Rfeleksi : Apa pendapat Anda setelah membaca artikel ini?

http://www.hidayatullah.com/wawancara/11104-prof-dr-m-amien-rais-pluralisme-kebablasan

Prof. Dr. M. Amien Rais: Pluralisme Kebablasan! 
Friday, 19 March 2010 13:54 

Kalau agama sama, banyak ayat Al-Quran yang harus dihapus. Tidak ada gunanya 
shalat lima waktu, bayar zakat, puasa Ramadhan

Hidayatullah.com-Pluralisme agama masih menjadi sesuatu yang menarik 
diperdebatkan. Pluralisme, yang berkaitan dengan penerimaan terhadap 
agama-agama yang berbeda,  lantas dipahami bahwa semua agama adalah sama. 
Pendapat ini kemudian ditolak oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan kalangan 
Islam lain. Tapi apa yang salah dengan Pluralisme Agama? "Karena agama jelas 
tidak sama. Kalau agama sama, banyak ayat Al-Quran yang harus dihapus," ujar 
Prof Dr Amien Rais.

Baca pikiran Pluralisme Agama oleh Amien Rais. Wawancara ini dikutip dari 
Majalah Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah Edisi Maret 2010.

Apa pendapat Anda mengenai aliran pluralisme?

Akhir-akhir ini saya melihat istilah pluralisme yang sesungguhnya indah dan 
anggun justru telah ditafsirkan secara kebablasan. Sesungguhnya toleransi dan 
kemajemukan telah diajarkan secara baku dalam Al-Quran. Memang Al-Quran 
mengatakan hanya agama Islam yang diakui di sisi Allah, namun koeksistensi atau 
hidup berdampingan secara damai antar-umat beragama juga sangat jelas diajarkan 
melalui ayat, lakum diinukum waliyadin" (Bagiku agamaku dan bagimu agamamu). 
Dalam istilah yang lebih teknis, wishfull coexistent among religions, atau 
hidup berdamai antarumat beragama di muka bumi.

Adakah yang keliru dari aliran pluralisme?

Nah, karena itu tidak ada yang salah kalau misalnya seorang Islam awam atau 
seorang tokoh Islam mengajak kita menghormati pluralisme. Karena tarikh Nabi 
sendiri itu juga penuh ajaran toleransi antarberagama. Malahan antar-umat 
beragama boleh melakukan kemitraan di dalam peperangan sekalipun. Banyak 
peristiwa di zaman Nabi ketika umat Nasrani bergabung dengan tentara Islam 
untuk menghalau musuh yang akan menyerang Madinah.

Jadi apa yang dibablaskan?

Saya prihatin ada usaha-usaha ingin membablaskan pluralisme yang bagus itu 
menjadi sebuah pendapat yang ekstrim, yaitu pada dasarnya mereka mengatakan 
agama itu sama saja. Mengapa sama saja? Karena tiap agama itu mencintai 
kebenaran. Dan tiap agama mendidik pemeluknya untuk memegang moral yang jelas 
dalam membedakan baik dan buruk. Saya kira kalau seorang muslim sudah 
mengatakan bahwa semua agama itu sama, maka tidak ada gunanya shalat lima 
waktu, bayar zakat, puasa Ramadhan, pergi haji, dan sebagainya.

Karena agama jelas tidak sama. Kalau agama sama, banyak ayat Al-Quran yang 
harus dihapus. Nah, kalau sampai ajaran bahwa "semua agama sama saja" diterima 
oleh kalangan muda Islam; itu artinya, mereka tidak perlu lagi shalat, tidak 
perlu lagi memegang tuntunan syariat Islam. Kalau sampai mereka terbuai dan 
terhanyutkan oleh pendapat yang sangat berbahaya ini, akhirnya mereka bisa 
bergonta-ganti agama dengan mudah, seperti bergonta-ganti celana dalam atau 
kaos kaki.

Apakah kebablasan pluralisme karena faktor kesengajaan atau rekayasa?

Saya kira jelas sekali adanya think tank atau dapur-dapur pemikiran yang sangat 
tidak suka kepada agama Allah, kemudian membuat bualan yang kedengarannya enak 
di kuping: semua agama itu sama. Jika agama itu sama, lantas apa gunanya ada 
masjid, ada gereja, ada kelenteng, ada vihara, ada sinagog, dan lain sebagainya.

Yang dimaksud dengan think-tank ?

Saya yakin think tank itu ada di negara-negara maju yang punya dana berlebih, 
punya kemewahan untuk memikirkan bagaimana melakukan ghazwul fikri (perang 
intelektual terhadap dunia Islam). Misalnya, kepada dunia Islam ditawarkan 
paham lâ diniyah sekularisme yang menganggap agama tidak penting, termasuk di 
dalamnya pluralisme, yang kelihatannya indah, tapi ujung-ujungnya adalah ingin 
menipiskan akidah Islam supaya kemudian kaum muslim tidak mempunyai fokus lagi. 
Bayangkan kalau intelektual generasi muda Islam sudah tipis imannya, selangkah 
lagi akan menjadi manusia sekuler, bahkan tidak mustahil mereka menjadi 
pembenci agamanya sendiri.

Sepertinya aliran pluralisme itu sudah masuk ke kalangan muda Muhammadiyah, 
pendapat Anda?

