http://www.mediaindonesia.com/read/2010/01/01/119918/70/13/Demonstrasi-Kata-dan-Laku


Demonstrasi Kata dan Laku 
Jumat, 29 Januari 2010 00:00 WIB     

TEPAT 100 hari pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, 
kemarin, demonstrasi pecah di sejumlah kota besar di Indonesia. Ribuan manusia 
turun ke jalan dengan eskalasi yang membesar dalam jumlah. 

Membesar dalam jumlah, tetapi praktis berlangsung dalam damai. Tidak seperti 
yang sering dikhawatirkan bahwa demonstrasi akan merusak cita dan citra 
demokrasi, demonstrasi kemarin ternyata berlangsung aman. 

Jangan berdusta, kericuhan memang terjadi di beberapa tempat, tetapi terlalu 
kecil untuk dikatakan kacau. 

Singkatnya, dari aksi unjuk rasa yang diselenggarakan secara nasional itu 
tecermin bahwa rakyat semakin dewasa merawat dan menggunakan hak demokrasinya. 

Polisi pun semakin yakin dengan kedewasaan demonstran sehingga tidak 
menggunakan pelindung kepala dan tameng. Cuma bermodal pentung. 

Demikianlah, demonstrasi yang berjalan damai itu menunjukkan kemenangan yang 
hebat, baik di sisi masyarakat madani maupun di sisi negara.   

Oleh karena itu, demonstrasi yang meluas kemarin itu tidak boleh semata 
dikerdilkan dengan silat argumentasi soal mengerti atau tidak mengerti apa itu 
program 100 hari yang dicanangkan pemerintahan SBY. Karena itu tidak boleh juga 
diremehkan seakan-akan hanya hobi orang-orang yang suka bikin gaduh. 

Berdemonstrasi adalah hak. Akan tetapi, semata mengagungkan demonstrasi sebagai 
satu-satunya cara yang efektif untuk menegur kekuasaan bukanlah pula pikiran 
dan kelakuan yang dapat memperkuat dimensi kelembagaan dalam berdemokrasi. 

Adalah juga kerisauan yang sangat substansial apabila demonstrasi kemudian 
dijadikan sebagai satu-satunya pilihan yang efektif untuk menyampaikan aspirasi 
kepada kekuasaan. 

Harus dikatakan memang ada yang hilang dalam 100 hari pemerintahan yang kedua 
ini. Hilang dalam waktu yang sangat pendek setelah bulan madu yang 
panjang--lima tahun pemerintahan pertama, hasil pemilu yang langsung dipilih 
rakyat--dan yang kemudian menang kembali untuk kedua kali dengan basis 
legitimasi yang sama kuatnya. 

Demonstrasi kemarin telah usai dengan damai dan pesan telah disampaikan. Pesan 
sangat penting, yaitu seruan publik untuk membangun kembali situasi saling 
percaya yang sempat hilang. 

Bukankah yang hilang dapat ditemukan kembali? Caranya, semua pihak membikin 
pendek jarak yang masih jauh antara kata dan perilaku. 

Kirim email ke