Sukarno Tolak Syariah Karena Mau Menghapus Anak Haram
                                         
Ibu kandung Bung Karno adalah wanita Bali yang bekerja sebagai pembantu RT 
seorang duda pegawai tinggi Belanda.

Dikalangan orang2 Belanda sendiri hal ini bukan rahasia dan juga tidak 
merendahkan bayi yang dilahirkan ini, karena itulah Sukarno tidak susah untuk 
diterima dilingkungan orang2 Belanda maupun para feodal pribumi yang sangat 
dekat hubungan kerja samanya dengan orang2 Belanda ini.

Jadi enggak heran kalo banyak feodal pribumi yang berusaha mengangkat Sukarno 
jadi anak angkat mereka se-mata2 untuk memelihara hubungan mereka dengan orang2 
Belanda ini.

Sukarno pernah diangkat anak oleh HOS Cokroaminoto, diangkat anak oleh ibu 
Inggit tapi akhirnya dinikahi ibu Inggit sebagai suaminya bukan sebagai anaknya.

Tetapi dalam sejarah bangsa, Sukarno harus ditulis sebagai bunga bangsa yaitu 
anak si matahari terbit, sehingga dia menamakan dirinya sendiri sebagai 
"Fajar".  Semua ini bukanlah sebagai kesalahan meskipun bukan kebanggaan dan 
tidak perlu dibanggakan.


> "wawan" <selarasmi...@...> wrote:
> emaknya bung karno orang hindu bali,
> jadi nggak heran bung karno itu
> seorang pluralis, karena kenyataannya
> ibunya adalah orang hindu bali.
> 

Anda betul sekali, tetapi jangan dilupakan, bapak biologis Bung Karno itu orang 
Belanda yang beragama Kristen.

Itulah sebabnya, dalam akte kelahirannya bapak Bung Karno tercatat nama orang 
Indonesia aseli.  Karena pemerintah Belanda sama sekali tidak membedakan surat 
nikah kepada setiap wanita yang melahirkan.

Disinilah kunci penting kenapa Bung Karno menolak mentah2 Syariah Islam.

Karena kalo Indonesia menjadi negara Syariah Islam, maka semua bayi yang 
dilahirkan tanpa surat nikah ibu bapaknya, maka dalam akte kelahiran sang bayi 
akan tertulis dalam kolom nama ayahnya sebagai "anak Haram", sehingga susah 
untuk diterima kerja, sekolah, bahkan juga susah dapat ktp.

Ny. Muslim binti Muskitawati.



Kirim email ke