Kalau sampai aliran pluralisme masuk ke kalangan muda Muhammadiyah, ini musibah 
yang perlu diratapi. Oleh karena itu, saya menganjurkan sebelum mereka membaca 
buku-buku profesor dari Amerika dan Eropa, bacalah Al-Quran terlebih dahulu. 
Saya sendiri yang sudah tua begini, 66 tahun, sebelum saya membaca buku-buku 
Barat, baca Al-Quran dulu. Karena orang yang sudah baca Al-Quran, dia akan 
sampai pada kesimpulan bahwa berbagai ideologi yang ditawarkan oleh manusia 
seperti mainan anak-anak yang tidak berbobot. Jika meminjam istilah Sayyid 
Quthb, seorang yang duduk di bawah perlindungan Al-Quran ibarat sedang duduk di 
bukit yang tinggi, kemudian melihat anak-anak sedang bermain-main dengan 
mainannya. Orang yang sudah paham Al-Quran akan bisa merasakan bahwa ideologi 
yang sifatnya man-made, buatan manusia, itu hanya lucu-lucuan saja. Hanya 
menghibur diri sesaat, untuk memenuhi kehausan intelektual ala kadarnya. 
Setelah itu bingung lagi.

Kenapa paham pluralisme itu bisa masuk ke kalangan muda Muhammadiyah? Apa 
karena Muhammadiyah terlalu terbuka atau karena tidak adanya sistem kaderisasi?

Hal ini perlu dipikirkan oleh pimpinan Muhammadiyah. Saya melihat, banyak 
kalangan muda Muhammadiyah yang sudah eksodus. Kadang-kadang masuk ke gerakan 
fundamentalisme, tapi juga tidak sedikit yang masuk Islam Liberal. Islam yang 
sudah melacurkan prinsipnya dengan berbagai nilai-nilai luar Islam. Hanya 
karena latah. Karena ingin mendapatkan ridho manusia, bukan ridho Ilahi. Oleh 
karena itu, lewat majalah Tabligh, saya ingin mengimbau kepada anak-anak saya, 
calon-calon intelektual Muhammadiyah, baik putra maupun putri, agar menjadikan 
Al-Quran sebagai rujukan baku . Saya pernah tinggal di Mesir selama satu tahun. 
Saya pernah diberitahu oleh doktor Muhammad Bahi, seorang intelektual Ikhwan, 
ketika saya bersilaturahmi ke rumah beliau, beliau mengatakan, "Hei kamu anak 
muda, kalau kamu kembali ke tanah airmu, kamu jangan merasa menjadi pejuang 
Muslim kalau kamu belum sanggup membaca Al-Quran satu juz satu hari." Waktu itu 
saya agak tersodok juga, tetapi setelah saya pikirkan, memang betul. Kalau 
Al-Quran sebagai wahyu ilahi yang betul-betul membawa kita kepada keselamatan 
dunia-akhirat, kita baca, kita hayati, kita implementasikan, kehidupan kita 
akan terang benderang. Tapi kalau pegangan kita pada Al-Quran itu setengah 
hati. Kemudian dikombinasikan dengan sekularisme, dengan pluralisme tanpa 
batas, dengan eksistensialisme, bahkan dengan hedonisme, maka kehidupan kita 
akan rusak. Sehingga betul seperti kata pendiri Muhammadiyah dalam sebuah 
ceramah beliau, "Ad-dâ'u musyârokatullâhi fii jabarûtih". Namanya penyakit 
sosial, politik, hukum, dan lain-lain, itu sejatinya bersumber kepada 
menyekutukan Allah dalam hal kekuasaannya. Obatnya bukan menambah penyakit, 
yakni dengan isme-isme yang kebablasan, tapi obatnya itu, "adwâ'uhâ 
tauhîddullâhi haqqa". Obatnya adalah tauhid dengan sungguh-sungguh. Jadi, saya 
juga ingat dengan kata-kata Mohammad Iqbal: "The sign of a kafir is that he is 
lost in the horizons. The sign of a Mukmin is that the horizons are lost in 
him." Saya pernah termenung beberapa hari setelah membaca pernyataan Mohammad 
Iqbal yang sangat tajam itu. Karena betapa seorang mukmin akan begitu jelas, 
begitu paham, begitu terang benderang memahami persoalan dunia. Sedangkan orang 
kafir, bingung dan tersesat.

Sepertinya Muhamadiyah mulai terseret arus pluralisme, contohnya pada saat 
peluncuran novel Si Anak Kampoeng. Penulisnya mengatakan, sebagian dari 
keuntungan penjualan akan digunakan untuk membentuk Gerakan Peduli Pluralisme, 
pandangan Anda?

Saya tidak akan mengomentari apa dan siapa. Cuma adik saya yang anggota PP 
Muhammadiyah, pernah memberikan sedikit kriteria atau ukuran yang sangat bagus. 
Dia bilang begini, "Kalau orang Muhammadiyah sudah tidak pernah bicara tauhid 
dan malah bicara hal-hal di luar tauhid, apalagi kesengsem dengan pluralisme, 
maka perlu melakukan koreksi diri." Apakah itu tukang sapu di kantor 
Muhammadiyah, apakah tukang pembawa surat di kantor Muhammadiyah, apakah 
profesor botak, sama saja. Kalau sudah tidak kerasan berbicara tauhid, mau 
dikemanakan Muhammadiyah? Muhammadiyah ini bisa bertahan sampai satu abad, 
tetap kuat, tidak pikun, dan masih segar, karena tauhidnya. Implementasi 
tauhidnya di bidang sosial, pendidikan, hukum, politik, itu yang menjadikan 
Muhammadiyah perkasa dan tidak terbawa arus. [www.hidayatullah.com]

<<cak-amin_thumb.jpg>>

Kirim email ke