Non-Materialisme Pun Adalah Materialisme
Allah, Tuhan, Dewa-dewi hingga Jin botol juga bisa dianggap materialisme, yang
meskipun abstract se-olah2 bukan real karena kerja daripada angan2, tapi
produsen angan2nya itu adalah realitas dari kerja otaknya.
Istilah materialisme dan non-materialisme janganlah digunakan dalam diskusi
yang terkait science, karena istilah ini hanya atau kebanyakan digunakan oleh
ulama2 untuk mempropagandakan kepercayaannya dengan penggunaan istilah yang
hanya dikuasai oleh keyakinannya saja.
Bahkan yang dianggapnya sebagai non-materialisme itupun juga materialisme.
Suara juga merupakan materialisme, bahkan suara yang enggak ada juga
materialisme yang bisa diobservasi.
Bahkan, Allah, Tuhan yang diyakini oleh para ulama dan umatnya juga
materialisme, yang juga bisa diobservasi, karena angan2 pun merupakan
materialisme fungsi dari kerja otak yang bisa diobservasi.
> Re: Dialektika Psikologi.
> "wawan" <selarasmi...@...> wrote:
> Konsep Sigmund sederhana tapi ingat
> konsep artinya benda fisiknya tidak
> ada tapi tetep aja kok keliatan
> konsepnya itu dialektika materialis
> karena yang pertama yalah dia
> mendasarkan psikologi berdasar
> dorongan fungsi biologis, terutama
> fungsi seksual....
Oleh karena itu sebaiknya anda jangan menggunakan istilah "dialektika
materialis" karena istilah ini bias dan sudah enggak digunakan lagi dalam dunia
ilmiah, kebanyakan yang menggunakan istilah ini ulama agama sehingga kalo anda
kaitkan dengan science akhirnya jadi kabur pokok yang dibicarakannya.
Dalam science yang dulunya dianggap non-materialisme ternyata akhirnya dianggap
materialisme juga jadi oleh karena itu jauhkan dari istilah2 begituan.
Concept itu adalah idea yang sifatnya abstract, meskipun tidak ada benda
fisiknya tapi bisa saja yang membicarakan dan menerangkan tentang fisiknya
misalnya dorongan fungsi biologis atau fungsi seksual.
> yang kedua dia mengkonsepkan ada
> Id
> Ego
> SuperEgo
>
Memang pada dasarnya ketiga yang anda sebutkan diatas hanyalah konsep, tapi
konsep ini olehnya dijadikan komponen meskipun juga komponen-nya itu abstract.
Itulah sebabnya, jangan menggunakan paham materialisme atau non-materialisme
ataupun spiritual, karena istilah2 yang dia ciptakan itu telah didefinisikannya
dengan jelas sehingga ada fisiknya.
Ketiga component yang anda sebutkan diatas adalah component dari Personality
(kepribadian).
Kepribadian (Personality) bisa diobservasi jadi bisa dianggap materialisme
padahal tidak kelihatan fisiknya. Kembali disini saya ingatkan jangan
menggunakan teori2 materialisme karena science itu bukan ilmu agama.
Menurut Freud, kepribadian memiliki 3 component fungsi yaitu: id, ego, dan
superego.
> (catatan: sekali lagi saya
> tekankan bahwa id, ego, dan
> superego itu konsep, organ
> fisiknya tidak ada dalam tubuh
> biologis kita)
>
Id, ego, dan superego memang mulanya konsep dari kepribadian, tapi dalam
pemahaman selanjutnya, ketiga ini harus anda anggap sebagai component dari
kepribadian yang ada fisiknya, yang ada fungsinya.
> ini tak lain...id itu adalah
> thesis, superego adalah antithesis,
> dan ego adalah sinthesis...
>
Bukan, Freud enggak menjelaskannya begitu. Id itu adalah dorongan primitive,
seperti dorongan sex, dorongan nafsu makan, dorongan kencing, dorongan mau
berak, yang kesemuanya ini merupakan aktivitas fungsi dari organ2 yang ada
fisiknya. Dia menjelaskan bahwa semua dorongan2 ini memerlukan pemuasan yang
bila tidak mendapatkan jalan keluarnya, maka anda disimpan dalam bentuk
"anxietas" atau kecemasan.
Ego, menurut Freud merupakan proses pelampiasannya, ada dorongan dan ada
pelampiasannya. Ego mengatur proses pelampiasannya, yang sifatnya motorik atau
merupakan implementasi dalam menyalurkan dorongan id yang primitive diatas.
Freud enggak bilang itu adalah sinthesis. Mungkin anda yang memahaminya begitu.
Superego, adalah guilty feeling, yaitu perasaan bersalah apabila implementasi
ego bertentangan dengan etika yang berlaku. Jadi superego merupakan componen
juga yang berfungsi mengontrol atau menghakimi kerja atau fungsi ego. Sama
sekali tidak disebut sebagai antithesis.
