http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=showpage&kat=7

 
[ Sabtu, 24 April 2010 ] 


Kompleksitas Konflik Industri 
Oleh Novri Susan


HUBUNGAN kerja industri memiliki kompleksitas sumber dinamika seperti isu upah, 
kesejahteraan pekerja, dan identitas para pekerja. Sumber-sumber dinamika 
hubungan kerja tersebut mampu mendorong efektivitas proses industri sekaligus 
menciptakan konflik kekerasan yang mereduksi kualitas kerja industri. Itu bisa 
menyebabkan efek-efek tak produktif seperti berhentinya aktivitas perusahaan, 
kerugian ekonomis, dan merenggangnya kohesivitas sosial antar-pekerja. 

Konflik kekerasan yang terjadi di Batam pada 22 April tersebut merupakan bagian 
dari kompleksitas sumber-sumber dinamika hubungan industri. Diberitakan bahwa 
kerusuhan itu mengakibatkan sembilan pekerja perusahaan terluka parah. Enam 
orang di antara mereka berkewarganegaraan India dan sisanya WNI. 

Kerusuhan tersebut juga mengakibatkan sedikitnya 38 mobil rusak parah dan 
kerugian diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah (Jawa Pos, 23/4/2010). Hal 
terpenting dalam menghadapi fenomena kompleksitas sumber dinamika hubungan 
industri adalah seberapa jauh mekanisme damai di tingkat individual, kelompok, 
dan kelembagaan. Tanpa mekanisme damai, kekerasan selalu menjadi pilihan tak 
terelakkan.

Jejaring Identitas 

Konflik kekerasan dalam hubungan industri seperti yang terjadi di Batam 
merupakan pengaruh salah satu sumber dinamika hubungan industri, yaitu 
identitas. Identitas adalah pendefinisian terhadap diri dan kelompok yang 
direpresentasikan melalui beragam bahasa simbolis. Seperti pakaian, kesenian, 
kata-kata, nama, dan bendera yang selalu dimaknai adiluhung. 

Bahasa simbolis tersebut memiliki sifat dasar sosial dalam bentuk ingin diakui 
(recognized) sekaligus dipertahankan (defended). Franke Wilmer dalam The Social 
Construction of Man, State, and War (2002) menyebut sifat-sifat bahasa simbolis 
dari identitas tersebutlah yang mampu menciptakan kerentanan konflik (conflict 
vulnerability). Dalam kondisi yang berbagai sifat bahasa simbolis identitas 
beredar, berbagai kelompok dan sistem sosial seharusnya mampu mengakomodasi 
secara kreatif jika tidak ingin terjebak pada konflik kekerasan.

Batam merupakan area industri internasional yang di dalamnya berbagai identitas 
berhubungan melalui bahasa-bahasa simbolisnya. Ketidakmampuan mengakomodasi 
sifat dasar bahasa simbolis identitas tertentu bisa menyebabkan mobilisasi 
jejaring identitas dalam bentuk aksi kekerasan. Pada kasus di Batam, aksi 
kekerasan para pekerja Indonesia secara akademis adalah upaya mempertahankan 
identitas terhadap kekerasan yang diciptakan identitas lain. Kekerasan itu 
berbentuk tidak diakuinya identitas para pekerja. Misalnya, ungkapan ''semua 
orang Indonesia bodoh'', yang merupakan bentuk penolakan terhadap eksistensi 
identitas keindonesiaan para pekerja. Makna adiluhung keindonesiaan para 
pekerja secara kolektif dipertahankan (defended) melalui protes dan kerusuhan 
di lingkungan pabrik.

Walau demikian, kekerasan selalu memiliki konsekuensi destruktif yang merugikan 
kepentingan jangka panjang. Upaya mempertahankan eksistensi identitas dan makna 
adiluhungnya perlu dilakukan secara kreatif dan visioner. Dalam kasus di Batam, 
misalnya, ada konsekuensi destruktif yang pasti mengikuti. Misalnya, persepsi 
negatif investasi asing terhadap industri di Indonesia. Salah satu faktor 
mendasar arus investasi asing, selain kepastian hukum, adalah keamanan sosial. 

Ketika suatu negara dipandang tidak memiliki keamanan sosial, selalu dipenuhi 
konflik kekerasan dan kriminalitas tinggi, maka investasi asing sulit masuk. 
Akibatnya, laju pertumbuhan perekonomian makro terhambat dan jumlah usia 
pekerja sulit diserap struktur ekonomi. 

Mekanisme Damai 

Pilihan terhadap jalan kekerasan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, dalam 
sejarah hidup masyarakat, selalu diikuti penderitaan. Penderitaan itu 
disebabkan jatuhnya korban jiwa, luka-luka, kerugian material, dan trauma jiwa 
para korban. Pada saat bersamaan, cara kekerasan hampir sama sekali tidak 
menawarkan pemecahan masalah, tetapi menciptakan lingkaran balas dendam dan 
kebencian. Melihat konsekuensi destruktifnya, kekerasan seharusnya mulai 
dipahami bukan sebagai cara mempertahankan identitas atau memperjuangkan 
kepentingan lainnya.

Jalan damai dalam mencari penyelesain konflik (peaceful conflict resolution) 
lebih memberikan kesempatan kepada pemecahan berbagai isu konflik. Termasuk 
konflik dalam hubungan industri di negeri ini. Sayang, negara dan perusahaan 
belum memiliki kelembagaan mekanisme damai yang mampu mengelola sumber-sumber 
dinamika hubungan kerja industri secara komprehensif. UU No 2/2004 tentang 
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial lebih banyak mengatur 
penyelesaian konflik antara buruh dan perusahaan. Artinya, peraturan tersebut 
hanya mengelola salah satu aspek sumber dinamika hubungan kerja industri yang 
sebenarnya bersifat kompleks. Sebagaimana kasus di Batam, konflik industri 
terjadi karena faktor identitas, bukan isu upah pekerja. 

Selain kelembagaan mekanisme damai secara legal formal, pendekatan-pendekatan 
kultural dan keterampilan menyelesaikan konflik secara damai memiliki porsi 
penting. Kasus di Batam merupakan pelajaran penting bagi pemerintah dan 
perusahaan-perusahaan di negeri ini bahwa cara kekerasan bisa disebabkan 
ketidaktahuan cara menyelesaikan konflik secara damai. Kekecewaan dan kemarahan 
para pekerja tidak ditransformasikan menjadi bentuk tuntutan tanpa kekerasan. 
Seperti menggunakan jalur yudisial (hukum) atau menggunakan forum dialog untuk 
mencari penyelesaian konflik.

Kasus rusuh hubungan industri di Batam adalah bentuk tidak terkelolanya 
sumber-sumber dinamika hubungan kerja industri. Tidak tertutup kemungkinan 
kasus serupa akan terjadi di tempat-tempat lain di Indonesia. 

Membiarkan kemungkinan itu terjadi sama halnya dengan membiarkan negeri ini 
selalu menghadapi konsekuensi destruktif dari kekerasan. Kita tentu 
mengharapkan kekerasan bisa dieliminasi dari kehidupan berbangsa dan bernegara. 
Karena itu, negara dan berbagai elemen bangsa ini perlu berkomitmen dengan cara 
menciptakan mekanisme damai dalam setiap konteks hubungan sosial di Indonesia. 
(*)

*). Novri Susan, sosiolog konflik Unair dan kandidat PhD Doshisha University, 
Kyoto, Jepang

Kirim email ke