http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2010030201440615
Selasa, 2 Maret 2010
BURAS
'Turf Card' Istana untuk Paripurna Skandal Century!
H. Bambang Eka Wijaya
"BERANEKA turf card istana dimainkan di balik pertarungan terbuka dalam
Pansus Skandal Bank Century, terutama menghadapi paripurna DPR 2 dan 3 Maret
ini!" ujar Umar. "Turf card dimaksud mulai intrik menekan lewat penunggak pajak
terkait usaha Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie, lobi-lobi Partai Demokrat dan
staf-staf khusus presiden, demo massa berbagai sayap Partai Demokrat, menebar
spanduk dukungan pada SBY- Boediono dan Sri Mulyani, terakhir intrik pada
inisiator Pansus Century dari PKS, Misbakhun, dengan tuduhan terlibat L/C
fiktif Bank Century!"
"Turf card dalam permainan 'truf gembira', juga disebut kartu pemotong!"
timpal Amir. "Ia punya dua fungsi. Pertama, untuk menyudi--memaksa semua pemain
(kawan dan lawan) menurunkan satu kartu pemotong yang dimiliknya dengan membuka
turf card! Tujuannya agar semua turf card di tangan lawan habis dengan diadu
secara terbuka! Kedua, sebagai kartu pemotong diadu tertutup! Diadu terbuka
atau tertutup pengendali lebih besar peluangnya menang!"
"Peran pengendali permainan diperebutkan pada awal setiap sesi dengan
penawaran tertinggi berdasar kartu di tangan! Dengan itu pengendali seperti
pemenang pemilu, selain mengendalikan permainan (mirip pemerintah) juga
memimpin koalisi dengan tiga teman pemain lain! Secara jelas pula, empat pemain
lawan dihadapi sebagai oposan!" tegas Umar. "Timbul masalah dengan turf card
istana itu, karena secara terbuka dan tertutup diadu dengan kartu pemotong
teman sendiri! Ini memperkecil skor kartu yang diraih, karena kartu pemotong
dihabiskan lewat mengadunya sesama teman, lawan dapat peluang meraih angka
dengan sisa pemotong miliknya!"
"Memang terlihat, banyak turf card istana tak dimainkan efektif!" timpal
Amir. "Contohnya, intrik penunggak pajak dan L/C fiktif, cuma membuat yang
sikapnya harus dilunakkan malah jadi lebih keras! Karena itu, kemenangan
pengendali dalam kasus Century tergantung pada pusingan kartu terakhir--lewat
lobi tertutup yang waktu untuk voting seharusnya Selasa Wage, diperpanjang
waktunya jadi Rabu Kliwon! Itu karena Selasa Wage dalam primbon Jawa
bilangannya terkecil--Selasa 3 dan Wage 4! Sedang Rabu (7) Kliwon (8), jadi 15.
Cari peluang lewat besaran nilai waktu!"
"Agaknya primbon Jawa itu yang jadi turf card terakhir! Sehingga, meski
sebenarnya rapat paripurna cukup satu hari harus diperpanjang jadi dua hari!"
tukas Umar. "Artinya, sampai pusingan kartu terakhir pihak pengendali dalam
permainan truf ini masih menguasai permainan, contohnya, bisa memperpanjang
waktu rapat paripurna!"
"Dalam truf penentuan pemenangnya dengan menghitung nilai kartu kedua
pihak!" timpal Amir. "Begitu pula dalam kasus Century, sekaligus nilai hasil
aneka turf card istana, penentunya hasil voting paripurna DPR--yang sejauh ini
terkesan masih menggelisahkan sang pengendali!"
Cetak Berita <<bening.gif>>
<<buras.jpg>>
<<cetak.gif>>
