http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/alasan-krisis-mengada-ada/

Kamis, 14 Januari 2010 12:36 
Jusuf Kalla:

Alasan Krisis Mengada-ada
OLEH: TUTUT HERLINA/ WEB WAROUW



Jakarta - Gembar-gembor krisis ekonomi yang selama ini dijadikan alasan untuk 
memberi­kan dana talangan pada Bank Century, dinilai mengada-ada. 

     
Krisis yang dimulai di Amerika Serikat (AS) sebenar­nya tidak membawa dampak 
serius bagi Indonesia. Sebalik­nya, Bank Century gagal karena dipicu 
"perampokan" di internal bank.  Hal tersebut dikemukakan mantan Wakil Presiden 
(Wa­pres) Jusuf Kalla di hadapan Pa­nitia Khusus (Pansus) Ang­ket Bank Century, 
Kamis (14/1). 


"Tetap sepakat," ujar Kalla ketika ditanya oleh Anggota Pa­nitia Angket dari 
Fraksi Par­tai Hanura Akbar Faizal. Akbar menanyakan apakah Kalla masih tetap 
dalam pendiriannya bahwa kasus Bank Century merupakan kasus perampokan. 
Menurut Kalla, berdasar­kan alasan terjadinya peram­pok­an itu, Kalla kemudian 
me­la­porkan ke pihak kepolisian. Ia sebenarnya sudah meminta kepada Gubernur 
Bank Indo­nesia (BI) Boediono untuk melaporkan kejahatan itu. Namun, Boediono 
menolak dengan alasan tidak memiliki dasar hukum bagi pelaporan kasus tersebut. 


"Saya bilang laporkan saja. Urusan ada atau tidak pelanggaran hukum itu urusan 
polisi, bukan urusan Anda. Karena tidak dilaporkan makanya saya melaporkan," 
paparnya. 


Kalla menjelaskan, krisis di AS memiliki efek pada pasar modal. Ini kemudian 
berimbas pada bank-bank yang memberikan pinjaman pada perusahaan, seperti 
Lehman Brother. Namun, untuk Indonesia, hal itu tidak menimbulkan dam­pak yang 
parah, karena BI tidak memberikan pinjaman pada Lehman Brother. 

Tidak Baca Pesan Singkat 
Krisis di Indonesia hanya disebabkan oleh menurunnya angka ekspor ke AS yang 
terkena krisis. "Jadi secara moneter tidak ada krisis itu. Hanya impor turun, 
saham-saham di pasar modal kita hanya 23 persen dari GDP.  Yang memi­liki saham 
pun tidak ada sete­ngah dari jumlah penduduk kita," imbuhnya. 
Kalla juga membantah krisis 2008 lebih parah diban­dingkan krisis tahun 1998. 
Dari sisi persentase, krisis 1998 meng­akibatkan kenaikan kurs mata uang hingga 
600 persen, sedangkan untuk krisis 2008, kenaikannya hanya 20 persen. 

Dalam kesempatan itu, Kalla sempat memberikan perumpamaan untuk menggambarkan 
krisis ekonomi yang digunakan sebagai alasan untuk memberikan dana talangan 
kepada Bank Century. "Ibarat badai, dari 1.000 rumah, dampaknya kena 500 rumah, 
itu baru krisis. Tapi ini hanya satu. Apaan, masak krisis cuma satu?" katanya.  
Ia juga kembali menegaskan, bahwa sebagai pejabat kepala pemerintahan, ia baru 
mendapat laporan tentang dana talangan Century dari Menteri Keuangan (Menkeu) 
setelah semuanya dilaksanakan. 


KSSK membuat laporan pada 21 November 2008, dan kemudian dana talangan 
diberikan pada 23 November 2008. 
Sementara itu, terkait kiriman pesan layanan singkat dari Menkeu Sri Mulyani, 
Kalla mengaku tidak membacanya.  "Saya tidak tahu. Saya tahu belakangan setelah 
semuanya sudah dilaksanakan," katanya menjawab pertanyaan Anggota Pansus dari 
Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Ahmad Muzani. 


Di luar persidangan, Wakil Ketua Pansus dari PKS, Mahfudz Siddiq menegaskan 
bahwa pemeriksaan pada saksi Jusuf Kalla selaku mantan Wakil Presiden sangat 
strategis untuk membongkar kasus skandal Bank Century. "Jusuf Kalla cukup 
mengetahui latar belakang dari kasus skandal Bank Century ini. Kita akan 
menanyakan soal laporan Sri Mulyani tentang pemberian dana talangan kepada 
Century pada Jusuf Kalla," demikian kata Mahfudz Siddiq. Dia juga menjelaskan 
bahwa sampai hari ini Pansus belum mengambil kesimpulan, namun semua saksi 
menurutnya cenderung membela keputusan pemberian dana talangan untuk 
kepentingan masing-masing. "Keterangan mereka sering berbeda dan saling lempar 
tanggung jawab untuk menyelamatkan diri," ujarnya. (wishnugroho ak

Kirim email ke