Fakta Itu Sama Sekali Bukan Keyakinan
                                                    
Keyakinan itu bukan fakta dan sebaliknya.  Artinya, dipercaya atau tidak 
dipercaya...faktanya tidak akan berubah.

Fakta tidak bisa diubah dan tidak bisa berubah karena adanya kepercayaan atau 
keimanan.

Kalo ada fakta yang bisa berubah karena keyakinan atau keimanan, maka hal itu 
bukanlah fakta tapi "Delusi" atau "Waham".

Keyakinan atau kepercayaan anda tidak bisa anda paksakan kepada siapapun juga 
apalagi faktanya tidak ada.

Bahkan, kalopun faktanya ada, tetap tidak bisa orang2 lain dipaksa menerima 
fakta2nya itu.

Contohnya, faktanya ikan asin itu sehat, tapi salah kalo anda paksakan fakta 
yang jadi keyakinan anda ini kepada semua orang.

Kalo fakta yang ada saja tidak boleh dipaksakan, apalagi keyakinan yang enggak 
ada faktanya sama sekali.  Bahkan cara2 memaksakannya dengan teror Jihad Islam 
hingga banyak yang mati termasuk dirinya sendiri.

Misalnya, ada orang percaya adanya superman setelah nonton filemnya, jelasnya 
filem itu bukan fakta tapi bayangan khayalan sutradara.  Tapi kalo ada yang mau 
percaya boleh saja tidak ada alasan untuk melarangnya, tapi kalo kemudian 
memaksakan dengan ancaman teror, maka hal ini sudah salah, harus ditindak, 
harus dilarang, dan harus dihentikan.  Kalo perlu malah filemnya dilarang, 
bukan karena kita anti pada filemnya, tetapi mencegah meluasnya terorisme yang 
diakibatkannya itu.


> "muhamad.syukur" <muhamad.syu...@...> wrote:
> Bagaimana anda menanggapi hal terlampir
> Kalo bukan tuhan yang menciptakan, apakah
> anda mampu mbok must
> 

Apakah karena saya enggak mampu menciptakan jadi membuktikan bahwa Tuhan yang 
menciptakan, membuktikan adanya Tuhan ???

Itu cara berpikir orang primitive, orang berpendidikan yang punya akal sehat 
enggak bisa berpikir cara begitu.

Sama saja kalo pertanyaan itu dilontarkan oleh para penyembah berhala yang 
menyembah dewa Zeus:

"Kalo bukan Dewa Zeus yang menciptakan, apakah anda mampu mbok must"

Lalu apakah karena saya enggak mampu menciptakan jadi membuktikan bahwa Dewa 
Zeus yang menciptakan, membuktikan adanya Dewa Zeus ???

Bisa enggak nalar anda menyerap analogi yang saya jelaskan ini ???  Akhirnya 
cuma perang yang terjadi, satunya memaksakan bahwa Allah yang menciptakan, yang 
lain memaksakan bahwa Dewa Zeus yang menciptakan, padahal kenyataannya 
ke-dua2nya enggak bisa membuktikan fakta2 yang diyakininya.

Sekali lagi keyakinan bukan fakta, bukan bukti, karena alternatif yang lain 
bisa sama2 dikumandangkan dan sama2 tidak ada buktinya.

Ny. Muslim binti Muskitawati.









>  
> 
>  
> 
>  
> 
> ________________________________
> 
> From: [email protected] 
> [mailto:[email protected]] On Behalf Of muskitawati
> Sent: 02 April 2010 10:13
> To: [email protected]
> Subject: -:: Milist NB::- Berudu Ga Perlu Ngerti Basah, Kita Ga Perlu Percaya 
> Tuhan !!
> 
>  
> 
>   
> 
> Berudu Ga Perlu Ngerti Basah, Kita Ga Perlu Percaya Tuhan !!
> 
> Masalah berudu enggak ngerti basah dan ngerti basah setelah jadi katak, maka 
> manusia juga enggak perlu ngerti adanya Tuhan dan enggak mungkin setelah mati 
> baru ngerti adanya Tuhan.
> 
> Orang mati enggak mungkin bisa punya pengertian, karena pusat pengertian itu 
> adanya diotak, kalo sudah mati maka otaknya juga mati, lalu gimana bisa punya 
> pengertian ??? Dogol bukan ???
> 
> Kalopun mau percaya ada Tuhan dalam dimensi diluar hidup manusia, lalu apa 
> perlunya hidup dalam dimensi manusia ini perlu percaya adanya Tuhan.
> 
> Ada tidaknya Tuhan, bukan urusan untuk mempercayainya. Inti dari urusan 
> mereka yang percaya adanya Tuhan merasa berkewajiban memaksa yang tidak 
> percaya adanya Tuhan agar juga mempercayainya dengan segala cara ancaman, 
> mulai dari neraka, siksaan, hingga teror jihad.
> 
> Biarpun Tuhan itu ada, tak perlu yang enggak percaya dipaksa percaya dengan 
> segala jalan dan akal2an, toh Tuhan sendiri enggak pernah mengganggu atau 
> ngurusin mereka yang enggak percaya dan juga enggak pernah ngurusin mereka 
> yang percaya !!???
> 
> > Tie Sin <tiesin06@> wrote:
> > Demikianlah pemahaman mengenai
> > Tuhan...sulit dimengerti manusia
> > karena manusia masih hidup
> > dilingkungan manusia sendiri
> > yang berkecimpung dalam lingkaran
> > urusan manusia itu sendiri, bila
> > manusia tsb sudah keluar dari
> > lingkaran manusianya, baru lah
> > dia bisa memahami Tuhan dalam
> > arti kita hanya seperti berudu
> > yang omong kosong tentang arti
> > "basah" yang sebenarnya tidak
> > pernah dimengertinya...
> 
> Anda salah memahami permasalahannya, inti permasalahannya bukan berudu yang 
> enggak ngerti basah, tetapi masalah kodok yang memaksakan berudu yang harus 
> mengerti arti basah yang cuma yang dimengertinya.
> 
> Islam dengan Syariah Islamnya memaksakan semua orang harus masuk Islam dan 
> yang bukan Islam tidak boleh menikmati nikmat Allah, dan dunia dan alam 
> semesta ini hanya milik Allah.
> 
> Musuh Islam adalah mereka yang menolak menyembah Allah, dan karena 
> dianggapnya dunia dan alam semesta ini milik Allahnya, maka mereka enggak 
> berhak menikmatinya, dengan kata lain halal untuk dibunuh. Akibatnya terjadi 
> teror2 yang dilakukan teroris jihad Islam diseluruh dunia.
> 
> Jadi masalah berudu memang enggak perlu dan enggak membutuhkan pengertian 
> basah meskipun dirinya selalu basah.
> 
> Sama aja, umat Islam enggak perlu dipaksa harus mengerti Islam meskipun dia 
> Islam, yang harus dia mengerti adalah HAM, bahwa tidak boleh membunuh siapa 
> saja karena beda agamanya.
> 
> Dan untuk menumpas teror jihad Islam kita harus memperkuat dan mendukung kubu 
> "War on Terror", bukan malah berusaha memahami Islamnya, karena memahami 
> Islam itu tidak bisa menumpas terror selain masuk Islam juga untuk ikut jadi 
> terorist Jihad Islam ini.
> 
> Ny. Muslim binti Muskitawati.
>


Kirim email ke