Celibacy Mungkin Perlu Untuk Cegah Korupsi !!!
                                              
Kalo urusan celibacy dalam agama Katolik, biarkanlah karena itu urusan internal 
mereka dalam memanage system-nya entah terkait atau tidak dengan agamanya, tapi 
betul2 urusan mereka yang tak bisa dikomentari apalagi ikut dicampuri.  Bahkan 
ngesex-nya juga bukan umat diluar yang jadi korbannya tetapi umatnya sendiri.

> "Tawangalun" <tawanga...@...> wrote:
> Biasa lah kalau dah konangan yo maaf
> maaf,tapi besuk pasti ngesex lagi,
> kecuali bila dibolehkan kawin dan
> Katolik jangan nganggap sex itu elek.
> 

Lain dengan kita yang beragama Islam, korban2nya bukan cuma ngesex saja tapi 
juga teror itu bukan cuma sesama Islam saja tapi semua jadi korban.  Lihat tuh 
nasib orang Yahudi, mereka tetap sampai mati akan bertahan mempertahankan tanah 
airnya yang mau dijarah Arab2 Islam.

Masalah Celibacy dalam katolik juga sama dengan masalah celibacy dalam agama 
Buddha.  Celibacy belum tentu terkait agamanya, kemungkinan besar lebiht 
terkait kepada managementnya, buktinya, umat Katolik sendiri boleh kawin, dan 
juga umat Buddha boleh kawin, yang tidak diperkenan kawin itu cuma pendeta2nya 
saja.

Sama di ABRI juga selama masuk AKMIL ada ketentuan tidak boleh nikah hingga 
lulus, barulah setelah lulus boleh nikah.  Yang kaya begini khan bukan urusan 
kepercayaan tapi urusan management pendidikan di AKMIL.

Sama dengan pastor atau pendeta Buddha, kalo sudah pensiun mereka boleh nikah 
tidak ada larangan lagi.  Tetapi selama masih aktif bekerja sebagai pendakwah 
agamanya mereka dilarang nikah, mungkin agar biayanya bisa hemat jangan 
korupsi.  Kita tahu pejabat2 juga banyak korupsi, mungkin harus dibikin UU 
bahwa semua pejabat tidak boleh nikah, dan boleh nikah kalo sudah tidak jadi 
pejabat lagi agar jangan korupsi.

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke