http://www.banjarmasinpost.co.id/read/artikel/35215/kontroversi-rencana-menkominfo

 
Kontroversi Rencana Menkominfo


Senin, 15 Februari 2010 | 01:35 WITA
KEMENTRIAN Komunikasi dan Informatika di bawah Tifatul Sembring sedang 
menggodok rancangan peraturan menteri (RPM) mengenai konten atau isi 
multimedia. Peraturan itu diniatkan untuk melindungi kepentingan umum dari 
segala jenis gangguan sebagai akibat penyalahgunaan informasi, dokumen, dan 
transaksi elektronik yang mengganggu ketertiban umum.

Larangan itu antara lain mencakup pendistribusian, transmisi, dan penyediaan 
akses terhadap konten pornografi, sesuatu yang berlawanan dengan kesusilaan, 
perjudian, penghinaan, dan sentiman berdasar suku, agama, ras, dan 
antargolongan.

Penyelenggara dilarang mendistribusikan, mentransmisikan, dan/atau membuat 
dapat diaksesnya konten yang mengandung muatan mengenai tindakan yang 
merendahkan keadaan dan kemampuan fisik, intelektual, pelayanan, kecakapan, dan 
aspek fisik maupun nonfisik lain dari suatu pihak.

Menurut rancangan peraturan itu, Menkominfo juga akan membentuk Tim Konten 
Multimedia yang memiliki kewenangan untuk menentukan apakah sebuah konten 
termasuk konten yang dilarang atau tidak. 

Tim itu nantinya beranggotakan maksimal 30 orang dengan komposisi 50 persen 
dari unsur masyarakat dan 50 persen lain dari unsur pemerintahan. Selama 
setahun, tim itu akan menganalisa konten-konten di internet dan memastikan 
konten itu aman atau tidak.

Rencana tersebut sontak menyulut perlawanan dari masyarakat internet di Tanah 
Air. 
Sejak terbetiknya rencana tersebut, berbagai komentar, pendapat, bahkan 
diskusi, meramaikan jagat maya. Inti dari percakapan dan debat melalui berbagai 
forum di internet itu nyaris sama, menolak rencana tersebut yang dinilai 
memasung kebebasan serta memberangus hak publik mengakses informasi.

Keberadaan tim tersebut dikhawatirkan tidak dapat berjalan efektif dan yang 
paling ditakutkan bakal disalahgunakan atau malah membangkitkan monopoli.

Kita sependapat jika campur tangan pemerintah dalam soal ini lebih terfokus 
pada konten negatif seperti pornografi dan sentimen suku, agama, ras, dan 
antargolongan. Bersamaan dengan itu, seharusnya pemerintah menggali dan 
mengembangkan prakarsa  bagi tumbuh dan berkembangnya konten lokal yang positif 
dengan landasan kebebasan berekspresi, bukan malah mengatur soal pembredelan 
konten.

Melarang sebuah situs dengan konten 'bahaya' tak akan efektif hanya melalui 
pemblokiran atau filterisasi, tetapi dengan cara menggandeng masyarakat 
internet melanjuti sosialisasi internet sehat. Dengan cara itu, keterbukaan dan 
ketakterbatasan yang tersedia di dunia maya, bisa memberi manfaat lebih besar 
bagi kecerdasan dan kemajuan bangsa.

Jika pemerintah bersungguh-sungguh mendampingi dan melayani rakyatnya 
mengarungi semesta pengetahuan tanpa batas --termasuk di dunia maya-- maka 
aparatnya harus lebih aktif berinteraksi dengan masyarakat. Jangan cuma 
menunggu masukan atau mengundang wakil masyarakat saja. 

Mereka juga harus masuk dan jadi bagian yang aktif di tengah masyarakat maya. 
Bukan hanya melulu bertindak sebagai pengawas yang dengan kekuasaannya bisa 
membuka atau menutup akses informasi.

Teknologi yang sudah berkembang sedemikian pesat dari menit ke menit 
memunculkan inovasi, seharusnya dibaca sebagai peluang bagi suatu bangsa untuk 
meningkatkan kemajuannya. Demikian halnya dengan internet sebagai anak kandung 
perkembangan teknologi multimedia yang kini telah membuat orang terhubung dan 
berinteraksi tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Pada sisi inilah, pemerintah di mana pun semestinya sadar, bahwa dengan sifat 
dan kekuatannya internet terbebas dari berbagai tekanan pemerintah, ekonomi, 
maupun partisan politik tertentu. 

Betul pemerintah bisa mengendalikannya, tapi bersamaan dengan itu pula 
masyarakat maya akan menemukan cara melepaskan diri dari kendali itu.

Masyarakat yang dewasa tentu sudah mampu memilih dan memilah, mana informasi 
yang bermanfaat bagi diri dan bangsanya dan mana informasi sampah. Jadi 
percayakanlah segalanya pada mereka. 





<<4_2_109v.gif>>

Attachment: sig.jsp?pc=ZSzeb114&pp=GRfox000
Description: Binary data

Kirim email ke