http://www.sinarharapan.co.id/berita/content/read/lelang-tembakau-sumatra-di-bremen-berakhir/

Senin 21. of Juni 2010 09:18 
LELANG TEMBAKAU SUMATRA DI BREMEN BERAKHIR


     
London - Acara lelang tembakau Sumatra dan Jawa di Bremen, Jerman yang digelar 
setiap tahun di Tabak Bursa Bremen, Jerman, tampaknya mendekati akhir 
kejayaannya menyusul banyaknya kampanye anti merokok khususnya di Eropa.




Sehari menjelang digelarnya lelang tembakau tahunan asal Indonesia di Tabak 
Bursa Bremen itu para calon peserta lelang yang terdiri atas makelar tembakau 
dan pabrikan cerutu merasa khawatir bahwa lelang tersebut menjadi lelang 
terakhir di gedung yang dibangun pada 1959 itu. 

Keterangan yang diperoleh dari koresponden Gatra Miranti Soetjipto di London, 
Senin menyebutkan, pada lelang tembakau Bremen pekan lalu itu berhasil menjual 
semua sajian tembakau yang ditawarkan. 

Nilai penjualan 1.126 bal (setara dengan 83,954 ton) tembakau Sumatra senilai 
2,23 juta euro sementara penjualan 554 bal/karton tembakau Jawa senilai 980.000 
euro. 

Harga per bal naik tipis bagi tembakau Sumatra dibanding tahun lalu. Tembakau 
Deli yang dilelang tersebut merupakan produksi musim tanam 2009 sebanyak 257 
bal atau sekitar 19.769 kilogram dan sisa hasil lelang 2009 sebanyak 99 bal, 
ditambah sisa produksi 2008 yang belum terjual sebanyak 770 bal. 

Menurut pengamatan Miranti, kekhawatiran tersebut tampak pada setiap 
pembicaraan pada pertemuan para pelaku industri cerutu di ruangan lelang yang 
suhunya diatur persis seperti di ruang penyimpanan tembakau di Medan. 

Pieter Van Der Kroft, warga Belanda ahli tembakau generasi ketiga dalam 
keluarganya itu yang setia mengikuti lelang tembakau Bremen sejak 1965, melihat 
situasi lelang tembakau Bremen sama seperti halnya saat saat sebelum ditutupnya 
lelang tembakau Kamerun di Paris pada 1988. 

"Situasinya mirip. Saat itu perusahaan mengirimkan makin sedikit orang ke Paris 
untuk membeli jumlah yang makin sedikit, karena biayanya terlalu mahal. Sejak 
lelang tembakau Kamerun ditutup, mereka membeli tembakau secara langsung ke 
Negara Negara Afrika," ujar Pieter. 

Sementara itu menurut Binette Brasser, pemilik pabrik cerutu Olifant, generasi 
keempat permintaan terhadap tembakau Sumatra masih tinggi. Belanda berharap 
agar tembakau Sumatra akan dijual layaknya tembakau Jawa bila sistem penjualan 
tembakau Sumatra lewat lelang terpaksa dihentikan. 

Ia berharap tembakau Sumatra masih bertahan di masa depan karena sangat penting 
bagi produksi cerutunya. 

Direktur utama PT. Nusantara II Subiyanto mengatakan ia merasa puas karena 
pihaknya dapat menjual semua sajian tembakau dan harganya jauh lebih baik dari 
tahun lalu. Adanya kekhawatiran kemungkinan tiadanya lelang tembakau Bremen, 
Subiyanto merasa yakin kemungkinan itu tidak akan mengganggu penjualan tembakau 
Jawa ke Eropa karena pihaknya telah banyak melakukan penjualan secara langsung. 

Kekhawatiran para pelaku industri cerutu Eropa ini akhirnya terjawab sehari 
setelah lelang dilaksanakan. Para pemegang saham tabak bursa dari pihak 
Indonesia dan Jerman telah bertemu dan membicarakan masa depan lelang tembakau 
Bremen. 

Keputusan pahit tidak terelakkan, mereka sepakat untuk mengakhiri cara 
penjualan tembakau yang selama 52 tahun dilaksanakan dengan jalan lelang. 

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Direktur Utama PT. Perkebunan Nusantara II 
Tanjung Morawa Medan mengatakan keputusan berat itu merupakan hasil 
pertimbangan masak dan juga sebagai masukan dari berbagai pihak pabrikan cerutu 
di Eropa. 

Dikatakannya agenda utama mereka adalah evaluasi perusahaan yang ada di Jerman, 
baik DITH maupun Bremen Tabakboerse, dalam pertemuan itu bahwa pemegang saham 
baik pihak Indonesia maupun pihak Eropa sepakat perusahaan tidak dapat 
mempertahankan terus karena dalam tiga tahun sudah mengalami kerugian berturut 
turut dan sudah memakan cadangan umum. 

Sementara itu Dirut PT. Perkebunan Nusantara II, Bhatara M Nasution mengatakan 
bila tidak bisa menggunakan instrumen lain baik itu penjualan langsung maupun 
"letter of Intent", maka yang dapat dipastikan adalah dapat tetap melakukan 
produksi dan menanam tanpa mengalami kerugian. 

Pihaknya menyadari, untuk menghasilkan untung besar masih memerlukan perjalanan 
panjang. Untuk menghindari stagnasi penjualan pada tahun depan, PT. Perkebunan 
Nusantara II terus mengadakan pembicaraan dengan rekanan dan pembeli di Eropa. 

Kepala gabungan perusahaan perkebunan Indonesia, Soedjai Kartasasmita 
mengatakan, GPPI yang telah mengikuti lelang tembakau Bremen sejak berdirinya 
menyebutkan pihak Jerman menyambut keputusan tersebut dengan lega. 

Mereka menyadari berbagai masalah pada industri tembakau seperti kampanye anti 
merokok dan menyusutnya lahan lahan perkebunan tembakau di Sumatra. 

"Sebetulnya apa yang diputuskan RUPS menandakan jaman telah berubah. Dengan 
menyusutnya konsumsi cerutu, maka sudah tidak ekonomis lagi kalau dipasarkan di 
sini." 

Ia berpendapat PTPN II sebagai produsen membentuk keagenan di Bremen untuk 
melayani pembeli Eropa. Secara pribadi, ia dan semua peserta yang mengikuti 
RUPS mengakui merasa sedih bahwa tradisi lelang tembakau Bremen yang sudah 52 
tahun terpaksa diakhiri. (ant)

Kirim email ke