Bilqis Mati Gara2 Mismanagement Yang Tak Perlu
                                         
Setelah sibuk2 tak keruan, tak ada tujuan, dan tak jelas planningnya, akhirnya 
Bilqis yang katanya akan dioperasi di RS Karyadi mati akibat gangguan 
pernapasan yang tidak terkait gangguan hatinya itu sendiri.

Memang, bukan cuma penyakit hati saja, semua gangguan organ dalam biasa akan 
membawa komplikasi kepada jantung, ginjal, pernapasan, dan juga hati.  Oleh 
karena itu, dalam semua penanganan (management) penyakit atau gangguan organ 
dalam, yang meskipun cuma satu organ saja yang terganggu, namun pengawasan dan 
penanganan yang ketat juga dilakukan terhadap organ2 lainnya seperti disebutkan 
diatas.

Dari apa yang diberitakan media yang memberitakan keluhan2 dari RS Karyadi, 
bisa jelas disimpulkan bahwa RS Karyadi tsb tidak tahu apa yang harus 
dilakukannya, para dokter yang tersangkut dalam rencana pencangkokan hati ini 
tampaknya men-cari2 collega diluar negeri untuk berkonsultasi sehingga operasi 
cangkok hati ini menjadi mulur melebih batas waktu yang seharusnya.  Keluhan2 
dari RS Karyadi ini jelas cuma cari kambing hitam untuk jadi alasan kesalahan:

Kambing Hitam pertama:
Disalahkannya RS di Singapore National University Hospital (NUH)yang terlambat 
mengirimkan hasil pemeriksaan darah yang telah lebih dari seminggu sebelumnya 
dikirimkan.
http://www.primaironline.com/berita/sosial/operasi-bilqis-tunggu-keputusan-menkes

Kambing Hitam kedua:
Menyalahkan RS di Amerika yang tidak disebutkan nama rumah sakitnya, yang 
dituduh lamban mengirimkan hasil pemeriksaan Eipstein-Barr virus test-nya.  
Padahal, untuk pemeriksaan seperti ini bahkan semua RS di Amerika sekalipun 
biasanya mengirimkannya ke laboratorium khusus diluar Rumah Sakit, tetapi entah 
karena kurang informasi team dokter RS Karyadi justru mengirimkannya ke RS di 
Amerika yang namanya dirahasiakan.

Kambing Hitam ketiga:
Team dokter RS Karyadi ini memberi alasan perlunya waktu lama untuk 
meningkatkan berat badan pasien dari 8.4 kg sehigga mencapai 9 kg sebagai 
syarat berat badan yang aman untuk melakukan operasi.  Sukarnya menaikkan berat 
badan ini, menurut team dokter disebabkan terjadinya gangguan penyerapan 
makanan akibat adanya gangguan bilier ini. Padahal diluar negeri untuk 
menaikkan berat badan seperti ini bisa dilakukan dengan melalui infus asam 
amino langsung diserap melalui pembuluh darahnya, karena melalui mulut biasanya 
dimuntahkan pasiennya.  Memang, persediaan infus protein dosis tinggi di 
Indonesia selain mahal belum tentu tersedia karena harus diimport dari luar 
negeri.

Kambing Hitam keempat:
Tidak tersedianya dana yang dibutuhkan minimum adalah satu milyard rupiah.  
Jumlah ini baru terkumpul melalui sumbangan di facebook setelah melalui waktu 
yang cukup lama.  Hal ini juga merupakan alasan yang di-cari2 dan sama sekali 
tidak masuk akal.  Karena, semua RS dimanapun diseluruh dunia memiliki kontak 
kerjasama Internasional termasuk untuk saling mengirimkan pasien, saling tukar 
informasi, dan saling tukan tenaga ahli dalam menangani kasus2 seperti ini.  
Masalah dana tidak pernah menjadi soal, karena setiap teaching hospital 
diseluruh dunia selain mendapat dana penelitian dari pemerintah juga mereka 
memiliki yayasan atau foundation2 yang menjadi donatur tetapnya.

Dari keempat kambing hitam yang dikemukakan oleh RS Karyadi ini, sangatlah 
jelas dan meyakinkan, bahwa RS ini tidak memiliki, keyakinan, pengalaman dan 
keahlian untuk melakukan pencangkokan hati.  Lebih dari itu, RS Karyadi tidak 
siap dan tidak layak untuk melakukan pencangkokan hati ini. Karena itulah, team 
dokter RS Karyadi ini, ber-ulang2 melakukan konsultasi dengan MenKes untuk 
meminta bantuan agar bisa mendapatkan kontak2 dari RS diluar negeri yang 
diperkirakan bisa memberi bantuan konsultasi kepada team dokter RS Karyadi ini. 
 Bahkan, dikatakan telah dua kalo pimpinan team dokter ini berkunjung 
mengadakan pertemuan di RS NUH di-Singapore.  Jelas, RS baik di Singapore 
maupun Amerika pasti mengenakan biaya sangat tinggi sehingga memaksa team 
Dokter RS Karyadi ini perlu mengumpulkan dana terlebih dulu untuk membiayai 
pemeriksaan2 sample darah di Singapore maupun di Amerika.  Karena kalo RS di 
Singapore dan di Amerika tidak mengenakan cost sama sekali, tidak perlu masalah 
biaya jadi permasalahan, karena RS Karyadi sendiri merupakan teaching hospital 
yang memiliki dana penelitian tahunan yang jumlahnya sangat besar kepada semua 
teaching hospital diseluruh Indonesia.

