http://citizennews.suaramerdeka.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1194

      Kasus Century: Praktik Nyata Budaya Tribalisme        
      Ditulis Oleh Wiyanto     


      07-04-2010,  
      Akhirnya DPR memberikan keputusan yang menyatakan bahwa kasus dana 
talangan (bailout) Bank Indonesia senilai 6,7 trilyun kepada bank Century 
dinyatakan bermasalah dan akan dilanjutkan keranah hukum. Namun, sehari setelah 
keputusan tersebut dibuat pemerintah dengan sigap menanggapi keputusan DPR 
tersebut dengan menyatakan bahwa keputusan yang diambil para pejabat BI dan 
KSSK  dianggap sebagai keputusan yang tepat disaat krisis.


      Sebelumnya dalam perjalanan untuk menentukan keputusan pada sidang 
paripurna DPR masyarakat Indonesia kembali disuguhi adegan yang tidak mendidik. 
Sidang paripurna DPR kembali diwarnai kericuhan, penyebabnya Marzuki Alie 
sebagai Ketua DPR yang berasal dari Partai Demokrat sekaligus pemimpin sidang 
dianggap bertindak otoriter karena mengetuk palu sidang untuk mengakhiri sidang 
tanpa ada konsultasi dan persetujuan dari 3 wakil Ketua DPR lainnya yang 
kemudian diikuti oleh anggota DPR yang berusaha untuk memutuskan hasil pansus 
Century.

      Kejadian kericuhan di dalam gedung DPR ini memang bukan untuk  yang kali 
pertama, sebab pada masa-masa sebelumnya kejadian tersebut pernah terjadi. Tiga 
wakil Ketua DPR kemudian mengadakan konferensi pers tentang kejadian yang 
berlangsung, ketiga-tiganya menyesalkan tindakan yang dilakukan oleh Ketua DPR 
tersebut.

      Kini masalah lain muncul sebagai tandingan atas riuhnya tudingan partai 
politik yang berseberangan dengan pemerintah yaitu masuknya 19 tokoh teras PDI 
Perjuangan yang tersangkut masalah pengangkatan Deputi Senior Bank Indonesia 
Miranda Goeltom. Kini bukan lagi Partai Demokrat yang dilanda keresahan namun 
PDI Perjuangan-lah yang dibuat resah dengan munculnya kasus tersebut. Inikah 
budaya tribalisme (paham yang mementingkan kepentingan diri sendiri dan 
kelompoknya dengan mengorbankan pihak lain yang berseberangan ideologi, 
kepentingan maupun politiknya) yang diajarkan oleh para pemimpin dan wakil 
rakyat kepada rakyat Indonesia?   

      Budaya Tribalisme
      Birokrasi dan lembaga kepartaian di negeri ini seperti sedang menderita 
sakit dengan obat yang over dosis, sehingga seolah berubah menjadi gurita yang 
memakan dirinya sendiri. Gejala tribalisme bisa dilihat dari perilaku KKN di 
dalam tubuh proses reformasi yang cenderung saling menghancurkan diantara 
kekuatan reformasi itu sendiri (Abdul Munir Mulkan. 2003:24). Hal ini dapat 
menjelaskan mengapa krisis nasional multi wajah yang sudah berlangsung beberapa 
tahun belum juga diatasi, bahkan meluas pada krisis moralitas dan kepercayaan 
sosial.

      Lihatlah kasus-kasus besar yang akhir-akhir ini dipertontonkan oleh para 
pemimpin negeri ini. Praktek KKN, kriminalisasi kasus untuk kepentingan politik 
pihak tertentu, pengemplangan pajak, pelanggaran hukum untuk pemuasan diri, 
atau bahkan kasus-kasus yang melanggar norma meskipun mengatasnamakan 
undang-undang dan masih banyak lagi contoh lainnya yang memperlihatkan 
kebobrokan dunia hukum dan politik di negeri ini.

      Justru keadaan kontras terjadi di sisi dan tempat lain yang berbeda yaitu 
di kehidupan rakyat bawah. Betapa takutnya masyarakat kecil untuk melakukan 
hal-hal kecil yang dianggap melanggar norma dan hukum karena mereka takut akan 
hukuman yang akan mereka terima yang tentu sangat tidak adil dan tidak 
sebanding dengan pelanggaran yang mereka lakukan.

