Kartini Bukan Ciptaan Belanda
                                                  
Kartini dilahirkan atau diciptakan oleh lingkungan yang membelenggu hak2 wanita 
oleh nilai2 Islamiah maupun tradisi budaya lingkungannya. Meskipun Kartini 
tunduk menjadi isteri keempat karena dipaksa kawin oleh orang tuanya, namun isi 
hati dan pikirannya memberontak, tapi bukan memberontak secara fisik.  Beliau 
memberontak melalui tulisan2nya yang bertebaran diseluruh dunia.

Oleh karena itu UU yang membolehkan Poligamy ini, jelas bertentangan dengan 
cita2 Kartini.  Perjuangan Kartini jadi dimentahkan dan direndahkan oleh 
bangsanya sendiri.

Jadi secara fisik, beliau tunduk dan patuh kepada kemauan orang tua, agama dan 
budaya lingkungannya, namun secara psikologis beliau berjuang dan mengajak 
untuk menghapuskan belenggu terhadap wanita ini diseluruh dunia.  Persamaan hak 
antara wanita dan laki2 menjadi fokus pokok pemikirannya dan semua tulisan2nya

Kartini bukan sosok politikus ataupun antek Belanda, juga dia tidak mengajak 
siapapun untuk memerangi ataupun membantu pemerintahan Belanda. Tetapi beliau 
murni merupakan sosok yang berjuang menegakkan emansipasi wanita diseluruh 
dunia yang mendapatkan pengagum2nya disemua negara2 diseluruh dunia terutama di 
negara2 Barat.

Kartini merupakan symbol perjuangan emansipasi wanita untuk seluruh dunia bukan 
cuma sebatas Indonesia saja.  Karena semasa hidupnya Kartini itu, belum ada 
berdiri negara Republik Indonesia.  Bahkan semasa hidupnya Kartini itu, beliau 
belum pernah mendengar nama negara "Indonesia".

Jadi sangat absurd kalo Kartini dianggap hanya sebagai pejuang untuk kebebasan 
wanita di Indonesia saja.

Yang menjadikan Kartini kemudian sebagai pahlawan bangsanya adalah Bung Karno 
yang secara resmi menobatkan Kartini juga sebagai pahlawan Nasional dikarenakan 
sikap Kartini yang turut serta mempopulerkan perjuangan kemerdekaan Indonesia 
meskipun tanpa beliau sendiri menyadarinya.

Kartini yang memiliki begitu luas hubungannya dengan dunia luar, telah meminta 
bantuan semua negara2 barat untuk membantu usahanya mendirikan sekolah2 di 
Indonesia untuk mendidik memajukan wanita2 Indonesia. Hal2 seperti inilah yang 
kemudian dirasakan Bung Karno telah mempermudah beliau untuk mendapatkan 
pengakuan Internasional terhadap kemerdekaan Indonesia.  Wajar kalo akhirnya 
Bung Karno mengangkat Kartini sebagai pejuang Nasional sebagai rasa terima 
kasih beliau atas perjuangannya dalam menunjang kemerdekaan negeri ini sehingga 
mempermudah pengakuan dunia Internasional.

Kalo ada yang menuduh sosok Kartini ini sebagai ciptaan Belanda, jelas tidak 
mungkin, karena secara politik Belanda sendiri tidak berkepentingan dengan 
apapun yang diperjuangkan Kartini.

Kartini menjadi sosok yang menarik dunia Barat karena emansipasi wanitanya yang 
sedang menggelora waktu itu didunia Barat sehingga tidak heran kalo Kartini 
menjadi pusat perhatian dalam emansipasi wanita yang sedang diperjuangkan di 
Eropah waktu itu.

Jadi sosok Kartini ini bukanlah hasil kerja rencana pemerintah Belanda, 
melainkan merupakan hasil dari kegiatan LSM di negeri Belanda yang ber-sama2 
dunia Internasional ingin mencari figure wanita di Hindia Belanda untuk juga 
memperkuat perjuangan wanita2 diBarat.  Kebetulan, isteri dari Menteri 
Pendidikan Hindia Belanda waktu itu justru teman baik dari Kartini, sehingga 
semua pemikiran2 Kartini berhasil diperolehnya secara utuh dan lengkap.

Oleh karena itu, salah kalo ada yang menganggap Belanda sengaja menciptakan 
sosok Kartini ini, karena Belanda sendiri secara politis tidak berkepentingan 
dengan munculnya atau lahirnya seorang Kartini.  Malahan sebaliknya, Bung Karno 
inilah yang merasakan pentingnya untuk mengangkat Kartini sebagai tokoh pejuang 
Nasional yang banyak membantu kemerdekaan RI melalui pengakuan dunia 
Internasional.

Seorang tokoh reformasi bisa diketahui dari isi pikirannya bukan dari tindakan 
kekerasan yang dibuatnya.

Begitulah dengan pejuang2 fisik wanita2 Indonesia yang begitu banyak ternyata 
tidak satupun yang bisa dilacak isi pikirannya karena memang tidak bisa menulis 
dan juga tidak bisa menerangkan landasan perjuangan fisiknya itu.

Semmua pejuang fisik wanita itu pada kenyataannya hanyalah dijadikan perisai 
oleh masing2 suaminya saja yang pada waktu itu sedang di-kejar2 Belanda.

Seperti juga negara2 Barat lainnya, maka pemerintah Belanda sangat menghormati 
dan melindungi Wanita, apalagi Wilhelmina Ratu Belanda turun menurun adalah 
wanita.  Itulah sebabnya, suami2 yang melakukan tindakan salah terhadap 
pemerintah Belanda biasanya memajukan isteri2 mereka untuk melawan Belanda.

Oleh karena itu, tidak pada tempatnya kalo pejuang2 fisik wanita itu diangkat 
jadi pahlawan bangsa, apalagi mau ditempatkan dalam posisi seperti Kartini, 
tentu sama sekali menyesatkan.

Penolakan segelintir tokoh2 diIndonesia terhadap perjuangan Kartini bukan 
disebabkan karena beliau diciptakan Belanda, melainkan karena Kartini bukan 
tokoh yang bisa digunakan untuk propaganda penegakkan Syariah Islam.

Kartini adalah tokoh Nasional dan Internasional bukan sektarian agama, Kartini 
justru merupakan figur yang pluralistik karena sewaktu beliau sekolah di 
Belanda ternyata beliau mengaku sebagai penganut Catholic yang rajin kegereja 
bersama teman2nya.  Sementara itu, dikampung halamannya sendiri dibelakang 
rumahnya ada kelenteng Buddha dimana beliau juga rajin bermeditasi disana dan 
mengaku sebagai penganut Buddha.

Tapi Kartini sendiri berasal dari orang tua yang turun menurun menganut Islam 
Kejawen yaitu Islam yang juga menganut nilai2 universal dari agama Buddha dan 
Hindu.

Ny. Muslim binti Muskitawati.



Kirim email ke