Sekilas Mengenal Latar Belakang Pendidikan Saya !!!
                                        
> Irwansyah Fans Club <irwansyahfansc...@...> wrote:
> Re: Siapakah Gerang Ny. Mus itu?
> Kami jadi pensaran dgn ny. Muskitawati ini.
> dan setelah search akhirnya kami dapatkan ini: 
> Membedah Nyonya Hajjah Muskitawati binti Muslim
> 

http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-Membedah-Nyonya-Hajjah-Muskitawati-binti-Muslim

Terima kasih saya ucapkan kepada mereka yang melestarikan atau mengarsibkan 
banyak tulisan2 saya dimana saya sendiri tidak memiliki arsipnya.

Dalam kesempatan ini biarlah saya ulangi mengenai aspek sejarah pendidikan saya 
di Indonesia.

Ayah saya yang memang fanatik Islam sangat keras perangainya, sudah biasa 
memaksakan kehendaknya baik kepada saudara2ku juga kepada ibuku yang menjadi 
isteri kedua dari isteri sebelumnya.  Meskipun saya bukan satu2nya anak 
wanitanyam, tapi boleh dikatakan saya yang paling bandel tetapi malah paling 
disayang dan menjadi iri hati saudara2ku yang lainnya.  Memang Islam sangat 
merendahkan derajat wanita, tapi beruntung, ayahku gagal merendahkan diri saya 
justru jadi kebalikannya, ayah paling minder dan paling takut kepada saya 
dibandingkan anak laki2nya yang tinggi besar mengerikan badannya itu.  Hal ini 
disebabkan saya adalah anaknya yang paling cerdas, paling gemilang dalam 
kualitas pendidikannya, semua serba bisa bukan cuma bisa menjahit dan memasak 
saja, tapi juga bisa memperbaiki mobil, turun mesin mobil, bahkan juga jago 
berantem menguasai beberapa aliran bela diri nasional, Jepang, dan sedikit yang 
dari Cina.

Memang, mulanya ayah marah besar karena menganggap aku anaknya ternyata kafir, 
dianggapnya murtad, dan dia merasa berdosa karena gagal menjadikan aku seorang 
muslimah yang kafah seperti ibuku dan saudara2ku yang lain.  Tetapi setelah 
berulangkali mengalami debat besar sampai hampir2 aku dibunuhnya, akhirnya dia 
mengakui dan merasa kalah, mungkin karena ekonominya makin sulit dan akulah 
satu2nya menjadi mesin penghasil uang yang paling potensial bagi keluarga besar 
kami.  Ayah sering dan berulangkali bisik2 kepadaku agar jangan berkhotbah 
agama seperti kepada ayahku, karena sebenarnya ayahku malu kepada ulama2 
lainnya karena merasa gagal menjadikan diriku seorang muslimah yang seharusnya.

Jadi sudah kebiasaan aku ber-basa basi, pura2 percaya Allah dan Muhammad dimuka 
tetangga dan teman2 ayah maupun guru2  dipesantrennya.  Dalam hal ini aku harus 
menghormati kepercayaan ayah dan ibu bukan harus ikut mempercayainya.

Memang betul, aku bukanlah fotocopy ayahku ataupun ibuku, aku adalah manusia 
dengan kepribadian tersendiri yang menjadi pemilik diriku sendiri dan tidak 
boleh orang lain memiliki diriku dengan memaksakan mengcopykan kepercayaannya 
kepada diriku.  Salah besar ajaran Islam yang mewajibkan orang tua untuk 
memaksa anaknya pendidikan agama seperti takwa dan iman yang dimilikinya agar 
bisa menambah pahalanya.

Biadab sekali ajaran Islam yang menghukum orang tua dengan dosa karena gagal 
mendidik anaknya hingga menjadi murtad terhada0p agamanya.

Pada mulanya ayahku memaksa aku masuk ke IAIN, tidak sulit bagiku untuk kuliah 
di IAIN karena semuanya adalah sahabat karib ayahku. Hati kecilku sendiri 
sebenarnya menolak masuk ke IAIN, tapi kebiasaan jelek ajaran Islam betul2 
telah merusak jangkauan cakrawala masa depan yang bisa aku pilih.  Aku sama 
sekali tidak punya pilihan masa depan sama sekali.  Wanita Islam dipingit dan 
direndahkan, dianggap lahir karena kecelakaan yang membawa kesialan bagi 
keluarga ayah, hal inilah yang juga berlaku kepada diriku.

Aku lulus dan gampang mendapatkan gelar S1 dengan nilai tertinggi, tidak ada 
yang berkesan dalam dalam dunia Islam dan pendidikan Islam dalam diriku.

