Islam mengajarkan kebersihan kepada umatnya, oleh karena itu kotoran dan segala yang kotor tidak boleh bertebaran, harus dibuang keparit. Dan parit itu memang tempat kotoran !!!
Tapi tentunya orang yang berpikiran maju maupun di-negara2 maju, ajaran Islam seperti ini ditolak tidak mungkin diadopsi. Kalo dalam Islam yang bertugas menggali atau membuat parit selalu tawanan untuk kemudian dipenggal kepalanya dan dibuang ke parit. Begitulah dulu nasib orang2 Jawa yang sial nasibnya dituduh PKI, mereka digiring menggali parit sebelum dipenggal atau ditembak. Akibatnya mayat dan kepala tanpa badan mengambang memenuhi kali bengawan solo. Jadi memang parit itu tempatnya membuang mayat2 kafir, mayat2 haram yang kotor dan menjijikan. Jadi parit itu multifungsi, bisa jadi tempat sampah, juga bisa jadi kuburan, atau bisa jadi jebakan. Semua itu akan diajarkan kalo anda mau bergabung dilatih menjadi kemanten komando jihad bunuh diri Islamiah. Ny. Muslim binti Muskitawati. --- In [email protected], "sunny" <am...@...> wrote: > > Refleksi : Kalau manusia dibodoh atau membodohkan dirinya untuk merugikan > diri sendiri dan sesamanya, maka bukan saja parit, tetapi sungai dan lautan > dijadikan temopat sampah . > > http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=57754:parit-bukan-tempat-sampah&catid=92:surat-pembaca&Itemid=131 > > > Parit Bukan Tempat Sampah! > > > Melalui Surat Pembaca ini, saya ingin membagikan informasi yang > memprihatinkan. Sebagai mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU), saya > sering membeli jajanan yang terdapat di depan kampus USU, tepatnya di sekitar > jalan dr. Mansyur Medan. > > Tentunya, orang-orang yang sering melewati jalan tersebut juga sudah > tahu mengenai banyaknya penjual makanan di sana. Makanan yang dijual cukup > bervariasi, seperti siomay, bakso, roti, dan sebagainya. Dengan harga yang > terjangkau untuk kalangan mahasiwa, cukup banyak orang yang mengunjungi > tempat tersebut baik untuk jajan maupun sekedar nongkrong. > > Makanan tersebut tidak terbatas hanya pada kalangan mahasiswa, tetapi > juga para pekerja yang baru pulang dari kantor. Mereka sering singgah untuk > menikmati hidangan yang ada. > > Akan tetapi, sangat disayangkan bahwa para penjual makanan tersebut > membuang sampah sembarangan. Sisa-sisa makanan dibuang begitu saja ke dalam > parit yang ada di depan kampus USU. Demikian juga dilakukan oleh para > pelanggan ataupun orang yang lalu lalang. Saya kurang tahu apakah mereka > sering melakukannya. Yang jelas, saya pernah melihat mereka membuang sampah > ke dalam parit. > > Walaupun parit itu cukup besar, bukan berarti parit tersebut digunakan > sebagai "tempat sampah". Jika hal tersebut terus-menerus dilakukan, > kemungkinan besar parit tersebut tumpat dan menyebabkan banjir. > > Harus kita ingat bahwa fungsi parit adalah tempat mengalirnya air, > bukan tempat sampah. Kita semua tentu pernah mendengar slogan "Buanglah > Sampah pada Tempatnya". Tetapi, mengapa masih saja susah dilakukan? > > Kota ini adalah milik kita bersama. Oleh karena itu, haruslah kita > jaga. Salah satu cara yang paling sederhana adalah tidak membuang sampah ke > dalam parit, melainkan membuang sampah pada tempatnya. > > Apabila seluruh masyarakat kota Medan melakukan hal terpuji ini, kota > yang bersih bukanlah mimpi lagi. > > Akhir kata, semoga para pembaca terbuka mata hatinya untuk membuang > sampah pada tempatnya. Juga, ajarkanlah pada anak-anak sejak dini untuk > membuang sampah pada tempatnya, yaitu tong sampah. > > Princen > > Jln. Suasa No. 7 / 7 A, Medan >
