Sudah jelas dari awal ketika membonceng bendera agama untuk kepentingan 
Politiknya.
Sekarang sudah 10 tahun reformasi apa hasilnya..? apa hasil dari  para 
intelektual agama yang
mengisi dibanyak jabatan pemerintah dan legislatif..? Akhir satu-persatu mulai 
terbantahkan bahkan ada yang mulai membisu atas slogan dulu yang mereka 
teriakkan bahwa dengan ajaran  agama tersebutlah yang akan
meningkatkan sosio ekonomi rakyat. Tapi apa yang kita lihat para gelandangan 
dan pengemis, rumah - kumuh anak yatim- piatu  tidak bisa dipelihara negara dan 
bahkan terbiarkan. Bahkan begitu banyak yayasan agama mencari sumbangan 
disetiap perempatan, angkutan umum, mesin atm, dan gerai belanja.  
Jadi merujuk dengan opini hari ini mengenai apa kebanggaan menjadi bangsa 
Indonesia, aku bangga 
bila para pemikir-pemikir bangsa model begini tidak lagi diberi peran, bangga 
bila Indonesia berani
terbuka menjadi  negara sekuler.
Biar urusan agama dan keyakinan tidak lagi dicampuri  negara, semua rakyat 
berhak dilindungi atas keyakinannya tersebut.
Tetapi bisa lebih berbahagia bila terbentuk negara-negara serikat baru, karena 
memang kita tidak akan bisa
disatukan.

hens
============




________________________________
From: sunny <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Mon, April 5, 2010 9:25:40 PM
Subject: CiKEAS> Prof. Dr. M. Amien Rais: Pluralisme Kebablasan!

  
Rfeleksi : Apa pendapat Anda setelah membaca artikel 
ini?
 
http://www.hidayatu llah.com/ wawancara/ 11104-prof- dr-m-amien- 
rais-pluralisme- kebablasan
 
Prof. Dr. 
M. Amien Rais: Pluralisme Kebablasan! 
Friday, 19 March 2010 13:54 
 
Kalau agama sama, banyak 
ayat Al-Quran yang harus dihapus. Tidak ada gunanya shalat lima waktu, bayar 
zakat, puasa Ramadhan

Hidayatullah. com—Pluralisme 
agama masih menjadi sesuatu yang menarik diperdebatkan. Pluralisme, yang 
berkaitan dengan penerimaan terhadap agama-agama yang berbeda,  lantas 
dipahami bahwa semua agama adalah sama. Pendapat ini kemudian ditolak oleh 
Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan kalangan Islam lain. Tapi apa yang salah 
dengan Pluralisme Agama? “Karena agama jelas tidak sama. Kalau agama sama, 
banyak ayat Al-Quran yang harus dihapus,” ujar Prof Dr Amien Rais.

Baca 
pikiran Pluralisme Agama oleh Amien Rais. Wawancara ini dikutip dari Majalah 
Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah Edisi Maret 
2010.

Apa pendapat Anda mengenai 
aliran pluralisme?

Akhir-akhir 
ini saya melihat istilah pluralisme yang sesungguhnya indah dan anggun justru 
telah ditafsirkan secara kebablasan. Sesungguhnya toleransi dan kemajemukan 
telah diajarkan secara baku dalam Al-Quran. Memang Al-Quran mengatakan hanya 
agama Islam yang diakui di sisi Allah, namun koeksistensi atau hidup 
berdampingan secara damai antar-umat beragama juga sangat jelas diajarkan 
melalui ayat,lakum diinukum waliyadin” (Bagiku agamaku dan bagimu 
agamamu). Dalam istilah yang lebih teknis, wishfull coexistent among 
religions, atau hidup berdamai antarumat beragama di muka 
bumi.

Adakah yang keliru dari 
aliran pluralisme?

Nah, karena 
itu tidak ada yang salah kalau misalnya seorang Islam awam atau seorang tokoh 
Islam mengajak kita menghormati pluralisme. Karena tarikh Nabi sendiri itu juga 
penuh ajaran toleransi antarberagama. Malahan antar-umat beragama boleh 
melakukan kemitraan di dalam peperangan sekalipun. Banyak peristiwa di zaman 
Nabi ketika umat Nasrani bergabung dengan tentara Islam untuk menghalau musuh 
yang akan menyerang Madinah.