Tetapi sewaktu tingkat satu di IAIN, kejadian luar biasa menimpa nasibku yang 
menjadi berobah 180 derajat.  Aku berkenalan dan selanjutnya bersahabat karib 
dengan anak seorang rektor IAIN yang ber-cita2 menjadi dokter dan menolak untuk 
kuliah di IAIN.  Sang rektor ayah sahabat karibku ini ternyata juga akrab dan 
mengenal ayak dan keluargaku.

Aku sering diajak sahabatku kemanapun juga apalagi dia anak orang kaya, rektor 
IAIN gampang korupsi dan dipercaya umat sebagai pejabat jujur sehingga bisa 
bertahan lama dalam jabatan basah begini.  Sebutlah disini sahabat karibku 
bernama Zubaidah (nama samaran) dan aku cuma memanggilnya "zub".

Untuk bisa berhasil lolos test FKUI, zub mengambil les private ketempat Sikky 
Mulyono di Salemba Raya seberang UI.  Begitu eratnya ikatan batin zub kepadaku 
hingga meskipun aku tidak memikirkan untuk ikut test FKUI, tetapi karena zub 
minta aku juga menemaninya les di Sikky Mulyono ini, akhirnya aku juga 
mengikutinya les ditempat yang sama di-Sikky Mulyono.

Sama2 les ditempat yang sama, tapi nasibnya berbeda, aku yang tadinya belum 
punya niat jadi dokter karena lulus test FKUI yang menjadi impian banyak orang, 
akhirnya terpaksa aku ganti haluan, sudah duduk ditingkat akhir di IAIN, aku 
berhenti mendadak dan melanjutkan kuliah di FKUI dan lulus jadi dokter dalam 5 
tahun.

Zub yang gagal dalam test FKUI sangat depressi, dia betul2 breakdown dan 
menganggap aku seperti malaikat saja, semua yang aku bilang pasti dia percaya, 
bahkan lebih percaya kepada diriku daripada ayah bundanya, mungkin lebih 
percaya kepadaku daripada kepada Allahnya.  Yaah.... begitulah orang yang sudah 
breakdown dalam depressi yang parah.

Hanya aku yang bisa mengobati depressi yang dialami zub, dia hampir2 bunuh diri 
karena malu dan putus asa, apalagi dia bukan anak yang bodoh, juga terkenal 
sebagai anak yang cerdas.  Aku ajari zub untuk ikut test ulangan ditahun depan 
dimana aku jadi jokinya.  Enggak susah membuat KTP palsu dengan identitas zub 
sekedar untuk maju test FKUI sekali lagi membantu zub.  Tentu berhasil sukses, 
zub seperti orang gila kegirangan, aku dipeluknya, diciumi dan apapun yang aku 
minta dia penuhi. Zub juga akhirnya lulus jadi dokter setahun dibawah kelasku.

Demikianlah liku2 penuh tipuan menyebabkan aku sulit bekerja sebagai dokter di 
jakarta, oleh karena itu untuk sementara ijazah IAIN ku ini kugunakan untuk 
bekerja di departemen agama yang penuh dengan sahabat2 ayah maupun gang rektor 
IAIN ayahnya zub ini.

Suksesku di departement agama juga penuh akal muslihat yang tidak perlu aku 
ceritakan.  Singkatnya aku berhasil mendapatkan beasiswa dari Amerika kepada 
pemerintah RI.  Aku berhasil lulus Doctor dengan cumlaude.  Setelah lulus di 
Amerika, aku coba cari2 kerja, tapi cuma kerja2 gaji kecil saja yang bisa 
kudapat.  Memang jurusan agama makin tidak laku, maklum tidak ada perusahaan 
yang bersedia menggaji ilmu angan2 seperti jurusan Islam meskipun bertitel 
doktor.  Sedangkan untuk bekerja sebagai dokter aku harus lulus test persamaan 
dokter yaitu USMLE ataupun CFMG.  Aku tidak mampu mengikuti test ini karena 
biaya registrasinya sangat mahal diluar kemampuan kantongku.

Akhirnhya aku sekolah atau kuliah lagi mengambil jurusan Physics yang juga 
merupakan jurusan yang agak kurang laku di Amerika ini sehingga tersedia banyak 
beasiswa dan juga kerjaan sebagai peneliti di pemerintah.

Di Amerika ini lucu, kalo kita jadi pengangguran enggak bisa dapat kerjaan yang 
bergaji cukup, maka agar bisa dapat kerjaan baik rahasianya adalah kuliah lagi 
karena di Universitas banyak sekali tawaran kerjaan yang bergaji aduhai.