      Sungguh akan terjadi bila saja negeri ini memperbolehkan rakyatnya untuk 
melakukan penegakan hukum dengan tangannya sendiri, seperti seorang pencuri 
ayam yang harus babak belur atau  bahkan harus mati terpanggang ketika aksinya 
dipergoki oleh warga. Dan bayangkan berapa banyak jumlah pejabat negeri ini 
yang akan mengalami peristiwa yang serupa jika saja para koruptor dilepas di 
pusat-pusat keramaian tentu dia akan segera menjadi bulan-bulanan massa dan 
tidak lama kemudian akan menjadi mayat yang tidak ada harganya. Mengapa 
keadilan di negeri ini begitu sulit ditegakkan?

      Seberapa besar perhatian para pemegang kekuasaan untuk memperhatikan 
kondisi masyarakat yang pada awal perjalanan karier mereka rakyat adalah 
pendukung dan ladang pendulangan suara. Mana janji yang pernah mereka sampaikan 
dalam kampanye politik menuju tampuk kekuasaan tersebut? Benarkah politik 
Tribalisme di negeri ini telah menjadi sebuah tradisi yang mengakar dan tidak 
akan dapat dihilangkan?

      Tulisan ini bukan bermaksud untuk memprovokasi atau memanipulasi keadaan, 
namun lebih kepada keinginan agar keadilan benar-benar ditegakkan oleh para 
penguasa negeri ini, bukan keadilan yang tebang pilih atau keadilan untuk 
kepentingan tertentu.

      Rakyat yang Malang
      Masyarakat kecil atau yang biasa disebut rakyat, dari dulu mungkin tidak 
akan pernah berubah kondisi kehidupannya selama para pemegang kekuasaan masih 
menganggap bahwa kekuasaan mereka itu adalah sesuatu yang sakral dan tidak 
boleh diganggu serta digoyang oleh siapa pun, bahkan oleh rakyat yang merupakan 
pemilik kekuasaan yang sesungguhnya. Pandangan bahwa kekuasaan adalah amanat 
Tuhan memang bisa dijadikan dasar bagi sebuah kekuasaan. Namun, keyakinan yang 
sama  juga dengan mudah berarti tidak mungkinnya manusia mengganggu gugat atau 
mengontrol kekuasaan kecuali Tuhan sendiri.

      Dalam hubungannya itulah kekuasaan negara atau kebangsaan begitu gampang 
menjadi penindas, diktator dan tirani. Inilah nasib kaum proletar tersebut di 
Indonesia, dari jaman kerajaan, penjajahan dan kemerdekaan keadaan tersebut 
tidak pernah berubah, bahkan lebih mengenaskan.

      Kaum proletar memang ditakdirkan menjadi manusia yang malang, mereka 
hanya dijadikan pelengkap kehidupan dan pemenuhan ambisi orang-orang kaya atau 
pejabat dan mereka harus mampu bangun dan bekerja untuk kehidupannya sendiri. 
Mereka harus mampu mempertahankan amanat untuk terus meneruskan generasi, 
meskipun tertatih-tatih dalam menjalani hidup namun mereka masih berusaha keras 
agar tidak terlindas oleh kejamnya kehidupan. Kehidupan kejam yang sudah 
terkonsep, kehidupan yang mungkin dalam anggapan mereka akan sulit diubah 
kecuali oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan.

      Ketidakmanpuan rakyat merumuskan kepentingannya terutama melalui 
permainan politik, menjadikan apa yang dilakukan oleh rakyat seringkali 
menimbulkan kesulitan dan persoalan yang lebih rumit. Sementara itu, banyak di 
antara rakyat kebanyakan tidak mampu memahami apa yang sesungguhnya yang sedang 
mereka hadapi dan peroleh. Sayangnya, dalam banyak kasus aktifitas dan 
partisipasi rakyat yang demikian itu justru dianggap sebagai tindakan yang 
merongrong kewibawaan pemerintah, mengganggu stabilitas nasional dan tidak 
bersedia berkorban untuk kepentingan umum atau negara.

