Pendukung Abbas Cuma 12% Tinggal Tunggu Bubar Saja
Syarat penting UN untuk pengakuan sebuah negara adalah bahwa negara tsb harus
menjunjung perdamaian dunia, menghormati kedaulatan negara lainnya termasuk
negara tetangganya. Termasuk disini adalah penegakkan HAM dan Demokrasi. Tentu
saja bahwa negara tsb harus mendapatkan dukungan mayoritas dari rakyatnya juga.
Jadi tanpa memenuhi syarat diatas, maka tidak ada negara yang bisa mendapat
pengakuan Internasional. Dan apabila tidak mendapatkan pengakuan
Internasional, maka negara tsb akan terkena sanksi embargo dalam semua
kebutuhan hidupnya seperti yang dialami Hamas sekarang ini.
Dari fakta2 diatas, marilah kita sama2 menganalisa masalah konflik Palestina
ini. Atas dasar "Camp David Agreement" telah disepakati semua pihak bahwa
negara Palestina akan berdiri diatas tanah Gaza dan Westbank. Untuk membantu
pelaksanaannya, UN dan dunia Internasional ber-sama2 Amerika maupun Israel
memberikan bantuan milyardan dollar untuk pembangunan sarana2 sebuah negara
sambil juga menyiapkan dana untuk dilakukannya pemilu dinegara yang baru ini.
Dari pemilu dihasilkan seorang presiden yaitu Yasser Arafat. Namun dalam
prosesnya yang sedang berjalan ini, Israel menemukan adanya penyimpangan dana
yang bukan digunakan untuk pembangunan sarana melainkan untuk pelatihan
terorist bomb bunuh diri yang telah membombardir keseluruh kota2 di Israel.
Setelah Yasser Arafat mati, dilakukan pemilu ulang dan Abu Abbas naik tahta
menjadi presiden yang baru.
Kelompok Hamas yang berada dibawah Abu Abbas ternyata menguasai parlemen yang
baru yang menolak "Camp David Agreement", dan mengubah tujuan negara Palestina
bukan lagi sebagai mewujudkan perdamaian melainkan mendeklarasikan pemusnahan
negara tetangganya Israel. Akhirnya, cikal bakal negara Palestina yang belum
berdiri ini pecah dua kelompok, yaitu kelompok Abu Abbas yang didukung
organisasi Al-Fatah, dan kelompok Meshaal yang didukung organisasi Hamas.
Abbas dengan Al-Fatah nya ini hanya mendapat dukungan 12% saja sehingga tanpa
perlu kita bahas lebih lanjut sudah dipastikan tidak memenuhi syarat bagi UN
untuk mendapatkan pengakuan sebagai negara.
Meshaal yang didukung organisasi Hamas, meskipun dianggap mendapatkan dukungan
88% mayoritas rakyatnya, tetapi dasar perjuangan negaranya adalah memusnahkan
Yahudi dan Israel. Tidak mengakui HAM dan juga tidak mendukung perdamaian
dunia. Hamas melandasi perjuangannya bukan untuk perdamaian tetapi "terror".
Akibatnya organisasi Hamas masuk dalam blacklist sebagai organisasi terorist
yang harus ditumpas dari muka bumi ini.
Kesimpulannya jelas, baik Abbas maupun Hamas, keduanya tidak mungkin bisa
mendapatkan pengakuan UN maupun Internasional untuk bisa berdiri sebagai sebuah
negara yang diakui.
Meskipun Abbas merencanakan mengundurkan diri dan melaksanakan pemilu yang baru
untuk mengumpulkan pendukung mayoritas terhadap Al-Fatah, ternyata dalam
pengumpulan pendapat secara rahasia oleh organisasi Internasional, dukungan
terhadap Al-Fatah tidak meningkat yaitu tetap cuma 12.2% tidak lebih meningkat.
Meskipun UN dan dunia Internasional masih memberi waktu kepada Abbas selama 2
tahun, namun sudah bisa diprediksi bahwa Abbas dan kelompok Fatah ini, tidak
akan bisa meningkatkan dukungan mayoritas, bahkan diyakini jumlah dukungan
terhadap Al-Fatah ini akan makin terjerumus dibawah 10%.
Sementara itu, Amerika berusaha memaksakan Israel untuk membuka kembali "peace
talk" dengan pihak Abbas. Tentu saja hal ini cuma menjadi pertanyaan Israel
kepada Amerika, apa artinya peace talk itu kalo Abbas tidak mewakili keinginan
mayoritas rakyatnya ??? Wajar kalo Israel enggak mau buang2 waktu melakukan
peace talk yang sama sekali tidak ada tujuan dan kegunaannya sama sekali.
Atas kenyataan2 inilah, UN, Amerika, dan negara2 Arab tidak memiliki alasan
kuat untuk memaksakan peace talk kepada Israel. Bahkan sekarang Israel
mengajukan ke UN, Amerika dan dunia Internasional untuk menghentikan semua
dukungannya kepada keduanya baik Abbas maupun Hamas. Hingga saat ini, Hamas
masih mendapatkan dukungan dari Iran, tetapi kalo sampai usul Israel diterima
UN, maka UN akan melarang semua anggautanya termasuk Iran untuk menghentikan
semua bantuannya tsb sehingga otomatis kedua wilayah Gaza dan Westbank yang
semulanya untuk berdirinya negara Palestina akan dibatalkan dan kembali dibawah
kekuasaan dan kedaulatan Israel. Dan apabila hal ini terjadi, maka Israel bisa
mengajukan dana kepada UN dan dunia Internasional untuk evakuasi memindahkan
semua orang2 Arab Palestina dari wilayahnya ke-negara2 Arab dan sekitarnya.
Karena mereka itu berada dibawah tanggung jawab UN dan dunia Internasional yang
selama ini memberikan dukungannya.
Demikianlah, dari hasil analisis diatas ini hampir bisa kita sama2 memastikan,
bahwa negara Palestina hanya impian atau angan2 yang tidak akan pernah menjadi
realitas.
Lalu bagaimana nasib orang2 Arab Palestina ini? Kemungkinannya tidak banyak,
tidak ada pilihan yang lebih tepat untuk mengevakuasi semua orang2 Arab
Palestina keluar dari wilayah Israel untuk ditempatkan sebagai immigrant
di-negara2 Arab sekitarnya.
Dana evakuasi inipun harus ditanggung oleh UN dan dunia Internasional karena
merekalah yang menjadi awal kemelut untuk menunjang berdirinya negara Palestina
ini, dan Israel pasti menolak untuk menerima orang2 Arab ini sebagai
warganegara Israel.
Ny. Muslim binti Muskitawati.