Refleksi : Dikatakan bahwa bahasa bukan saja alat berkomunikasi, alat 
menyatakan perasaan serta pendapat, alat untuk memperkaya ilmu pengetahuan dan 
juga dalam pembentukan nasion dikatakan bahwa bahasa Indonesia adalah alat 
pemersatu. Kalau 73% murid tidak lulus ujian karena tidak memahami bahasa 
Indonesia, berarti pemersatunya itu tidak menemui sasaran yang ditujukan, lebih 
dari itu ialah  bahasa untuk menguasai ilmu yang dibutuhkan bagi perkembangan 
diri sendiri maupun untuk masyarakat, kebutuhan ini berada dalam stagnsi untuk 
perkembangan dan kemajauan guna menjadi negara yang layak bagi kehidupan 
warganegaranya. Stagnasi 60 tahun  membawa hasil diluar harapan. NKRI menjadi 
negara gagal [fail state].  Negara gagal mempunyai ciri-ciri utama,  antara 
lain,  kaum elit berkuasa beserta mereka di sekitar panggung kekuasaan sangat  
beruntung, sedangkan  rakyat bukan saja tidak beruntung, tetapi buntung hidup 
mereka. NKRI  terkenal sebagai negara terkorup di region Pasifik [Laporan 
terakhir dari PERC dan Transparancy International Coruption Perception Index 
2009], sekalipun demikian kekayaan kaum berkuasa meningkat drastis [Lihat Jawa 
Pos, tgl 6 Maret 2010].

http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=17552

2010-04-29
Ujian Nasional 73 Persen Ketidaklulusan Terganjal Bahasa Indonesia



[JAKARTA] Sebanyak 73 persen ketidaklulusan ujian nasional (UN) tingkat 
SMA/SMK/MA disebabkan siswa tidak lulus mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hal 
itu dinilai akibat sikap siswa yang menyepelekan mata pelajaran tersebut serta 
metode pembelajaran yang salah. Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh 
menyebutkan, kebanyakan peserta UN SMA yang tidak lulus harus mengulang mata 
pelajaran Bahasa Indonesia dan Biologi. Dari 154.000 siswa yang tidak lulus, 
sekitar 73 persen di antaranya mengulang pelajaran Bahasa Indonesia.Nuh 
mengemukakan, kementeriannya akan menganalisis mengapa para siswa tersebut 
gagal dalam pelajaran Bahasa Indonesia. "Apakah karena soalnya terlalu sulit, 
sebab tentang prosa banyak yang gagal. Kami akan evaluasi tingkat kesulitannya. 
Kami akan melihat spesifikasi gurunya, bahan pelajarannya apakah mereka 
kekurangan perpustakaan atau buku bacaan, kita akan berikan solusi," ucapnya.


Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Pembinaan Bahasa, Pusat Bahasa, 
Kementerian Pendidikan Nasional, Mustakim, di Jakarta, Kamis (29/4) menilai, 
faktor penyebab anjloknya nilai Bahasa Indonesia peserta UN tingkat SMA tahun 
ini, antara lain, siswa menyepelekan Bahasa Indonesia karena merasa sudah 
digunakan sehari-hari. "Faktor lainnya, kemungkinan metodologi pengajaran 
bahasa di sekolah lebih ber-orientasi pada tata bahasa, bukan bagaimana 
menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan baik dan benar," ujarnya."Kalau 
sampai nilai bahasa Indonesia anak-anak lulusan SMA/SMK rendah, ini sangat 
memprihatinkan dan sebuah ironi. Karena itu, Pusat Bahasa Kemdiknas akan 
melakukan penelitian mengapa ini terjadi," ujarnya. Dia menambahkan, Pusat 
Bahasa tidak dilibatkan dalam penyusunan soal UN mata pelajaran Bahasa 
Indonesia. 


Secara terpisah, mantan Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Muhammad 
Surya, yang kini anggota Dewan Perwakilan Daerah, mengharapkan ada telaah 
mendalam atas ketidaklulusan mata pelajaran Bahasa Indonesia.  "Kalau 
ketidaklulusan hanya di beberapa sekolah, kemungkinan sekolahnya yang kurang 
dalam pengajaran. Namun, karena bersifat massal dan nasional, tentu bukan 
sekolahnya yang salah, karena sekolah biasanya mengajar sesuai dengan 
kurikulum. Jadi, masalahnya kemungkinan besar pada pembuatan soal," katanya.


