http://www.radartarakan.co.id/index.php/tab/detail/Kesehatan/7

12-1-2010 
Migren, Bukan Sakit Kepala Biasa

 
SERING kali gejala migren kita anggap sakit kepala biasa. Padahal, jika tidak 
diobati dengan serius, migren akan terus menyerang dan membuat penderitanya 
tidak berdaya.

Migren bukanlah sakit kepala biasa. Dia bahkan bisa lebih menyakitkan. Jenis 
sakit kepala yang satu ini ditandai dengan gejala nyeri hebat, 
berdenyut-denyut, terutama di satu sisi kepala. Terkadang disertai rasa mual 
sampai muntah serta sensitif terhadap cahaya dan suara. Migren bisa dibedakan 
menjadi dua, yaitu migren umum dan migren klasik. Sebanyak 85 persen penderita 
mengeluh mengalami migren umum.

Migren ini hanya berupa sakit kepala sebelah tanpa disertai gejala lain. 
Sementara migren klasik yang diderita oleh 15 persen penderita, biasanya 
didahului keluhan gangguan penglihatan di salah satu mata. Gangguan itu berupa 
aura yaitu terlihatnya titik-titik atau garis bergelombang mengambang, bisa 
juga berupa kilatan atau gelombang-gelombang cahaya. Gangguan ini bisa 
berlangsung 5 menit sampai 1 jam sebelum migren muncul.

Sekitar 40-60 persen dari serangan migren akan diawali oleh apa yang dinamakan 
gejala pendahuluan. Gejala ini antara lain berupa gangguan tidur, gelisah, 
kelelahan, depresi, keinginan untuk menyantap makanan manis dan asin. Gejala 
awal ini biasanya sudah bisa dipahami oleh keluarga penderita sebagai suatu 
gejala pendahuluan sebelum terjadi serangan migren.

Sampai saat ini, penyebab migren belum dapat dipastikan. Namun, lebih dari 
separuh penderita memiliki keluarga dekat yang juga menderita migren, sehingga 
diduga ada kecenderungan bahwa penyakit ini diturunkan secara genetik. Migren 
bisa terjadi pada usia berapa saja, tetapi biasanya mulai timbul pada usia 
antara 10-30 tahun. Hanya, kadang penyakit ini menghilang setelah usia 
penderita mencapai 50 tahun.

Menurut penulis buku The Migraine Brain, Carolyn Bernstein, migren terjadi 
akibat sel di otak mengalami pembengkakan dan mengirimkan sinyal pada saat yang 
salah. Saraf-saraf otak yang lebih sensitif juga menyebabkan seseorang sering 
terkena migren.

Dibandingkan dengan pria, wanita memang lebih sering terserang migren. Sekitar 
18 persen wanita mengeluh menderita migren, sementara pada pria hanya 6 persen. 
Umumnya, migren menyerang perempuan berusia 10-46 tahun dan berangsur-angsur 
menghilang setelah menopause.

Migren pada wanita terjadi akibat perubahan hormon estrogen di dalam tubuh. 
Pada masa haid dan setelah melahirkan, kadar estrogen di tubuh wanita menurun. 
Jika kadar hormon estrogen dalam tubuh wanita menurun, maka kadar serotonin di 
otak pun ikut turun.

Sementara pada saat kehamilan trimester pertama dan menjelang menopause, kadar 
estrogen berfluktuasi. Itu pulalah sebabnya mengapa sebelum masa haid, ketika 
hamil pada trimester pertama, setelah melahirkan, dan selama masa menjelang 
menopause wanita sering menderita migren.

"Selain karena faktor hormon, banyak juga perempuan yang terkena migren karena 
alasan psikologikal. Namun, naik-turunnya kadar hormon dalam tubuh wanita 
adalah penyebab paling jelas terjadinya migren," kata Bernstein yang juga 
mendirikan Women's Health Interactive (WHI) Headache Center di Cambridge, 
Amerika Serikat (AS).

Namun, ada pula wanita yang mengalami sakit kepala hormonal, yakni kepala 
nyut-nyutan pada sekitar masa subur. Bernstein menyarankan agar para perempuan 
mencatat masa menstruasi sehingga bisa menemukan kaitan dengan terjadinya 
migren. Faktor pemicu lain antara lain stres, terlambat makan, kurang istirahat 
juga kurang berolahraga.

Migren bisa pula dipicu oleh beberapa hal seperti kelelahan, terlalu banyak 
tidur, puasa, perubahan tekanan udara, cahaya berkedip dan sangat terang, 
berada di tempat yang tinggi (naik gunung, naik pesawat), wangi-wangian, 
kondisi stres, alkohol, keju basi, cokelat, penyedap masakan, asam-asaman, 
pemanis buatan, minuman (kopi berkafein, alkohol), dan nikotin dari rokok.

Bila hal-hal tersebut yang memicu, maka migren bisa diatasi dengan mengatur 
faktor-faktor pemicu ini seperti memperbaiki kebiasaan tidur (pergi tidur pada 
jam yang sama setiap hari), tidak merokok, mengurangi konsumsi kafein dan 
alkohol, berolahraga secara teratur, serta menjauhi stres dengan melakukan 
rileksasi. Sayang, hanya beberapa dari penderita migren yang dapat 
mengidentifikasi faktor pencetus terjadinya migren.

Tetapi, untuk pengobatan, sebaiknya individu yang menderita migren ringan dan 
jarang kambuh cukup meminum obat analgetik biasa. Sedangkan individu yang 
sering mengalami migren berat dan respons terhadap obat-obatan juga rendah, 
maka individu tersebut harus menghindari faktor pencetus dari migrennya dan 
memantapkan diri untuk mengubah gaya hidup.

Jika tidak ditangani dengan baik, migren diketahui dapat menurunkan 
produktivitas kerja. Sebuah riset yang dikerjakan American Headache Society 
mengevaluasi dampak dari serangan migren pada produktivitas karyawan dengan 
melakukan survey kepada lebih dari 500 orang karyawan yang menderita migren 
rata-rata dua sampai delapan kali dalam satu bulan. Hasilnya, jumlah total jam 
kerja yang berkurang akibat migren bagi kebanyakan karyawan yang tetap bekerja 
saat terserang migren hampir sama dengan karyawan yang memilih tidak masuk 
kantor. Di penelitian lain menyebutkan, karyawan yang menderita 15 kali atau 
lebih migren dalam satu bulan akan kehilangan produktivitas kerja rata-rata 4,5 
jam seminggu.(okz)

Kirim email ke