http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2010050300463315
Senin, 3 Mei 2010
BURAS
Kesejahteraan Buruh, Masih Terbelakang!
"NASIB buruh kita mirip sepak bolanya, semakin terbelakang!" ujar Umar.
"Pindahnya banyak pabrik dari Indonesia ke Thailand, Vietnam, dan China,
ternyata bukan semata karena buruh di negeri itu lebih murah! Justru di
negeri-negeri itu gaji buruh dan kesejahteraannya relatif lebih tinggi! Tapi,
perpindahan itu lebih sebagai akibat iklim usaha di negeri-negeri itu lebih
baik, industri tidak terjepit beraneka pungli dan terimbas kepentingan politik
penguasa!"
"Perpindahan banyak pabrik yang berakibat PHK massal itu melemahkan
bargaining kaum buruh, membuat nasib dan kesejahteraan mereka lebih buruk, dan
menyulutnya jadi beringas!" sambut Amir. "Sementara industrinya belum bisa
lepas dari jerat pungli, imbas kepentingan penguasa untuk meraih dukungan suara
buruh di pemilu dengan peraturan PHK buruh amat memberatkan pengusaha, membuat
pengusaha semakin tak berdaya meningkatkan upah buruh!"
"Pokoknya, segala permasalahan yang tak teratasi dan terselesaikan oleh
pemerintah itu secara simultan bersimpul pada nasib buruh yang kian buruk!"
tegas Umar. "Maka itu, guna memperbaiki kesejahteraan buruh sesuai tuntutan
pada Hari Buruh Sedunia 1 Mei lalu, diperlukan keberanian pemerintah mengurai
satu per satu faktor yang jadi penyebab buruknya nasib buruh! Terutama, usaha
melepaskan satu per satu belitan masalah terhadap industri, agar membuatnya
lebih bisa bernapas dengan kelonggaran untuk memberi lebih besar porsi bagian
buruh dalam proses industrial!"
"Untuk itu pemerintah perlu menyimak saksama hasil survei dan kajian
lembaga-lembaga nasional dan internasional terkait sistem ekonomi, politik, dan
birokrasi, termasuk yang berkesimpulan Indonesia negara terkorup di
Asia-Pasifik!" timpal Amir. "Dalam setiap survei terdapat komponen-komponen
yang mencerminkan keterpurukan! Jadi, perbaikan dilakukan pada
komponen-komponen tersebut! Bukan malah menganggap hasil-hasil survei itu
semata mendiskreditkan pemerintah--lalu direspons tak semestinya! Hasil survei
yang memuji-muji saja yang direspons, meski terbukti semakin menjerumuskan!"
"Dari sisi buruh juga sering ironis, hasil survei yang realistis distigma
neolib, padahal negara semakin terbenam dalam neolib sehingga jalan keluar
neolib pula yang lebih cocok!" tukas Umar. "Gejala itu tambah kontras ketika
pilihan jalan keluar yang ditonjolkan condong ke sosialis! Akibatnya nasib
buruh kian terpuruk, terjepit di tengah benturan ideologis!"
H. Bambang Eka Wijaya
<<bening.gif>>
<<buras.jpg>>