Gara2 nganggur malah aku menambah gelar ilmuwan bukan karena cita2, bukan 
karena kebanggaan, tapi karena mengisi waktu daripada jadi pengangguran.  Gara2 
pengangguran aku jadi banyak gelar2 penelitim, banyak pengalaman, banyak tambah 
teman2 yang jabatannya penting2, yang kesemuanya membuka jalan makin lebar 
untuk sukses hidupku di Amerika.

Jangan tanya lagi masalah keluargaku, ayah ibuku bangga sekali kepada anaknya 
yang murtad ini, ke-mana2 diceritakan kepada teman2nya tentang suksesku ini 
akibat berkat dari Allah yang dipercayanya meskipun aku sendiri sama sekali 
tidak percaya, tidak pernah shalat.

Aku dijadikan muslimah teladan dikampungku untuk mendorong umat Islam lebih 
bertaqwa kepada Allah agar bisa mengikuti jejak kesuksesan diriku.  Kadang kala 
aku merasa jadi sombong karena kesuksesanku ini, tapi kalo pulang kampung aku 
enggak berani sombong, takut dibunuh komando jihad.  Aku pura2 taqwa, pura2 
rendah hati, tapi ayah ibuku tetap saja tidak mungkin dibohongi dia tahu aku 
enggak percaya gitu2an, tapi tetap dia menganggap aku sebagai muslimah yang 
paling soleh dalam keluarga....  Lucu bukan ????

Banyak teman2 di Universitas, setiap ada sales di Library, aku borong buku2nya 
dan aku sumbangin ke beberapa pesantren baik pesantren keluarga milik ayah, dan 
juga pesantren lain milik sahabat2 ayahku.

Meskipun Islam ajaran biadab, tetapi semua muslimin dan ulama sangat 
menyayangi, sangat mengagumi, dan sangat telaten dalam melindungi dan menjaga 
keamanan diriku ini.  Semua ini sangat mengharukan, bahkan adik2 dan kakak 
laki2 ku yang biasa memeras toko2 Cina berhasil aku larang, tentu dengan 
pemberian uang modal untuk usaha ataupun mencari kerjaan.

Jadi aku sebenarnya sangat mencintai Islam beserta segala kebohongan2 ajarannya 
karena dari sinilah aku dilahirkan, dan sampai sekarang juga menjadi 
kepercayaan ayah ibuku, saudara2ku, dan juga sahabat2ku termasuk lingkungan 
yang Islamiah dikampungku.

Tapi apakah karena aku mencintai Islam dan musliminnya menjadi excuse untuk 
berbohong membenarkan kebiadaban2 ajaran2 Islamnya ???  Sebagai ilmuwan aku 
tidak boleh berbohong, sebagai ilmuwan aku harus membela semua manusia tanpa 
membedakan agamanya.  Sebagai ilmuwan aku harus berdiri diatas kebenaran yang 
tidak membedakan agamanya, sebagai ilmuwan aku tak boleh curang cuma membela 
umat agamaku saja dan menjadikan umat lainya korban2.

Kebaikan harus kita dharma baktikan, kejahatan harus kita tumpas, dan ajaran 
biadab harus kita ubah.  Kesemuanya ini komplet tertulis dalam deklarasi HAM 
ditambah lagi sumpah hippocrates dan sumpah professional yang pernah kuucapkan.

Dharma baktiku adalah berbakti kepada semua umat manusia tanpa mem-beda2kan 
terutama mereka yang selama ini tertindas, bukan berbakti kepada agama 
kepercayaan, sama sekali tidak akan berbakti kepada ajaran yang menindas 
wanita, menindas kafir, menindas orang murtad, menindas pemuja berhala, ataupun 
menindas orang Yahudi.

Perjuangan hidupku bukan cuma membahagiakan umat Islam saja tetapi juga memberi 
kebahagiaan yang sama kepada orang2 murtad, kepada orang kafir, kepada 
penyembah berhala dan juga kepada umat lain yang bukjan Islam termasuk kepada 
umat Islam Ahmadiah yang teraniaya karena dianiaya menjadi korban ketaqwaan 
sesama muslimin.

Jadi, aku bukan musuh Islam, juga bukan memusuhi Islam, tetapi pembela Islam 
yang berjuang untuk membersihkan cemongan2 dalam ajaran Islam agar bisa menjadi 
ajaran atau agama kasih sayang sama seperti ajaran agama2 lainnya yang 
menjalankan ibadahnya diatas rel HAM.

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke