http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/bahas-tpnopm-muspida-papua-rapat-dadakan/
Senin, 26 April 2010 12:46
Bahas TPN/OPM Muspida Papua Rapat Dadakan
Jayapura - Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Papua menggelar rapat mendadak,
Senin (26/4), untuk membahas persoalan keamanan, menyusul adanya dokumen
TPN/OPM pimpinan Goliath Tabuni (berbasis di Puncak Jaya) yang menjadikan
gubernur dan wakil gubernur (wagub) Papua sebagai target.
Pertemuan ini juga dihadiri Muspida Puncak Jaya serta kapolda Papua Irjen
Bekto Suprapto dan Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Hotma Marbun.
Sebelumnya, Bupati Puncak Jaya Lukas Enembe mengungkapkan kepada wartawan
kalau dalam dokumen TPN/OPM, Gubernur Papua Barnabas Suebu dan Wagub Alex
Hesegem menjadi target utama pembunuhan. "Saya akan berbicara dengan Wagub
Hesegem untuk jangan sembarang mengeluarkan pernyataan karena sesuai dokumen
mereka yang saya baca, Pak Wagub masuk dalam daftar sasaran tembak kedua
sesudah gubernur," ungkapnya kepada wartawan di Jayapura.
Di tempat terpisah, saat ditanya wartawan bahwa dirinya menjadi sasaran tembak
kelompok Goliath Tabuni, Wakil Gubernur Papua Alex Hesegem tampak terkejut,
namun menyatakan terserah. "Terserah mau targetkan siapa," ujarnya sambil
berlalu meninggalkan wartawan.
Kekuatan TPN/OPM di Tingginambut sekitar 300-500 pasukan dengan 26 senjata api
laras panjang jenis SS1, M16, dan AK China. Beberapa waktu lalu, bersama
mantan Wakapolres Puncak Jaya Kompol Marcellis, mereka telah masuk ke lokasi
kelompok bersenjata itu. Enembe mengakui kalau dirinya pernah meminta aparat
TNI ditarik dari Puncak Jaya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui akar masalah
dari TPN/OPM yang kerap membuat ulah.
Sementara itu, dari Puncak Jaya dilaporkan bahwa ratusan warga Kampung
Puruleme, Distrik Mulia, Puncak Jaya, dan Distrik Mewulok mengungsi ke Kota
Mulia karena merasa tempat mereka sudah tidak aman lagi. Kepala Kampung
Puruleme Sem Talenggen mengungkapkan, warga sudah ketakutan tinggal di
kampung mereka. Selain takut kepada TPN/OPM, mereka juga takut dengan aparat
TNI/Polri karena mencurigai mereka adalah antek-antek Goliath Tabuni. Padahal,
sebenarnya warga juga sudah marah dengan aksi kelompok Goliath ini karena
mencuri ternak dan hasil kebun mereka.
"Mereka bicara cukup sekali saja dan harus kami ikuti. Kalau tidak, mereka bisa
bunuh dan kami harus bayar bila peluru mereka keluar. Satu peluru dihargai Rp 1
juta," ungkapnya. Masyarakat sebenarnya sudah sering lapor ke aparat, tetapi
karena medan berat, aparat jarang ke tempat mereka. (odeodata h julia)