> "sunny" <am...@...> wrote:
> Dari buku-buku, koran, dan majalah
> Eropa yang dibacanya, Kartini
> tertarik pada kemajuan berpikir
> perempuan Eropa. Sehingga,
> timbullah keinginannya untuk
> memajukan perempuan pribumi. 
> Kartini ingin wanita memiliki
> kebebasan menuntut ilmu dan
> belajar. Hukum pidana juga belum
> lengkap dalam melindungi individu,
> terutama kekerasan rumah tangga. 

Hari Kartini Bertujuan Memperteguh Kesatuan Bangsa
                                             
Tujuan utama dari peringatan hari Kartini adalah memperteguh kesatuan bangsa 
Indonesia, dan bukan sama sekali meng-kotak2 bangsa ini dalam kotak2 fanatisme 
agamanya.  Apalagi ada yang bertujuan untuk mengubah menjadikan figur 
Nasionalisme Kartini ini menjadi figur wanita Islam yang memaksakan 
pemberlakuan Syariah Islam di Indonesia ini.

Memang, sejak permulaan bangsa ini berdiri, ada sekelompok kecil yang berusaha 
memaksakan pemberlakuan Syariah Islam di Indonesia yang bertujuan meng-kotak2 
bangsa ini dalam perpecahan yang tidak akan ada habis2nya dalam menghambat 
kemajuan cita2 bangsa dalam tujuan mereka menjadikan bangsa ini sebagai sapi 
perahan bangsa lain melalui penjajahan agama kepercayaan yang sumbernya dari 
bangsa asing diluar Indonesia.


> "Greg Le Mond" <grek_2...@...> wrote:
> Ngomong sama muskitawati yang mau
> menang sendiri memang repot
> 

Iya.... masalah penilaian itu kita serahkan saja kepada masing2 pembacanya, 
yang penting tulisan itu ada dasarnya, tulisan itu bukan propaganda, tulisan 
itu bukan dakwah untuk menyebarkan agama, tulisan itu bukan dongeng, dan 
tulisan itu bukan bohong.


> "Y. Adam Prasetyo" <yadamp@> wrote:
> kalau ambil berita yang dari sumber
> yang benar, tau ga wikipedia ?


Sumber2 yang saya cantumkan hanyalah untuk memperkuat fakta2nya yang sudah ada 
yang umum diketahui masyarakat di Indonesia. Karena apa yang saya tulis itu 
khan bisa dianalisis dan dibandingkan dengan hal2 lainnya yang menyokong.  
Misalnya, Kartini yang juga menganut Buddha itu bukanlah hal yang aneh karena 
memang budaya Jawa berlatar belakang Hindu dan juga Buddha.  Lihatlah budaya 
jawa yang berkenaan dengan Wayang2 yang kita semua tahu berasal dari agama 
Hindu yang tetap melekat dalam jiwa setiap orang Jawa meskipun beragama Islam.

Dan kalo kita pelajari juga Islam Kejawen adalah Islam aseli Jawa, yang 
disebarkan oleh Wali Songo pertama kalinya yang berakulturasi dengan ajaran 
Buddha, Hindu dan berbagai kepercayaan2 kebatinan lainnya.

Jadi, Islam Kejawen yang dianut keluarga Kartini memang membuktikan bahwa 
Kartini pribumi Jawa, dan ini sejalan dengan kepercayaan umum Islam Jawa yang 
menolak ajaran2 biadab Islam Habib yang biasa memaksakan Syariah Islam.

Figure Kartini yang menganut tradisi, budaya, dan agama yang pluralistik ini 
bukan kebetulan, tapi memang dipilih Bung Karno untuk dijadikan tokoh, 
idealisme atau teladan wanita Indonesia yang mewakili bangsa dalam pembentukan 
nasionalisme kesatuan bangsa yang bukan untuk memecah belahnya.

Itulah sebabnya, tentu enggak bisa untuk idealisme wanita Indonesia ini dipilih 
tokok wanita Arab misalnya isteri2 nabi Muhammad untuk dijadikan teladan 
nasionalisme wanita Indonesia.

Kartini sebagai pemersatu bangsa memang pada kenyataannya diterima oleh semua 
agama, termasuk Islam, Nasrani, Buddha, Hindu, dan Animisme.  Kartini meskipun 
merupakan idealisme Indonesia yang berjiwa dan menganut tradisi maupun agama 
Timur, tetapi dia juga menerima pemikiran Barat.  Bahkan sikap pluralistik 
Timur inilah merupakan hasil dari interaksinya dengan pemikiran2 Barat.

Jadi sekali lagi, semua tulisan2 saya mengenai Kartini memang bertumpu dari 
kepentingan Nasional, bertumpu untuk kesatuan bangsa, bertumpu untuk memajukan 
kualitas wanita2 Indonesia melalui pendidikan yang sama dengan dibolehkan untuk 
laki2.

Jadi idealisme Kartini ini bukan dan jangan dijadikan propaganda agama apapun 
juga, apalagi untuk Islamisasi untuk mengubah bangsa ini menjadi sepecies orang 
Arab yang tidak ada darah Arabnya.

Jadi menyesatkan kalo ada yang mau menggunakan idealisme Kartini yang 
pluralistik ini untuk Islamisasi, Kristenisasi, ataupun Arabisasi, karena 
Kartini adalah idealisme wanita Indonesia yang fondasinya diletakkan oleh Bung 
Karno untuk memajukan wanita Indonesia dan melepaskan diri wanita itu dari 
penindasan2 masa lalu sejarahnya, baik itu oleh penjajahnya, ataupun oleh agama 
dan budayanya.

Jadi mohon dipahami, Kartini adalah tokoh Nasional, tokoh kebangsaan, bukan 
tokoh Agama, tapi tokoh pluralistik yang menerima semua agama secara sama tentu 
dengan kesediaan untuk memperbaiki segala kekurangan2nya demi tujuannya dalam 
memajukan bangsa ini.

Adakah anda sebagai bangsa Indonesia bisa meresapi dan menjiwai semangat 
Kartini untuk menjadi bangsa Indonesia yang bebas dari penjajahan ideologi Arab 
atau penjajahan fisik Barat ???  Disinilah letaknya kunci Nasionalisme 
Indonesia yang membedakan kita dari orang Malaysia meskipun sama rumpun 
Melayu-nya dan sama agamanya.

Ny. Muslim binti Muskitawati.









Kirim email ke