http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2010050200515712
Minggu, 2 Mei 2010
BURAS
Manajemen Mutu Sekolah Lampung Zaman 'Doeloe'!
H. Bambang Eka Wijaya
"LAMPUNG, sebelum zaman merdeka punya sekolah dengan manajemen mutu yang
baik! Lulusan SMP (Tsanawiah) sekolah itu jika mau masuk setara SMA di Jawa
selalu lulus testing (matrikulasi) untuk langsung duduk di kelas dua!" ujar
Umar. "Sekolah itu, madrasah Muhammadiyah di Talangparis, dekat Bukitkemuning!
Otobiografi K.H. Arief Mahya, alumnusnya, mencatat sekolah ini didirikan Dr.
Rais Latief, alumnus Kairo (7 tahun) dan Mekkah (4 tahun), didukung guru
lulusan Kairo, Mekah, dan Perguruan Thawalib Padang Panjang!"
"Di seluruh Lampung pada 1920-an dan 1930-an itu, Perguruan Muhammadiyah
Talangparis satu-satunya sekolah setingkat SMP, selebihnya semua tingkat
sekolah rakyat. Tanpa kecuali di Telukbetung dan Menggala, tempat pemerintah
kolonial berkantor, yang ada cuma sekolah setingkat SD (ABS) berorientasi
Belanda khusus buat anak-anak ambtenar dan keluarga bangsawan!" sambut Amir.
"Pada Hari Pendidikan ini layak kita menarik hikmah dari manajemen mutu
pendidikan zaman doeloe itu, sebagai bandingan ketika meski kelulusan UN SMA
sederajat Provinsi Lampung 96%, passing grade-nya masih di bawah enam! Artinya,
belum sebaik mutu sekolah zaman doeloe yang matrikulasinya meloncat ke atas,
lebih tinggi satu kelas!"
"Apa yang membedakan mutu produk zaman doeloe dengan sekarang, jika
diyakini ketulusan pengabdian gurunya tak jauh beda?" tanya Umar.
"Ketulusan pengabdian guru saja tidak cukup!" jawab Amir. "Standar
kualitas para guru dan pimpinan sekolah, seperti dikesankan catatan Pak Arief
Mahya, tampak punya peran penting! Karena itu kepada para guru sekarang,
diharapkan serius berusaha meningkatkan mutu dan kemampuan bukan sekadar
memenuhi kredit sertifikasi agar dapat tunjangan guru bersertifikat!"
"Juga unsur pimpinan, baik di sekolah maupun di instansi pengelola
pendidikan, dituntut orientasi dan usahanya yang sungguh-sungguh untuk
meningkatkan mutu pendidikan!" timpal Umar. "Jangan berkelanjutan kesan
menjadikan dunia pendidikan cuma sebagai ladang proyek, hingga komersialisasi
pendidikan semakin kuat gejalanya! Iklim dunia pendidikan yang sedemikian
mungkin jadi pembeda pendidikan zaman doeloe dan sekarang, hingga mutu out
put-nya juga beda!"
"Iklim itu yang kini membuat murid dan orang tuanya jadi mumet, berakibat
konsentrasi belajar anak tak maksimal dan akhirnya berpengaruh pada kualitas
hasil didik!" tegas Amir. "Artinya, bagaimana gejala komersialisasi pendidikan
bisa dikurangi guna mendukung proses perbaikan mutu pendidikan dari sisi murid!
Tapi jelas sulit, ketika pendidikan telah menjadi komoditas, mutu dikaitkan
dengan harga!"
<<bening.gif>>
<<buras.jpg>>
