Refleksi: Berkelana, karena percaya kepada bujukan penipuan?

http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=15360

2010-03-27 
Repatrian PNG, Berkelana untuk Bertahan Hidup




Telah banyak kutulis tentang langit, tentang laut, 
angin dan gunung. 
Telah banyak kutulis tentang maut, lara dan untung. 
Telah banyak.
Dan masih akan kutulis tentang laut, angin 
dan burung-burung. 
Tentang hidup, mati dan cinta yang memberikan 
harapan dan kepercayaan membangkitkan manusia 
dari lembah putus asa dan menjadikan hidup 
lebih berwarna.


Telah Banyak Kutulis adalah salah satu puisi karya Penyair Ajip Rosidi yang 
dipublikasikan tahun 1972. Makna puisi ini mungkin bisa menggambarkan kehidupan 
seorang lelaki yang menjadi ketua 320 orang repatriasi dari Port Moresby, Papua 
Nuguni (PNG) yang kembali ke Papua dengan pesawat Hercules dan mendarat di 
Bandara Sentani, Jayapura, 22 November 2009. Saat turun dari pesawat dan 
menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, ia terlihat penuh senyum, kemudian 
disambut hangat oleh pejabat pemerintah pusat dan daerah Provinsi maupun 
kabupaten se Papua. Jabat tangan erat, berpelukan, basa-basi terjadi pada 
lelaki ini. Setelah itu mereka pun di bawa ke Balai Latihan Kerja (BLK) untuk 
tinggal dua minggu. Lalu ke 320 repatrian ini dikirim ke daerah asal 
masing-masing. Inilah awal dimulainya perjalanan hidup lelaki itu bersama para 
repatrian di tanah leluhurnya Papua.


Kini lelaki itu bersama keluarganya pindah dari rumah keluarga yang satu ke 
rumah keluarga lainnya seakan menjadi kegiatan setiap minggu bagi repatrian 
asal PNG yang berada di Kota Jayapura, ibukota Provinsi Papua. Sebab sampai 
saat ini mereka belum memiliki tempat tinggal yang menetap. "Kami berkelana 
dari keluarga ke keluarga yang lain agar bisa bertahan hidup. Memang, awalnya 
saya tinggal di rumah keluarga di Hamadi, Jayapura, tetapi bulan kemarin kami 
pindah lagi ke rumah keluarga di Kotaraja. Ini karena kami merasa tak enak dan 
malu jadi harus saya lakukan. Memang tak enak tapi mau apalagi. Dan apakah kami 
akan hidup tetap seperti ini, terus berpindah dari satu rumah ke rumah lain," 
kata Hein Fere (65) Ketua Rombongan Repatrian asal PNG. Hein Fere menyatakan 
senang bisa kembali ke Papua, tetapi kami sekarang semua lagi susah soal tempat 
tinggal. Kami mohon ada perhatian dari pemerintah," pintanya.


Dia mengungkapkan, bukan hanya masalah tempat tinggal. Mereka juga dipusingkan 
soal biaya hidup. Nasib baik berpihak kepadanya, untungnya Hein Fere diterima 
sebagai supir di Kantor Konsulat PNG di Jayapura dengan gaji Rp 1,3 juta per 
bulan. "Biaya hidup juga yang jadi masalah. Saya datang dan protes ke konsulat 
PNG, mengapa kami ditelantarkan. Akhirnya mereka terima saya sebagai pengemudi. 
Tetapi bagaimana dengan teman-teman lain, mereka kini jadi beban keluarga yang 
rumahnya ditinggali," kata Hein kepada SP, di Jayapura, Rabu (24/3) petang di 
Depan Kantor Konsulat PNG, Entop. Ia meminta maaf hanya bisa bertemu diluar. 
Kata dia, dari 320 repatrian yang kembali, 60 orang dikembalikan ke Kota 
Jayapura termasuk Hein Fere bersama istri dan empat orang cucunya. "Sungguh 
karena biaya hidup berat itulah akhirnya para repatrian ini berpindah-pindah 
tempat tinggal. Kalau keluarga yang kita tempati tidak mampu lagi kasih makan, 
yah kami pindah lagi,"ujarnya.

Kembali ke PNG
Hein mengungkapkan karena sulitnya kehidupan yang dialami, membuat mereka 
berniat kembali ke PNG, tetapi terbentur pada aturan. "Konsulat bilang, tidak 
segampang itu kembali ke PNG, karena sejak meninggalkan PNG status 
kewarganegaraan sudah berganti, sehingga jika saat ini mau ke PNG harus punya 
paspor atau kartu pelintas batas, jadi serba susah,"ujarnya.Ia berharap, 
pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Kota dan Pemerintah 
Pusat memperhatikan nasib mereka dengan cara membuatkan rumah. 


Kondisi yang dialami Hein Fere, menurut Kepala Badan Perbatasan Provinsi Papua 
Salmon Itaar juga dialami banyak warga Papua. Itulah sebabnya repatrian ini 
tidak diberikan keistimewaan dalam pelayanan.


Pemerintah di masing-masing kabupaten, kata Suzanna Wanggai, Kepala Bidang 
Hubungan Kerjasama Luar Negeri Badan Perbatasan Provinsi Papua mengatakan, 
sudah membuat program sendiri. Misalnya Kabupaten Merauke, Keerom dan Timika 
akan membuatkan repatrian rumah. Selain itu,menyalurkan mereka ke lowongan 
pekerjaan yang tersedia. Disinggung apa ada perjanjian hitam putih bila mereka 
kembali tak menuntut apa-apa? "Itu tidak ada, tapi penyampaian lisan sudah 
dilakukan, "ujar Susan. Ia mengaku tak bisa berbuat banyak kepada mereka. 
"Sungguh saya mengerti apa yang mereka rasakan. Saya bisa tahu bagaimana bila 
saya diposisi mereka, "ujarnya. 
Disinggung bagaimana bila mereka akan kembali PNG, karena tak diperhatikan? 
"Saya berharap jangan sampai terjadi, "tuturnya dengan penuh harap. 
[SP/Robert Isidorus Vanwi]

Kirim email ke