Refleksi : Para petinggi negara terdiri dari oknom-oknom penjahat dan agama 
dipakai untuk sepuhan bibir, maka oleh karena itu Alloh menjadi murka dan 
berbagai bencana silih berganti dilimpahkan.

http://www.riaupos.com/berita.php?act=full&id=4784&kat=5

      Tajuk Rencana
      Negeri Banyak Masalah 
            2 April 2010

              
            BANJIR, longsor dan angin topan tak henti-hentinya menghantam 
beberapa tempat di Indonesia. Belum lagi gempa yang hingga kini korbannya belum 
tertangani dengan baik seperti di Sumatera Barat dan Jawa Barat. 



            Setelah ini entah apa lagi bencana yang akan datang dan seberapa 
lagi korban berjatuhan.

            Sedikit demi sedikit keberkahan hidup di Indonesia ini dicabut oleh 
Allah SWT. Gaya hidup penuh dusta, bohong yang sudah biasa, kepalsuan yang 
selalu dijejalkan, penipuan serta berbagai penyimpangan perilaku. 

            Sogok dan suap sudah menjadi tradisi di berbagai sektor kehidupan.

            Dari kalangan bawah hingga atas, sudah biasa mempraktikkan sogok 
dan suap. Alasannya, agar semua lancar. Belum lagi para penegak hukum, bisa 
jadi hanya sekian persen saja yang tak pernah menelan uang suap dan sogok. 
Rakyatpun mulai apatis. 

            Sepertinya tidak ada setitikpun harapan yang dapat diharapkan bagi 
masa depan Indonesia. Seakan semua manusia bergerak ke arah perbuatan yang 
nista itu.

            Belum usai kasus Bank Century, seka-rang banyak orang membicarakan 
Gayus Tambunan. Pegawai golongan III A Dirjen Pajak, menjadi seorang miliarder. 
Ke-kayaannya sangat fantastis, mencapai Rp25 miliar. 

            Sebuah rekaanpun muncul. Bila pegawai pajak jumlahnya 32.000, 
seandainya yang bermental seperti Gayus Tambunan 10 persen saja, maka 3.200 
dikalikan Rp25 miliar, hasilnya sudah Rp80 triliun. Seandainya yang bermental 
seperti Gayus Tambunan itu, misalnya 90 persen, maka 28.000 dikalikan Rp25 
miliar, maka hasilnya mencapai Rp720 triliun. Sungguh luar biasa.

            Inilah kisah negeri yang dihuni para penjahat, koruptor, tukang 
tipu, tukang sogok dan suap, para maling uang negara, dan semuanya tak ada yang 
merasa malu sedikitpun. 

            Para koruptor dan maling uang negara, serta tukang sogok, ketika di 
pengadilan tak ada rasa penyesalan. Wajah mereka tetap ceria, dan selalu 
menebar senyum. Dia masih menganggap senyum itu ibadah.

            Negeri ini benar-benar aneh. Negeri yang para birokrat dan pejabat 
serta penguasanya sangat aneh dan ajaib. Mereka mempunyai prinsip, watak orang 
Indonesia itu suka pelupa. Kalau mereka korup, maling uang negara, menerima 
sogok dan suap, lantas kasusnya dibawa ke pengadilan, prinsipnya pasti rakyat 
akan lupa. Nauzubillahi min dzalik.*** 
     

Kirim email ke