Refleksi :  Masyarakat ataukah para petinggi penguasa negara yang tidak 
mempunyai kepatuhan dan etika? Bukankah salah satu tugas para petinggi  negara 
ialah berfungsi sebagai pembimbing, kalau pembimbing  tak becus, maka 
masyarakat bukan saja kacau balau tetapi juga ditimpa dan dibebankang berbagai 
kemalangan nasib buruk. akibat korupsi dikalangan para petinggi negara.

http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=54148:presiden-kepatuhan-masyarakat-pada-aturan-belum-tumbuh&catid=3:nasional&Itemid=128

      Presiden: Kepatuhan Masyarakat pada Aturan Belum Tumbuh      

      Jakarta, (Analisa)

      Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai, etika dan kepatuhan masyarakat 
pada aturan masih kurang dan belum tumbuh dengan baik sehingga bisa menciptakan 
ketidaktenteraman dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

      "Yang sama-sama kita rasakan kurang dan belum tumbuh baik adalah etika 
dan kepatuhan pada aturan. Kalau hal ini dibiarkan, kehidupan politik dan 
demokrasi akan pincang dan tidak menghadirkan ketentraman dalam kehidupan 
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara," kata Presiden saat membuka Kongres 
Umat Islam Indonesia V di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Jumat.

      Dengan kondisi itu, katanya, menjadi kewajiban bersama utamanya para 
pemimpin untuk bersama-sama berikhtiar dan bertindak nyata untuk membangun 
kepatuhan masyarakat kepada aturan, etika, dan pranata. Menurut Presiden, napas 
dan nilai utama demokrasi adalah kebebasan dan aturan atau kepatuhan kepada 
pranata, termasuk pranata hukum, pranata agama dan pranata sosial.

      "Dewasa ini kita menyaksikan dan merasakan kebebasan yang telah tumbuh 
dan berkembang seperti kebebasan berbicara, kebebasan berkumpul, kebebasan 
dalam pemilu, kebebasan pers dan kebebasan lainnya. Tentu saja ini suatu 
capaian dan langkah maju dibandingkan apabila sebuah negara kering kebebasan 
dan hidup bagai belenggu," kata Presiden.

      Presiden hadir didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri 
kabinet seperti Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri BUMN Mustafa Abubakar, 
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar dan Mensesneg Sudi 
Silalahi, Menteri Agama Suryadharma Ali dan Seskab Dipo Alam.

      Ketua Umum MUI MA Sahal Mahfudh dalam sambutannya menyampaikan bahwa 
Kongres Umat Islam kelima diharapkan dapat mencari solusi dari permasalahan 
kemajemukan yang sangat tinggi umat Islam di Indonesia.

      Menurutnya, umat Islam memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk 
berperan lebih besar dalam menentukan gerak pembangunan bangsa. "Untuk itu 
diperlukan adanya sinergi antar komponen umat Islam di Indonesia yang memiliki 
kemajemukan yang sangat tinggi dari aspek suku, bahasa, afiliasi politik, paham 
keagamaan dan pilihan strategi perkhidmatan dan amal usaha," katanya.

      Sebagai jalan keluar, diperlukan adanya kepemimpinan yang kuat dan saling 
bersahabat di kalangan umat, sehingga kemajemukan yang ada dapat diramu menjadi 
daya dorong untuk menciptakan upaya-upaya pemberdayaan umat dan bangsa baik 
dalam bidang sosial, ekonomi, politik, hukum, ilmu pengetahuan dan teknologi 
serta kehidupan beragama.

      Kongres yang merupakan forum antarormas dan kelembagaan Islam di 
Indonesia ini, lanjutnya, juga diharapkan dapat merumuskan pokok-pokok pikiran 
sebagai titik tolak melakukan pemberdayaan pada umat dan bangsa ini. (Ant 

Kirim email ke