil produk legislasi > yang dihasilkan DPR. Menurut mantan politikus Partai Kebangkitan Bangsa > itu, hal ini bisa terjadi karena banyaknya anggota DPR yang bukan orang > hukum, bahkan sekolahnya hanya di pesantren. Jadi, tidak mengerti legal > drafting (pembuatan undang-undang) dan aturan ketatanegaraan. > Sebenarnya banyak anggota DPR yang tidak hanya tidak beretika dalam > ucapan, namun juga banyak yang tidak beretika dalam tindakan. Berdasarkan > pengalaman, kita sering melihat anggota DPR bolos daripada mengikuti > proses-proses pembuatan legislasi. Ini bisa terjadi karena faktor tidak > bisa mengikuti pembahasan materi. > > > Mereka tidak bisa mengikuti pembahasan materi karena tidak menguasai > masalah. Ini bisa terjadi karena mereka tidak memiliki kapasitas, sehingga > mereka merasa tidak enjoy berada di dalam ruang sidang. Daripada kelihatan > diam dan tidak vokal, mereka lebih memilih bolos atau sekadar tanda tangan > kehadiran saja, sebab bila tetap memaksakan dirinya di dalam ruangan akan > membuat mereka salah ucap atau mengumpat dengan kata-kata yang kotor, > misalnya bangsat. > > Penulis adalah Pengurus Presidium Nasional Masika ICMI. >
