Hapuslah Kata2 Kafir Dari Perbendaharaan Ucapan2 Anda !!!
Kata "Kafir" hanya digunakan mereka yang tuna pendidikan, mereka yang tidak
manusiawi, mereka yang tidak beretika moral, dan mereka yang sering melanggar
HAM.
Setiap agama memang ber-beda2 dalam menafsirkan kata2 "kafir" ini, meskipun
semua penafsiran berkonotasi buruk untuk mereka yang dikafirkan. Oleh karena
itulah dalam dunia science maupun kalimat2 dalam HAM tidak satupun dikenal kata
"kafir".
Oleh mereka yang diracuni keimanan kepercayaannya, penggunaan kata "kafir" ini
cuma ditujukan kepada mereka yang baik yang beretika moral universal yang
dianggapnya menentang tegaknya kebengisan dan kejahatan agama mereka.
Kafir itu bukanlah agama, bukan ideology, bukan partai politik, juga bukan
mashab ekonomi atau aliran filsafat,juga bukan kelompok reformasi tapi 100%
kata2 buruk serupa caci maki, serupa sumpah serapah, bahkan menjadi target
pembunuhan, penyiksaan, dan segala rupa tindakan2 yang mengerikan kepada siapa
saja yang dianggapnya sebagai kafir menurut kriteria subjective yang
dipercayainya.
Kafir itu tidak memiliki kitab suci, tidak punya standard apapun juga, bahkan
mereka yang dianggap kafir juga bisa mengkafirkan lainnya yang menuduh dirinya
kafir.
Sebaiknya kalo anda seorang yang berpendidikan cukup, anda seorang moderat,
anda seorang humanis, dan anda seorang yang menegakkan HAM, maka janganlah
sekalipun menggunakan kata2 buruk dan kotor ini karena hanya orang beragama dan
beriman saja yang rajin dan senang menggunakan kata2 jahanam ini terutama
tentunya mereka yang tinggi keimanan Islamnya. Terutama juga para teroris
jihad Islam yang sangat menyukai dan mencintai kata2 makian sumpah serapah
jahanam ini untuk membenarkan tindakan2 kejahatan mereka.
> julianty_lestari_live <julianty_lestari_l...@...> menulis:
> milist ini tidak cocok disebut
> sebagai milist para pemikir karena
> mayoritas anggotanya adalah orang2
> yang sok fanatik dengan agamanya
> dan menutup diri dari kebenaran.
> Bahkan moderatornya sendiri pun
> seorang yang kafir karena hanya
> menerima versi dari versi agamanya
> sendiri.
Entah bagaimana para pembaca mau memahami orang2 kafir yang beragama seperti
ditulis oleh sang penulis diatas ini. Hanya agama Islam saja yang mengajarkan
definisi "kafir" itu termasuk semua umat beragama yang bukan beragama Islam.
Maksudnya milis "para pemikir" ini ingin mengumpulkan berbagai pikiran2 mereka
yang bisa berpikir.
Tapi malangnya terbentur dengan masalah masyarakat di Indonesia yang jarang
bisa berpikir karena secara turun temurun dalam semua generasi bangsa ini
selalu mengharamkan pikiran manusia karena dianggapnya pikiran Allah tidak bisa
dipahami manusia tapi harus dituruti saja.
Pemikiran pikiran harus dipenjarakan baik dipenjara dengan model2 penjara yang
kayaknya moderat seperti "Demokrasi Terpimpin", penjara "Nasakom", penjara
"Chauvinistik", dan yang paling merusak sekarang ini adalah penjara "Syariah
Islam" yang sama sekali mengharamkan pemikiran manusia manapun juga sehingga
umat Islam yang baru belajar berpikir sekalipun terkena pembantaian tak
berampun.
Itulah sebab2nya milis "para pemikir" ini sekarang lebih banyak dikunjungi oleh
para ulama yang berpikir dengan keimanan bukan dengan otak yang dilatik
berpikir.
Beda sekali, untuk bisa berpikir kita harus rajin melatih persepsi kita.
Sebaliknya untuk beriman kita harus rajin menipu persepsi kita.
Itulah sebabnya, dengan melatih persepsi kita akan melahirkan inspirasi2 baru.
Sebaliknya dengan rajin menipu persepsi kita akan se-olah2 menerima wahyu
membuat yang tidak ada menjadi terasa ada dan menyalahkan mereka yang tidak
merasa sebagai orang2 yang tidak beriman. Semua orang2 beriman menganggap
keimanan mereka sebagai pemikiran, dan mereka yang tidak beriman dituduhnya
tidak berpikiran yang olehnya disamakan seperti se-jelek2nya binatang yang
dimusuhi Allahnya.
Ny. Muslim binti Muskitawati.