Bukan cuma di Indonesia, bahkan semua teaching Hospital diseluruh dunia, selalu 
mendapatkan dana penelitian dari pemerintahnya serta foundation2 besar yang 
menjadi donatur tetapnya.  Jadi, kalo saya yang menjadi kepala team dokter di 
RS Karyadi, atau saya yang jadi MenKes, maka saya pasti akan membatalkan 
rencana operasi cangkok hati di RS Karyadi yang tidak siap ini.  Saya akan 
mengirimkan Bilqis kesatu RS didunia yang memang memiliki pengalaman yang 
banyak dalam pencakokan hati ini, antara lain adalah RS2 di Amerika, Israel, 
India, dan China yang kesemuanya gratis atau free.  Semua rumah sakit cangkok 
hati ini memiliki segala fasilitas yang dibutuhkan sehingga tak perlu 
mengirimkan sampel darah pasien yang dioperasi ini untuk diperiksa diluar Rumah 
Sakit, apalagi dikirim keluar negeri seperti ke Singapore atau ke Amerika.  
Jelasnya, apa yang saya katakan ini bisa anda para pembaca membuktikannya 
sendiri beberapa website rumah sakit spesialis cangkok hati gratis yang saya 
cantumkan dibawah ini:

http://www.clearwisdom.net/html/articles/2006/5/11/73120.html
http://www.royalfree.nhs.uk/liver.aspx?top_nav_id=1&tab_id=648
http://www.encyclopedia.com/doc/1G1-109557661.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Beth_Israel_Deaconess_Medical_Center
http://en.wikinews.org/wiki/Los_Angeles_hospital_lies,_discriminates_for_Saudi_liver_transplant_patient

Masih ada ratusan rumah sakit yang berpengalaman internasional dalam menangani 
pencangkokan hati didunia ini, terutama, India, China, Amerika, Inggris, 
Israel, Australia, Jepang, Taiwan, Korea, Singapore, Thailand, dll, dimana 
Indonesia termasuk yang paling tertinggal karena ketidak mampuan merintis 
komunikasi kerja sama dengan semua rumah sakit tsb.

Jangankan kerjasama dengan RS diluar negeri, bahkan kerja sama antar RS didalam 
negeri sekalipun buruk sekali, penuh prejudice, saling jegal2an, dan kegagalan 
DepKes menciptakan link kerja sama tsb dikarenakan masing2 cuma mengukur 
keuntungan sendiri (korupsi) yang saling mencurigai atau prejudice yang dilatar 
belakang macam2 permasalahan yang kompleks.

Semua RS di-negara2 Islam adalah contoh yang jelas, akibat adanya sikap 
religious prejudice terhadap orang2 kafir/seculer, menyebabkan pembatasan atau 
larangan2 membina kerja sama tsb meskipun pembatasan atau larangan2 itu bukan 
berasal dari dokter2nya yang professional, melainkan dari para birokratnya 
sendiri yang menjunjung tinggi akidah Syariah Islam yang sangat bermusuhan 
tanpa harus diekspressikan dalam bentuk kata2.  Padahal sikap RS di-negara2 
sekuler sama sekali terbuka tidak mem-beda2kan darimana pasien tsb berasal 
maupun apapun agama si pasien tsb.  Contohnya, RS cangkok jantung di India 
setiap tahunnya melakukan ratusan operasi Cangkok hati kepada pasien2 dari 
Pakistant dan Bangladesh.  Padahal secara politis, ideologynya, negara2 tsb 
bermusuhan.

Hambatan seperti ini sangatlah kental bisa anda lihat antar RS seperti yang 
terjadi antara RS Islam Jakarta (Yarsi=Yayasan RS Islam) dengan RS St.Carolus.  
Meskipun dalam beberapa kasus ada dokter2 ahli top dari RS Carolus ini diundang 
oleh rekannya di RS Yarsi ini, namun kerja sama antar kolega ini bersifat 
horizontal bukan vertical. Padahal pendirian RS Yarsi itu sendiri mulanya dari 
uang bantuan Belanda.  Hampir saja RS Yarsi ini dulunya gagal berdiri karena 
dana dari Belanda dikorupsi pimpinan RS Yarsi.  Hamatan2 psikologis yang 
merugikan ini memang sumbernya adalah ajaran Islam itu sendiri yang mengisolasi 
umatnya terhadap umat yang dianggapnya musuh Islam.

Sebetulnya, untuk kasus Bilqis ini bukan hal yang sukar bagi MenKes untuk 
memerintahkan pasien ini dikirim keluar negeri yang biayanya hanya ongkos 
pesawat saja yang sama sekali tidak mahal.  Bahkan ada beberapa RS juga 
menyediakan tiket gratis kepada pasien yang juga gratis.  Biasanya, kalopun 
dalam pemeriksaan pre-surgery ditemukan hal2 atau kondisi khusus dimana 
dianggap RS lainnya lebih berpengalaman, maka oleh dokter pimpinan team operasi 
akan langsung bisa dikonsultasikan atau dikirim agar tindakan operasinya 
dilakuan diluar negeri atau di RS ybs.

Ny. Muslim binti Muskitawati.










Kirim email ke