Refleksi : Diktator Argentina  bisa dipenjarkan, karena  Argentina bukan negara 
berazaskan hukum illahi. Di negeri berhukum illahi panca sila diktator 
kleptokratik beserta kakitangannya dilindungi hukum tidak bersalah dan korban 
yang berslah.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/22/03585051/diktator.argentina.dipenjara


Diktator Argentina Dipenjara
Terlibat 56 Kasus Penyiksaan di Campo de Mayo
Kamis, 22 April 2010 | 03:58 WIB

Buenos Aires, Rabu - Mantan Presiden Argentina yang juga dijuluki "Diktator 
Terakhir" Argentina, Reynaldo Bignone, divonis 25 tahun penjara, Rabu (21/4). 
Dia didakwa terlibat dalam 56 kasus kriminal, antara lain pembunuhan, orang 
hilang, penculikan, dan penahanan ilegal.

Tindak kejahatan itu dilakukan selama 7-8 tahun rezim militer, yakni tahun 
1976-1983. Dilakukan di salah satu pusat penyiksaan terbesar Argentina, 
tepatnya di pangkalan militer Campo de Mayo. Menurut laporan resmi, Bignone 
yang kala itu komandan pangkalan dan kemudian dijuluki "Diktator Terakhir" 
membunuh 13.000 orang. Hasil investigasi organisasi hak asasi manusia bahkan 
menyebutkan, ada 30.000 orang yang dibantai pada masa Bignone.

Jika umurnya panjang, Bignone baru akan bebas saat mencapai usia 107 tahun 
sebab kini dia berusia 82 tahun. Namun, kondisi fisiknya sudah renta untuk 
menjalani masa-masa sulit di penjara. Tindak kejahatan dilakukan Bignone atas 
kerja sama dengan beberapa perwira militer lainnya. Hakim juga menghukum lima 
jenderal militer lainnya dengan vonis penjara antara 17 tahun dan 25 tahun.

Keluarga korban puas

Putusan sidang pengadilan atas Bignone dan kawan-kawannya itu dibacakan hakim 
Marta Milloc di sebuah stadion di dalam ruangan. Selain wartawan, sidang 
putusan itu dipenuhi anggota keluarga korban kejahatan. Ketika palu hakim 
diketuk, yang memvonis para pelaku kejahatan termasuk Bignone, keluarga para 
korban langsung mengangkat foto korban dan memuji hakim.

Mereka puas. Hadir juga antara lain Menteri Kehakiman Julio Alak dan anggota 
sejumlah organisasi HAM. "Hari ini adalah hari baik bagi Argentina. Sebuah 
tonggak sejarah baru," kata Estela de Carlotto, pemimpin kelompok pembela HAM 
Grandmothers of the Plaza de Mayo.

"Kami sudah terikat perjanjian dengan pemerintah, tapi masih ada banyak hal 
yang harus dikerjakan. Masih ada ratusan orang lagi yang harus dijadikan 
terdakwa," katanya.

Bignone menduduki jabatan presiden pada periode 1 Juli 1982 hingga 9 Desember 
1983. Dia kemudian dihukum karena kejahatan yang dilakukan antara tahun 1976 
dan 1978 saat menjabat komandan pangkalan militer Campo de Mayo. Pria bernama 
lengkap Reynaldo Benito Antonio Bignone Ramayón itu tidak hadir saat vonis 
dibacakan dan berstatus tahanan rumah.

Dia diangkat menjadi presiden oleh junta militer pada tahun-tahun ketika 
kediktatoran mulai memudar. Pilihan jatuh ke tangan Bignone dengan suatu 
tujuan, yakni untuk melindungi militer karena Argentina sudah menghidupkan lagi 
demokrasinya.

Bignone memberikan amnesti kepada pelanggar HAM dan memerintahkan penghancuran 
semua dokumen yang berkaitan dengan penyiksaan. Selain itu, dia juga 
menyingkirkan semua lawan politiknya sebelum akhirnya menyetujui pengalihan 
kekuasaan kepada Raul Alfonsin yang terpilih secara demokratis.

Pengadilan dan Kongres Argentina akhirnya membatalkan amnesti. Penyelidikan 
atas kejahatan yang diduga dilakukan Bignone ketika menjadi salah satu pimpinan 
militer di pangkalan Campo de Mayo. Presiden Argentina Cristina Fernandez telah 
membuat prioritas di bidang hukum, yakni proses hukum atas pemimpin diktator 
itu harus segera dilakukan.

Terbukti terlibat 

Pusat Hukum dan Ilmu Sosial, serta sebuah kelompok HAM di Argentina 
menyebutkan, sebanyak 1.464 orang sudah resmi ditetapkan sebagai terdakwa. 
Mereka diduga terlibat dalam puluhan kasus kejahatan terhadap kemanusiaan 
selama periode kepemimpinan militer yang diktator. Sebanyak 74 orang di 
antaranya telah divonis.

Bignone yang lahir di Morón,, pinggiran barat kota Buenos Aires, tahun 1928 itu 
menolak bertanggung jawab atas serangkaian kejahatan yang didakwakan kepadanya. 
Dia mengatakan tidak pernah menghilangkan lebih dari 8.000 orang seperti yang 
didakwakan ketika menjadi komandan pangkalan.

"Kasus hilangnya seseorang selama masa damai adalah sebuah hal yang berbeda 
dari hilangnya seseorang di masa perang. Dua masalah itu berbeda satu sama 
lain," katanya.(AP/AFP/CAL)


Kirim email ke