PASANGAN KANDIDAT WALIKOTA SURABAYA DARI INDEPENDENT FITRA - NAEN, LOLOS DARI 
BURSA PILWALI SURABAYA TAHUN 2010

Surabaya (beritajatim.com) - Secara resmi, akhirnya
KPU Surabaya meloloskan lima dari enam pasang kandidat cawali dan
cawawali pada bursa Pilwali Surabaya mendatang.

Hal ini berdasar
hasil surat keputusan KPU yang bernomor 65/KPU-kota-014.329945/III/2010
tentang keabsahan persyaratan pencalonan kepala daerah dan wakil kepala
daerah Kota Surabaya dalam Pemilukada Surabaya tahun 2010.

Dari
enam pendaftar, KPU Surabaya tidak meloloskan pasangan
Alisjahbana-Crisman Hadi yang maju dari jalur perseorangan. Sedangkan
lima pasangan kandidat lain yakni pasangan BF Sutadi-Mazlan Mansur,
Arif Afandi-Adies Kadir, Tri Risma Harini-Bambang DH, Fitra Jaya-Naen
Suryono dan Fandi Utomo-Yulius Bustami, dinyatakan lolos.

Ketua
KPU Surabaya, Eko Sasmito mengatakan, penetapan keabsahan terhadap
pasangan calon kali ini, berdasar hasil verifikasi yang dilakukan KPU
Surabaya. "Kita sudah melakukan verifikasi secara cermat, dan hasinya
seperti yang kita umumkan," ujar Eko di kantor KPU Surabaya, Rabu
(31/03/2010).

Ketika dikonfirmasi penyebab gagalnya pasangan
Alisjahbana-Crisman Hadi, Eko mengatakan, pasangan tersebut tidak
mempunyai dukungan yang cukup, sesuai syarat yang telah ditentukan KPU
yakni sebanyak 88,090 dukungan yang dilengkapi dengan KTP dan surat
dukungan.

"Berdasar hasil verifikasi yang kami lakukan, pasangan tersebut tidak mempunyai 
dukungan seperti yang disyaratkan," imbuh Eko.

Namun
Eko enggan menjelaskan secara detail penyebab kurangnya dukungan
pasangan tersebut. Eko mengatakan bahwa detail tidak terpenuhinya
syarat akan disampaikan langsung kepada pasangan calon terlebih dahulu,
sebelum disebarkan kepada masyarakat. "Kita akan sampaikan dulu kepada
pasangan langsung," imbuhnya.

Setelah hasil pengumuman ini, KPU
akan melanjutkan tahapan dengan mengocok nomor urut pasangan yang
dilakukan pada tanggal 3 April 2010 mendatang. [rif/kun]
http://www.beritajatim.com/detailnews.php/17/Pilwali2010/2010-03-31/60316/Pasangan_Alisjahbana-Crisman_Hadi_Tidak_Lolos_Verifikasi



Fitra Bukan Mencalonkan, Tapi Dicalonkan
Dimata kawan-kawannya Fitradjaja Purnama tergolong unik semasa kuliah
maupun aktif dunia dipergerakan. Dia tergolok sosok yang dinamis.
Kedinamisannya dilandasi kecerdasan dan penuh inspiratif. Apalagi
melihat gejolak sosial yang merugikan rakyat kecil. Fitra selalu tampil
sebagai sosok terdepan, memberikan pendampingan (advokasi).



Sebut saja soal Setren Kali yang sampai saat ini, Pemerintahan Kota
(Pemkot) Surabaya hanya bisa mengobrak-abrik. Tidak bisa memberikan
solusi terbaik untuk mereka. Wilayah Surabaya Barat, soal Tanah Kas
Desa (TKD) yang sering berurusan dengan pengembang dan Pemkot. Warga
selalu dikalahkan pengembang oleh Pemkot.



Sementara Surat ijo yang selama ini hanya dijadikan komoditi politik
ketika musim pemilu. Padahal tanah-tanah yang ditempati oleh wrga itu
sesungguhnya sudah bisa dijadikan sebagai hak milik. Mengingat sudah
bertahun-tahun, mereka bermukim. Termasuk penggusuran rumah-rumah dinas
oleh PT. Kereta Api Indonesia (KAI) di Setren Rel. Misalkan di
Wonokromo, Gubeng dan Semut



"Kita lihat saja, kasus-kasus tanah yang melibatkan warga itu. Mereka
pasti tahu siapa yang memberikan advokasi. Hal itu tidak dilakukan
didalam Kota Surabaya ini saja, luar daerah pun Fitra memberikan
pendampingan, “ kata Adik Dwi Putranto, kawan dekatnya semasa aktif di
forum komunikasi mahasiswa.