Jadi apa yang 
dibablaskan?

Saya prihatin ada usaha-usaha ingin membablaskan 
pluralisme yang bagus itu menjadi sebuah pendapat yang ekstrim, yaitu pada 
dasarnya mereka mengatakan agama itu sama saja. Mengapa sama saja? Karena tiap 
agama itu mencintai kebenaran. Dan tiap agama mendidik pemeluknya untuk 
memegang 
moral yang jelas dalam membedakan baik dan buruk. Saya kira kalau seorang 
muslim 
sudah mengatakan bahwa semua agama itu sama, maka tidak ada gunanya shalat lima 
waktu, bayar zakat, puasa Ramadhan, pergi haji, dan sebagainya.

Karena 
agama jelas tidak sama. Kalau agama sama, banyak ayat Al-Quran yang harus 
dihapus. Nah, kalau sampai ajaran bahwa “semua agama sama saja” diterima oleh 
kalangan muda Islam; itu artinya, mereka tidak perlu lagi shalat, tidak perlu 
lagi memegang tuntunan syariat Islam. Kalau sampai mereka terbuai dan 
terhanyutkan oleh pendapat yang sangat berbahaya ini, akhirnya mereka bisa 
bergonta-ganti agama dengan mudah, seperti bergonta-ganti celana dalam atau 
kaos 
kaki.

Apakah kebablasan pluralisme karena faktor kesengajaan atau 
rekayasa?

Saya kira jelas sekali adanya think tank atau 
dapur-dapur pemikiran yang sangat tidak suka kepada agama Allah, kemudian 
membuat bualan yang kedengarannya enak di kuping: semua agama itu sama. Jika 
agama itu sama, lantas apa gunanya ada masjid, ada gereja, ada kelenteng, ada 
vihara, ada sinagog, dan lain sebagainya.

Yang dimaksud dengan 
think-tank ?

Saya yakin think tank itu ada di negara-negara maju 
yang punya dana berlebih, punya kemewahan untuk memikirkan bagaimana melakukan 
ghazwul fikri (perang intelektual terhadap dunia Islam). Misalnya, kepada dunia 
Islam ditawarkan paham lâ diniyah sekularisme yang menganggap agama tidak 
penting, termasuk di dalamnya pluralisme, yang kelihatannya indah, tapi 
ujung-ujungnya adalah ingin menipiskan akidah Islam supaya kemudian kaum muslim 
tidak mempunyai fokus lagi. Bayangkan kalau intelektual generasi muda Islam 
sudah tipis imannya, selangkah lagi akan menjadi manusia sekuler, bahkan tidak 
mustahil mereka menjadi pembenci agamanya sendiri.

Sepertinya aliran pluralisme itu sudah masuk ke kalangan 
muda Muhammadiyah, pendapat Anda?

Kalau sampai aliran pluralisme masuk ke kalangan muda 
Muhammadiyah, ini musibah yang perlu diratapi. Oleh karena itu, saya 
menganjurkan sebelum mereka membaca buku-buku profesor dari Amerika dan Eropa, 
bacalah Al-Quran terlebih dahulu. Saya sendiri yang sudah tua begini, 66 tahun, 
sebelum saya membaca buku-buku Barat, baca Al-Quran dulu. Karena orang yang 
sudah baca Al-Quran, dia akan sampai pada kesimpulan bahwa berbagai ideologi 
yang ditawarkan oleh manusia seperti mainan anak-anak yang tidak berbobot. Jika 
meminjam istilah Sayyid Quthb, seorang yang duduk di bawah perlindungan 
Al-Quran 
ibarat sedang duduk di bukit yang tinggi, kemudian melihat anak-anak sedang 
bermain-main dengan mainannya. Orang yang sudah paham Al-Quran akan bisa 
merasakan bahwa ideologi yang sifatnya man-made, buatan manusia, itu 
hanya lucu-lucuan saja. Hanya menghibur diri sesaat, untuk memenuhi kehausan 
intelektual ala kadarnya. Setelah itu bingung lagi.

Kenapa paham 
pluralisme itu bisa masuk ke kalangan muda Muhammadiyah? Apa karena 
Muhammadiyah 
terlalu terbuka atau karena tidak adanya sistem kaderisasi?

