Satu Pimpinan Hamas Masuk Kristen Dan Suaka Politik
Mungkin memang satu pemimpin Hamas ini bertujuan untuk bisa masuk ke Amerika,
untuk itu pura2 masuk Kristen. Dengan alasan mau dibunuh Islam, akhirnya dia
berhasil mendapatkan suaka politik di Amerika.
Memang motifnya macam2, tapi kalo sekedar percaya Yesus kemudian mau masuk
Kristen tak perlu gembar gembor juga bisa, tapi kalo ada tujuan lain tentu juga
ketahuan akhirnya, ternyata dia kepingin tinggal di Amerika. Padahal khan dia
bisa ke Indonesia, menjadi Kristen di Indonesia juga enggak mungkin disalahkan
apalagi dia orang asing statusnya.
Banyak koq tempat dia pergi seperti ke Mesir juga ada Kristennya, ke Africa
selatan malah mayoritasnya juga Kristen, atau ke negara2 Eropah juga khan bisa,
tapi koq kenapa harus ke Amerika ???
Jadi alasan suaka politik ke Amerika karena masuk Kristen kayaknya memang
enggak masuk akal mereka yang berpikir.
Kemungkinannya memang dia disuruh bapaknya yang juga pimpinan Hamas untuk bawa
lari uang atau dana Hamas agar bisa ditabung di bank2 di Amerika ini.
Sama halnya seperti yang terbunuh di Dubai, meskipun prejudice dilakukan oleh
Israel ternyata bukti2 pembunuhnya semuanya menuju kepada Hamas sendiri.
Jelas dari kenyataan ini bisa disimpulkan bahwa organisasi Hamas mengalami
keruntuhan dari dalam sendiri, masing2 bawa kabur apa yang bisa dibawanya
sedangkan yang lain mengejarnya. Bunuh membunuh memperebutkan sisa2 dana yang
dimiliki organisasi Hamas kelihatannya sekarang sedang terjadi.
Cukup cerdas akal pemimpin Hamas yang memerintahkan anaknya masuk Kristen
kemudian minta suaka politik di Amerika. Selamatlah hasil rampokan dana Hamas
yang dibawa lari oleh anaknya ini dan sang bapak bisa nyusul belakangan.
Begitulah mental pemimpin Hamas, lari bawa uang organisasi Islamnya untuk masuk
Kristen dan minta suaka politik. Yang lainnya sial, baru nginep di Dubai sudah
tercandak teman2nya sendiri, disiksa untuk mengaku dimana disimpan duitnya
setelah berhasil dibunuh langsung. Israel dijadikan kambing hitamnya. Israel
sendiri enggak mau ngurusin, kalopun pembunuh2nya tertangkap pasti akan dikejar
uangnya sedangkan para pembunuh itu boleh disiksa untuk mengakui apa2 lainnya
yang pernah mereka lakukan agar bisa dimanfaatkan Israel.
Bukan khayalan kalo polisi Dubai sambin menuduh Mossad mereka juga bekerja
untuk Mossad, memang mereka benar2 mengejar sipembunuhnya terbukti lebih dari
60 orang yang sudah ditangkapnya itu semuanya adalah agen2 Hamas sendiri.
Hamas masih tetap ber-koar2 tapi sudah tak ada yang memperhatikannya lagi
bahkan rakyatnya sendiripun sudah tidak mau patuh lagi kepada perintah2nya,
jelas wibawa Hamas sudah hancur dimata rakyatnya sendiri.
Tanpa perang sekalipun Israel tetap akan menang meskipun oleh Hamas dikatakan
Israel kalah. Bahkan Ahmad Dineyad sudah mengumumkan bahwa Israel sekarang
sudah diambang pintu kematiannya. Mungkin kata2 Ahmad Dineyad ini bertujuan
sekedar menghibur Hamas yang sedang sekarat ini. Karena pada kenyataannya
justru yang sedang diambang pintu kematiannya justru Hamas yang dibantu Iran
itu sendiri.
Iran sekarang me-narik2 Syria agar mau berkoalisi memerangi Israel, tapi Syria
sendiri emoh berkoalisi dengan Iran, cukup basa basi saja tidak menolak tapi
juga tidak terang2an menerimanya karena masih melihat perkembangan maunya Iran
ini. Yang jelas kalo Syria dihantam oleh Israel, tak mungkin Iran bisa
membantunya karena jaraknya terlalu jauh. Juga Iran sendiri tidak punya
kemampuan melakukan serangan ke Israel. Kalo Israel yang menyerang Iran, maka
masih bisalah untuk bertahan meskipun akhirnya pasti kalah juga.
Demikianlah, Iran cuma kuda lumping saja statusnya di jazirah Timur Tengah,
tidak ada kawan, kalopun bisa berkawan tentu akhirnya saling mengkhianati
karena memang begitulah Islam mengajarkan agar terhadap sesamanya saling
memperingatkan, yang maksudnya saling waspada, dan saling mencurigai.
Ny. Muslim binti Muskitawati.