> jadi didalam diri manusia itu
> menurut si Preud ini tak lain
> adalah ...terutama dorongan
> biologis fungsi seksual (materialis),
> dan yang kedua terjadi dialektika
> atau konflik psyche...antara id
> dan superego yang menghasilkan
> sinthesis ego.
>
Makanya, saya bilang jangan menggunakan istilah "sinthesis", karena ujung2nya
jadi enggak ketemu, meskipun mulanya seperti mirip2.
Meskipun ketiga component diatas berdiri sendiri2, tetapi ketiganya bekerja
dalam satu kesatuan kerja sama yang mengekspresikan keseluruhan kepribadian
atau personality tsb. Jadi kalo anda menggunakan istilah "synthesis, thesis,
dan antithesis", se-olah2 jadinya semua kerja sama itu diekspressikan oleh
"ego" sebagai hasil synthesa. Bukan sama sekali bukan begitu. Karena ego itu
bukan hasil dari synthesa ketiganya tetapi merupakan component yang berdiri
sendiri juga. Ego bukan juru bicara dari ID, dan Superego.
Ego mengatur implementasinya dan hasilnya adalah personality itu sendiri,
mungkin lebih cocok personality ini yang merupakan synthesis-nya, tapi jangan
gunakan istilah tsb bisa runyam nantinya.
Kemudian dengan adanya ketiga component tsb, Freud menjelaskan hasil kerja dari
fungsi ketiga component ini adalah "Personality". Barulah kemudian bisa dia
menjelaskan adanya variasi dalam "personality" yang bisa menjelaskan macam2
bentuk personality yang akan menjadi latar belakang semua gangguan jiwa yang
terjadi kemudian.
Untuk itu kemudian dia menjelaskan mekanisme dari gangguan jiwa itu adalah
"conflict". Dan dia menjelaskan "conflict" itu sebagai adanya gangguan kerja
sama dari ketiga component personality diatas yang juga nantinya diekspressikan
oleh personality yang bisa diobservasi.
Adanya "conflict" tidak selalu menyebabkan terjadinya gangguan personality dan
tidak selalu menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, karena dalam mengatasi
conflict, jiwa atau psyche mempunyai component yang lain yang disebutnya
"defense mechanism".
Dan fungsi "defense mechanism" inilah yang nantinya kemudian digunakan untuk
menganalisa semua gangguan2 kejiwaan maupun personality.
Menurut Freud, semua ketidak seimbangan kerja sama component2 personality, akan
memproduksi Anxiety, yang oleh defense mechanism disupressikan kedalam alam
bawah sadar.
Untuk menjelaskan hal ini, Sigmund Freud memberi perumpamaan, guru didepan
kelas sedang mengajar dengan tenang, tiba2 ada satu murid yang bikin keributan.
Sang guru memberi peringatan dan si murid kembali tenang. Guru ini
diumpamakan sebagai superego. Id itu diumpamakan keributannya atau penyebab
keributannya. Murid yang bikin ribut itu adalah Ego.
Setelah kelasnya tenang, murid lain atau murid yang sama kembali bikin ribut,
akhirnya sang guru memerintahkan si murid keluar dari kelas sehingga suasana
kelas kembali menjadi tenang. Untuk mengeluarkan si murid dari kelas, perlu
fungsi lain, yaitu disebutnya defense mechanism. Keluarnya si murid dari kelas
diumpamakan sebagai supressi anxiety kedalam alam bawah sadar.
Si murid penyebab keributan yang sekarang berada diluar kelas, tetap exist,
tetap ada, bukan berarti hilang, keberadaannya se-olah2 tidak ada karena
dipenjarakan dalam "alam bawah sadar"
Semua conflict yang memproduksi anxietas akan disupressikan oleh defense
mechanisme kedalam alam bawah sadar. Hal ini tidak berarti bahwa si
anxietas-nya jadi hilang tetapi tetap ada dan ditumpuk kedalam alam bawah sadar
si individu. Namun suatu saat, anxietas yang ditumpuk kedalam alam bawah sadar
ini, bisa meledak karena kepenuhan, dan supaya jangan meledak, maka oleh
defense mechanisme si anxietas ini dibuang ke saluran ventilasi.
Ventilasi inilah yang juga kemudian dijelaskan panjang lebar yang akan menjadi
expressi daripada gangguan2 jiwa. Saluran ventilasi ini antara lain adalah
"substitusi".
Juga "mimpi" merupakan satu dari saluran ventilasi yang digunakan oleh defense
mechanisme. Dari mimpi2 pasien inilah kemudian Sigmund Freud bisa mencari dan
menemukan sumber dari conflict untuk menyembuhkan berbagai gangguan2 kejiwaan.
Ny. Muslim binti Muskitawati.