Dia memperkirakan, materi soal yang terlalu sulit mengakibatkan siswa tidak 
mampu menjawab. "Akibat sulitnya soal, tidak ada kesinambungan antara soal dan 
jawaban," ucapnya. "Biasanya dalam membuat soal ujian harus dibuat terstruktur, 
seimbang, dan mudah ditelaah oleh siswa," tambahnya. Surya tidak sependapat 
bila ketidaklulusan ini dihubungkan dengan rendahnya minat siswa untuk belajar 
bahasa Indonesia. Sedangkan Direktur Lembaga Pendidikan Teknos, Bagia Mulyadi 
menilai, anjloknya nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia, merupakan cerminan 
rendahnya minat siswa mempelajari bahasa nasional ini. Peserta didik lebih 
ditekankan untuk belajar Bahasa Inggris dan Matematika.


"Warga negara Indonesia merasa tidak perlu belajar bahasa Indonesia. Bahasa 
Indonesia adalah ilmu, dalam soal-soal UN, Bahasa Indonesia menguji tingkat 
analisa sintesa yang cukup mendalam, yang dibuat oleh para pakar sehingga 
anak-anak tidak menangkap maksudnya. Akibatnya, mereka salah 
menginterpretasikan," paparnya.
Menurut dia, kenyataan ini menunjukkan para guru tidak berhasil mengajar bahasa 
Indonesia. "Ke depan, Kemdiknas dan tenaga pengajar harus menekankan pelajaran 
Bahasa Indonesia sebagai ilmu bahasa. Menyejajarkan pelajaran Bahasa Indonesia 
dengan pelajaran lainnya," tandas Mulyadi. 


Menyangkut soal UN, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdiknas Mansyur 
Ramly menjelaskan, seluruh soal UN dibuat oleh para guru dan sesuai dengan 
kurikulum pendidikan nasional. "Ada standar isi, sebelum ujian kami sudah 
berikan ke semua sekolah namanya standar kompetensi kelulusan. Itu mengukur 
kemampuan dari mata pelajaran yang diujikan," tuturnya. 



Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Seluruh Indonesia dalam siaran persnya 
menyatakan, menolak UN sebagai satu-satunya standar kelulusan mulai 2011. 
Sebab, kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang menghendaki otonomi, 
tidak sinkron dengan UN sebagai sistem evaluasi berbasis nasional.


"UN ibarat tiang gantungan yang menahan laju pendidikan nasional. Bagaimana 
mungkin mengedepankan otonomi ketika sistem evaluasinya tetap berbasis 
nasional. Jadi, pemerintah wajib mengevaluasi kebijakan UN," kata Koordinator 
Pusat BEM Seluruh Indonesia Fiqi Akhmad, seusai bertemu Mendiknas Muhammad Nuh 
di Purwokerto, Jawa Tengah, Rabu.
Kontroversi seputar UN sebagai sistem evaluasi pendidikan berbasis nasional, 
tuturnya, belum menemukan simpul penyelesaian. Serangkaian tes kelulusan selain 
UN yang mengatasnamakan otonomi sekolah, seperti ujian akhir sekolah, uji 
kompetensi, tes akhlak dan sebagainya, sama saja tidak berguna ketika siswa 
tidak lulus UN. 
Sementara itu, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X 
mengungkapkan kekecewaannya menyusul kelulusan UN di daerahnya yang anjlok. 


Dia mengaku, peringkat ketidaklulusan siswa di daerahnya yang paling tinggi 
se-Jawa, membuatnya prihatin. "Terus terang saya betul-betul kecewa, tetapi mau 
bagaimana lagi? Sekarang yang penting semua pihak harus mengevaluasi sistem 
pengajaran," ucapnya. 
Sultan pun mengagendakan memanggil seluruh kepala dinas pendidikan provinsi, 
kabupaten dan kota untuk membahas berbagai persoalan dalam pelaksanaan UN. 
Menurut dia, selain harus mengevaluasi, persoalan yang paling penting adalah 
membantu para siswa yang tidak lulus UN. "Sekarang yang penting bagaimana 
menolong anak-anak yang dinyatakan tidak lulus itu. Jangan sampai mereka jatuh 
mentalnya dan justru kembali tidak lulus pada ujian ulangan," ucapnya. [M-15/N

Kirim email ke