Meskipun Fitra dan Adik beda kampus. Fitra aktif di Forum Komunikasi
Mahasiswa Surabaya (FKMS), sementara Adik di Forum Komunikasi Mahasiswa
Malang (FKMM). Hubungan emosional itu tetap jalan sampai sekarang.
Meskipun Adik bergelut sebagai pengusaha dan pengacara. Perkawanan itu
selalu intensif dilakukan dan tidak ada gap, pembatasan.



Awalnya Adik sendiri penasaran mendengar nama Fitra. Pemilik kantor
pengacara Adik Dwi Putranto, SH dan Rekan ini, kemudian bertanya kepada
almarhum Aditya Harsa (Didit) yang satu angkatan di Fakultas Hukum di
Universitas Brawijaya (Unibra) Malang.



Didit memang dekat sama Fitra, sekaligus mentor dalam pergerakan.
Kemudian tahun 1992-an, ketemulah Adik dengan Fitra. “Melihat sosok
Fitra. Saya dalam hati berucap. Pemimpin masa depan bangsa itu sudah
hadir, “ katanya sambil mengatakan ada perasaan bangga dan penuh haru.



Selaku “senior” Adik mengakui, kepemimpinan Fitra mulai saat itu sudah
mononjol. Kalau sekarang dicalonkan oleh rakyat sebagai Walikota
Surabaya, sangat tepat. “Kami semua sudah sepakat. Jika dia harus
memimpin Surabaya. Selama ini warga kota hanya disuruh mimpi oleh
kebijakan-kebijakan yang ada, “ jelas pria berkacamata ini.



Sementara itu ditempat terpisah kawan lain, Didit Kaspe juga mengakui
figur seorang Fitradjaja Purnama. Didit yang saat itu sebagai Ketua
Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI) Jawa Timur. Sangat mendukung
kalau Fitra dicalonkan sebagai walikota. “Saya melihat, dia itu
orangnya inspiratif, cerdas dan tidak mau diam. Ketika melihat sesuatu
kurang sempurna, apalagi persoalan sosial, “ katanya ketika ditemui
dalam acara satu tahun almarhum Adtya Harsa.



Fitra, masih kata Didit, selalu berinisiatif mengajak kawan-kawannya
untuk berdiskusi dan bereaksi. Kalau sekarang Fitra dicalonkan oleh
rakyat sebagai Walikota Surabaya, sangatlah tepat. Artinya Fitra sudah
ada great, nilai jual untuk rakyat yang belum mengenal. “Rakyat yang
belum tahu itu pasti ada. Tidak semua warga kota ini kenal Fitra kan?,
“ tandas Didit yang mulai mengenal Fitra tahun 1996.



Didit juga menyarankan, tim Fitra atau tim bentukan rakyat ini jangan
sampai lengah. Baginya, dicalonkannya Fitra merupakan peluang yang
sangat besar. Sejarah babak baru pemilihan kepala daerah yang murni
diusung rakyat. Perubahan ketatanegaraan yang berpihak kepada rakyat,
harus segera diwujudkan. “Kekhwatiran saya disini adalah
pemilih-pemilih tradisional. Meskipin Surabaya itu sebuah kota
Metropolitan, tapai pemilih-pemilih yang model seperti itu masih ada.
Semua tergantung Fitra dan tim pemenangan, “ ungkapnya.



Apa yang dikatakan kedua kawannya ini memang benar adanya. Sosok
pribadi Fitra, selain yang diungkapkan tadi. Dia adalah calon Walikota
Surabaya yang tergolong masih muda. Setidaknya Fitra belum
terkontaminasi kepentingan politik apapun. Fitra juga bisa dikatakan
sebagai calon Walikota Surabaya alternatif. Karena Fitra murni diusung
oleh rakyat. Dalam hal ini yang perlu diingat, Fitra bukan mencalonkan
diri, tapi dicalonkan



http://www.beritajatim.com/citizenjurnalism.php?newsid=509



      

Kirim email ke