      Dalam kondisi yang demikian tidak ada yang dapat dilakukan oleh kaum 
proletar kecuali mengalah kepada keadaan. Adilkah ini?  Sungguh  ketidakadilan 
tidak bisa ditegakkan apabila pihak-pihak yang bersangkutan tidak memiliki 
mentalitas yang baik, khususnya untuk merubah keadaan yang tidak adil tersebut 
menjadi keadaan yang benar-benar berkeadilan. Keadilan yang benar-benar bisa 
dirasakan oleh semua pihak.

      Mentalitas Baru
      Anomi kehidupan, mungkin itu yang terjadi sekarang ini. Sebuah 
ketidakpedulian individu terhadap kehidupan di sekitarnya karena 
individu-individu tersebut merasa bahwa orang lain disekitarnya sudah tidak 
peduli lagi dengan dirinya, buat apa mereka peduli dengan orang lain sementara 
yang dipedulikan tidak lagi peduli dengannya. Perubahan kehidupan yang cepat 
yang kemudian mereka cari dengan mencari pelarian yang tidak bertanggungjawab. 
Mereka merasa gagal dalam hidup ini yang  kemudian membawa mereka kedalam 
kehidupan yang tidak bertanggungjawab.

      Anggapan bahwa pemerintah tidak lagi memiliki kepedulian kepada rakyat 
kecil, mungkin akan menjadi salah satu factor yang akan menyebabkan sifat anomi 
tersebut. Masalah-masalah yang seharusnya diurus oleh pemerintah seperti 
kesejahteraan, kesehatan, pendidikan sepertinya jauh panggang dari api. Bahkan 
yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah anggapan mereka yang di atas sana 
(legislatif dan eksekutif) hanya memperkaya diri sendiri, mewakili diri sendiri 
dan bukan untuk menyejahterakan dan mewakili rakyat yang menjadi konstituennya.

      Kegagalan manusia saat ini merupakan buah dari kegagalan pendidikan 
dinegeri ini dimasa yang lalu. Mentalitas yang terbentuk saat ini adalah 
mental-mental penerabas untuk kepentingan sesaat. Banyak kasus di negeri ini 
yang harus berakhir di penjara, karena memang dari awal oleh para pelaku sadar 
atau tidak sadar sudah mempersiapkan diri mereka untuk mengantre menjadi 
penghuni hotel prodeo tersebut. Beberapa pejabat yang tersangkut kasus korupsi 
misalnya, mereka lebih memilih tinggal di penjara dalam waktu yang cukup lama 
daripada harus mengembalikan uang hasil korupsi yang mereka lakukan selama 
mereka menduduki jabatan politik tertentu. Perhitungan mereka bukan lagi kepada 
moralitas akan tetapi lebih kepada perhitungan ekonomi.

      Lantas apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki mentalitas menerabas 
ini? Apakah kita harus melakukan amputasi terhadap  sebuah generasi? Jawabannya 
tentu bukan itu. Yang dapat kita lakukan sekarang adalah dengan cara 
memperbaiki sistem pendidikan kita, terutama pendidikan moral, akhlak, dan 
pendidikan agama. Bangsa ini berbeda dengan bangsa lain dimana pun di belahan 
dunia ini, sehingga kita berhak untuk memberikan pendidikan yang benar-benar 
sesuai dengan karakteristik bangsa ini. Bangsa ini harus mampu membangun 
mentalitas baru, mentalitas yang berorientasi pada proses bukan tujuan. 

      Perlu keberanian dan ketulusan dari pemegang kekuasaan untuk menjadikan 
dirinya sebagai motivator sekaligus pemegang kendali di garda depan untuk 
merubah semua problematika kehidupan perpolitikan dan etika bernegara di negeri 
yang kita cintai ini. Kehidupan yang dipenuhi rasa peduli dan saling mendorong 
kearah kebaikan bukan kearah yang menyebabkan hancurnya bangsa ini. Semoga 
bangsa yang kita cintai ini dapat melalui masa-masa sulit seperti ini dan 
menjadi negeri yang benar-benar dapat dijadikan kebanggan bagi seluruh 
masyarakatnya. Semoga!

      Views: 179

     

Kirim email ke