http://forum.detik.com/showthread.php?t=179025


DPR meminta tambahan anggaran 210 M 
--------------------------------------------------------------------------------

http://id.news.yahoo.com/lptn/201004...0-e5c0aa3.html

Pemerintah bersama DPR sedang membahas Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja 
Negara (RAPBN) Perubahan tahun 2010. Dalam pembahasan, Wakil Rakyat memaksa 
kepada pemerintah supaya memberikan tambahaan anggaran sebesar Rp 210 miliar.

Dengan penambahaan alokasi anggaran ini, maka total seluruh anggaran DPR 
menjadi sekitar Rp 2,2 triliun. Padahal alokasi anggaran dalam pagu APBN yang 
disahkan DPR adalah sebesar Rp 1,9 triliun dan kenaikan alokasi DPR 90.3 persen 
dari total seluruh anggaran DPR.

Kenaikan anggaran sepertinya akan lolos begitu saja. Sebab tidak ada pengawasan 
dari publik. Dan pada sisi lain, anggota DPR sangat pintar mengalihkan isu 
antara lain kunjungan penggagas kasus Bank Century ke sejumlah tokoh publik, 
isu pembentukan panitia khusus pajak.

Sementara itu anggaran perjalanan luar negeri Rp 122 miliar tak akan pernah 
diutak-atik dan dipermasalahan dalam pembahasan. Apalagi untuk dihilangkan. 
Perjalanan ke luar negeri untuk setiap negara akan mengikutsertakan 13 anggota 
dewan yang terhormat dan dua orang sekretaris selama tujuh hari.

Permintaan kenaikan anggaran DPR yang telah disetujui Badan Urusan Rumah Tangga 
DPR dan sedang dibahas antara pemerintah di antaranya rumah aspirasi untuk 77 
daerah pemilihan sebesar Rp 78.9 miliar, tenaga ahli untuk anggota 545 orang Rp 
49 miliar, dan asuransi kesehatan dan keluarganya dengan Fasilitas VVIP Rp 10 
miliar.

Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (FITRA) menyebut, program 
pembentukan rumah aspirasi akan membebani keuangan negara tiap tahunnya. Selain 
itu akan membunuh infrastruktur partai politik pada level paling bawah. Dimana 
selama ini DPR, kalau ingin mengambil aspirasi melalui anak cabang politik 
masing-masing.

Koordinator Advokasi dan Investigasi Sekretariat Nasional FITRA Uchok Sky 
Khadafi B. menambahkan, pengadaan penambahaan tenaga ahli berarti anggota Dewan 
mempunyai dua tenaga ahli. Padahal, dari pemantau Seknas Fitra, tenaga ahli 
tidak dimanfaatkan secara intelektual, tetapi kebanyakan digunakan hanya 
sekadar disuruh persis seperti office boy.

Sementara asuransi kesehatan anggota DPR dinilai sangat mahal. Setiap anggota 
DPR menerima asuransi kesehatan Rp 66 juta lebih per orang dengan fasilitas 
VVIP. Setiap bulan anggota DPR memperoleh asuransi kesehatan Rp 5,5 juta dari 
total anggaran asuransi DPR Rp 37,2 miliar.

Jika dibandingkan dengan asuransi orang miskin yang sudah dialokasikan Rp 5 
triliun. Anggaran itu kalau diberikan untuk 32,53 juta orang miskin, maka per 
orang menerima alokasi anggaran kesehatan hanya sekitar Rp 150 ribu tiap tahun. 
Sedangkan untuk satu bulan hanya Rp 12,809.

Fitra menilai seharusnya asuransi orang miskin yang mahal bukan anggota Dewan. 
Oleh karena itu FITRA merekomendasikan beberapa hal yakni menolak alokasi 
anggaran kenaikan DPR, kalau hanya untuk membuat rumah aspirasi, penambahaan 
tenaga ahli karena membebani keuangan negara untuk setiap tahunnya. Penambahaan 
anggaran DPR lebih baik direlokasikan kepada asuransi kesehatan masyarakat 
miskin.





<<23_31_4.gif>>

<<23_29_110.gif>>

<<23_28_100.gif>>

Attachment: sig.jsp?pc=ZSzeb097&pp=GRfox000
Description: Binary data

Kirim email ke