Hal 
ini perlu dipikirkan oleh pimpinan Muhammadiyah. Saya melihat, banyak kalangan 
muda Muhammadiyah yang sudah eksodus. Kadang-kadang masuk ke gerakan 
fundamentalisme, tapi juga tidak sedikit yang masuk Islam Liberal. Islam yang 
sudah melacurkan prinsipnya dengan berbagai nilai-nilai luar Islam. Hanya 
karena 
latah. Karena ingin mendapatkan ridho manusia, bukan ridho Ilahi. Oleh karena 
itu, lewat majalah Tabligh, saya ingin mengimbau kepada anak-anak saya, 
calon-calon intelektual Muhammadiyah, baik putra maupun putri, agar menjadikan 
Al-Quran sebagai rujukan baku . Saya pernah tinggal di Mesir selama satu tahun. 
Saya pernah diberitahu oleh doktor Muhammad Bahi, seorang intelektual Ikhwan, 
ketika saya bersilaturahmi ke rumah beliau, beliau mengatakan, “Hei kamu anak 
muda, kalau kamu kembali ke tanah airmu, kamu jangan merasa menjadi pejuang 
Muslim kalau kamu belum sanggup membaca Al-Quran satu juz satu hari.” Waktu itu 
saya agak tersodok juga, tetapi setelah saya pikirkan, memang betul. Kalau 
Al-Quran sebagai wahyu ilahi yang betul-betul membawa kita kepada keselamatan 
dunia-akhirat, kita baca, kita hayati, kita implementasikan, kehidupan kita 
akan 
terang benderang. Tapi kalau pegangan kita pada Al-Quran itu setengah hati. 
Kemudian dikombinasikan dengan sekularisme, dengan pluralisme tanpa batas, 
dengan eksistensialisme, bahkan dengan hedonisme, maka kehidupan kita akan 
rusak. Sehingga betul seperti kata pendiri Muhammadiyah dalam sebuah ceramah 
beliau, “Ad-dâ’u musyârokatullâ hi fii jabarûtih”. Namanya penyakit sosial, 
politik, hukum, dan lain-lain, itu sejatinya bersumber kepada menyekutukan 
Allah 
dalam hal kekuasaannya. Obatnya bukan menambah penyakit, yakni dengan isme-isme 
yang kebablasan, tapi obatnya itu, “adwâ’uhâ tauhîddullâhi haqqa”. Obatnya 
adalah tauhid dengan sungguh-sungguh. Jadi, saya juga ingat dengan 
kata-kata Mohammad Iqbal:“The sign of a kafir is that he is lost in the 
horizons. The sign of a Mukmin is that the horizons are lost in him.” Saya 
pernah termenung beberapa hari setelah membaca pernyataan Mohammad Iqbal yang 
sangat tajam itu. Karena betapa seorang mukmin akan begitu jelas, begitu paham, 
begitu terang benderang memahami persoalan dunia. Sedangkan orang kafir, 
bingung 
dan tersesat.

Sepertinya Muhamadiyah mulai terseret arus 
pluralisme, contohnya pada saat peluncuran novel Si Anak Kampoeng. Penulisnya 
mengatakan, sebagian dari keuntungan penjualan akan digunakan untuk membentuk 
Gerakan Peduli Pluralisme, pandangan Anda?

Saya tidak akan 
mengomentari apa dan siapa. Cuma adik saya yang anggota PP Muhammadiyah, pernah 
memberikan sedikit kriteria atau ukuran yang sangat bagus. Dia bilang begini, 
“Kalau orang Muhammadiyah sudah tidak pernah bicara tauhid dan malah bicara 
hal-hal di luar tauhid, apalagi kesengsem dengan pluralisme, maka perlu 
melakukan koreksi diri.” Apakah itu tukang sapu di kantor Muhammadiyah, apakah 
tukang pembawa surat di kantor Muhammadiyah, apakah profesor botak, sama saja. 
Kalau sudah tidak kerasan berbicara tauhid, mau dikemanakan Muhammadiyah? 
Muhammadiyah ini bisa bertahan sampai satu abad, tetap kuat, tidak pikun, dan 
masih segar, karena tauhidnya. Implementasi tauhidnya di bidang sosial, 
pendidikan, hukum, politik, itu yang menjadikan Muhammadiyah perkasa dan tidak 
terbawa arus. [www.hidayatullah. com]
 


      

Kirim email ke