> "Y. Adam Prasetyo" <yad...@...> wrote:
> tidak konsisten ...
> dari sekarang mengatakan non materialisme
> juga materialisme. ketidak konsistenan
> tidak menunjukkan kamu bisa ilmiah dengan
> pendapat yang tepat dengan adanya
> non materialisme itu adalah materialisme
> 

Apanya yang enggak konsistent???  Saya konsistent bilang bahwa science sudah 
tidak pernah menggunak istilah tsb.  Istilah tsb kebanyakan digunakan ulama 
untuk propaganda kepercayaannya yang enggak ada dengan sebutan non-materialisme.

Dulu science pernah diperalat ulama2 gereja, mereka menganggap realitas itu ada 
dua yaitu materialisme dan non-materialisme.  Oleh para ulama dijelaskan bahwa 
sinar, cahaya, dan juga cahaya yang enggak bisa terlihat kesemuanya adalah 
non-materialisme.

Dengan istilah inilah ulama2 gereja ingin mempropagandakan bahwa kepercayaannya 
adalah sebagian dari non-materialisme.  Dan kepercayaannya itu harus menjadi 
bagian daripada science yang enggak bisa dipisahkan.

Setelah perjalanan waktu yang cukup panjang, science tetap memisahkan diri dari 
agama, dan membuktikan bahwa, semua yang enggak ada itu bukan non-materialisme, 
tapi angan2, dan angan2 itu diproduksi juga oleh materialisme yaitu otak.

Cahaya, sinar, dan juga sinar yang enggak bisa dilihat juga adalah materialisme 
karena semua sinar ternyata memang material, adalah photon.  Semua gelombang 
cahaya adalah photon, bahkan cahaya yang tidak terlihat juga ada gelombangnya.  
Oscilloscope adalah alat untuk menangkap gelombang, jadi gelombang apapun bisa 
dipersepsi melalui Oscilloscope termasuk gelombang yang enggak ada.

Apakah gelombang yang enggak ada itu merupakan gelombang, jawabnya ya, yang 
enggak ada itu juga gelombang, dan dalam Oscilloscope bisa dilihat gelombang 
itu berupa garis lurus atau datar yang berarti tidak ada gelombang.  Artinya 
tidak ada apa2nya.


Jadi kalo mau menganggap bahwa Tuhan itu bisa dipersepsi sebagai realitas 
gelombang yang tidak ada, bisa juga, tapi khan enggak perlu disembah, enggak 
perlu didoain.

> science membuktikan adanyya sesuatu
> yang tidak terlihat tapi nyata adanya
> akhirnya menjadikan hukum-hukum
> fisika adalah nyata adanya
> dengan demikian, pembuktian agama
> adalah salah satu pendekatan science
> dan ilmiah
> 

Seperti yang saya katakan, yang enggak ada itu juga ada dan bisa dipersepsi 
dengan oscilloscope, bentuknya garis datar artinya enggak ada apa2nya.

Agama khan menganggap Tuhan itu ada, lalu mau dipersepsi dengan apa adanya 
Tuhan itu ????  Satu2nya alat untuk mempersepsi adanya Tuhan itu adalah adanya 
gelombang tadi, karena semua benda dan semua realitas merupakan gelombang.

Bahkan gelombang yang enggak ada juga bisa dipersepsi dengan oscilloscope, 
yaitu berbentuk garis datar.  Dan kalo ini yang dimaksudkan dengan Tuhan, maka 
tak perlu disembayangin, tak perlu disembah, tapi boleh saja dipercaya tentunya 
juga sebagai angan2.

Sedangkan, angan2 itu juga ada gelombangnya yang bisa dalam bentuk gambar Tuhan 
dalam angan2 seseorang, jadi kalo setiap orang membentuk gambar angan2 Tuhan 
dalam masing2 otaknya, tentu gambarannya enggak perlu sama atau enggak mungkin 
sama.

Sekali lagi, tidak pernah ada anggapan dari scientist manapun juga bahwa agama 
adalah pendekatan science.

Amerika negara yang paling maju dibidang science, dan telah melarang semua 
agama untuk diajarkan disemua sekolah public.  Cukup enggak untuk dipahami, ini 
bukan pendapat saya, ini bukan angan2 saya, tapi begitulah kenyataannya yang 
meskipun anda enggak mau percaya tapi anda khan enggak bisa mengubah kenyataan 
ini.

Kalo saja para ulama dari gereja yang saya tulis diatas berhasil menipu 
sehingga agamanya dianggap bagian dari science, bisa jadi agama Islam 
dianggapnya bukan agama.  Karena para ulama diatas adalah dari gereja Nasrani 
bukan beragama Islam.

Demikianlah, kalo umat Islam hanya menganggap Islam saja yang merupakan agama 
satu2nya didunia, maka para ulama itu juga sama, mereka menganggap hanya 
Nasrani saja yang merupakan agama satu2nya didunia.

Itulah sebabnya, dengan memisahkan agama bukan bagian dari science, maka dunia 
scientific jadi netral bisa menerima semua umat beragama sama2 jadi scientist 
tanpa perlu beragama.

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke