Refleksi : Tak perlu diherankan, ini adalah soal biasa yang harus dialami, 
karena  sesuai politik kesehatan rakyat rezim feodal neo-Mojopahit. Malapetaka 
demikian dan sejenisnya  yang menimpa rakyat bisa dihindari apabila kekuasaan 
rezim feodal neo-Mojopahit  dibebaskan dari segala tugas bersama pendukungnya, 
yaitu kaum ilmu langitan yang membodohkan dan menipu rakyat kedalam jurang 
kemiskinan dan penderitaan untuk tak terhingga waktunya.

http://www.tribunnews.com/2010/05/09/astaga-tiap-1-jam-2-ibu-meninggal

Astaga! Tiap 1 Jam, 2 Ibu Meninggal
Tribunnews.com - Minggu, 9 Mei 2010 09:38 WIB
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Apakah Anda mengetahui berapa jumlah kematian ibu 
saat melahirkan? Indonesia mencatat angka yang luar biasa. Bayangkan saja, 
setiap satu jam, dua orang ibu meninggal saat melahirkan. 

"Penyebab langsung terbesar kematian ibu adalah pendarahan," kata Ketua Aliansi 
Pita Putih Indonesia (APPI) Pandi MPH, saat melakukan aksi bersama Kongres 
Wanita Indonesia (KOWANI) bertema "Stop Kematian Ibu", di Bunderan Hotel 
Indonesia, Jakarta, Minggu (9/5/2010). 

APPI merupakan sebuah organisasi yang menaruh perhatian besar terhadap kematian 
ibu dan bayi. Menurut Pandi, aksi ini untuk membangkitkan kepedulian masyarakat 
untuk mengurangi kematian ibu dan bayi. 

Dikatakan Pandi, jumlah kematian ibu mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup 
pada 2009. Jumlah ini mengalami penurunan signifikan dibandingkan pada tahun 
2007 yang jumlah kematian ibu mencapai 307 per 100.000 kelahiran hidup. "Di 
seluruh dunia, setiap satu menit terdapat satu orang ibu meninggal. Afrika 
menjadi negara yang paling tinggi," terang Pandi. 

"Sementara di Indonesia, tingkat kematian ibu cukup tinggi terdapat di provinsi 
Jawa Barat, Irian Barat, dan Kalimantan Barat," tambahnya. 

Selain pendarahan, Pandi mengungkapkan, kematian ibu disebabkan oleh beberapa 
faktor yaitu, terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak anak, dan terlalu 
sering melahirkan. "Penyebab tidak langsung lainnya, terlambat mengambil 
keputusan, terlambat transportasi, dan terlambat penanganan," tegasnya.

++++

Kirim email ke